Neutron Yogyakarta
Metro Pekalongan

Belajar Metode Dakwah Nabi, Berkolaborasi dengan Pengusaha

PCM Timur

MENGGUGAH – Pimpinan Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi bersama Teguh Suhardi memberi closing class yang menggugah antusiasme peserta sekolah tabligh ramadhan, Ahad (10/6).
M. AINUL ATHO

Setiap ulama, dai, dituntut memiliki spektrum wawasan keilmuan dan jejaring yang luas guna menunjang kesuksesan dakwahnya. Belajar dari sunah dakwah Rasulullah Saw, pejuang dakwah harus mau berkolaborasi dengan pengusaha.

Demikian pesan Pimpinan Pondok Modern (PM) Tazakka, KH Anang rikza Masyhadi MA dan praktisi bisnis H Teguh Suhardi saat memberikan sesi kelas terakhir Sekolah Tabligh Ramadhan 2018 yang diselenggarakan PCM Pekalongan Timur, Ahad (10/6) sore.

Menurut Anang, tidak ada satu nabi dan rasulpun yang aktivitas dakwahnya mulus. Perjuangan mereka menegakkan nilai-nilai ilahiyah tak pernah luput dari tantangan, dan musuh-musuh. “Bahkan, musuhnya orang-orang besar, para penguasa, pemodal, dan tokoh masyarakat yang kuat pengaruhnya. Ini sunnatullah dan pasti ketetapan itu juga berlaku untuk setiap kita yang menekuni jalan dakwah,” ungkapnya.

Namun demikian, alumnus Gontor, Al Azhar dan UGM itu juga meyakinkan bahwa setiap kisah perjuangan nabi/rasul juga memberikan perspektif untuk pembelajaran. Karena itu, dakwah haruslah memiliki visi.
“Membuat kapal di dataran tinggi yang jauh dari pantai dan dalam suasana musim panas adalah visi bagi Nabi Nuh, tetapi dinilai fiksi oleh kaumnya yang ingkar. Yakinlah, hampir semua nabi dan rasul pada endingnya menang dengan hasil akhir yang membalik logika para penentangnya,” jelas Anang.

Dia menyimpulkan, sunah rasul dalam pergerakan adalah selalu didampingi pengusaha. Ulama, pejuang dakwah harus kolaboratif dengan pengusaha. “Di Mekah ataupun Madinah, Nabi selalu dikelilingi pengusaha. Bahkan, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, 6 di antaranya adalah pengusaha,” tandasnya.

Teguh Suhardipun mempertegasnya. Kata dia, kolaborasi ulama-pengusaha adalah formasi terbaik untuk berdakwah. Tak terkecuali Kiai Ahmad Dahlan yang juga melibatkan pengusaha saat mendirikan persyarikatan Muhammadiyah. “Formasi itu ada dari kepengurusan tingkat pusat sampai daerah. Karena sirah nabawiyah bicara begitu, pengusaha dilibatkan aktif dalam aktivitas dakwah,” ujarnya.

Suksesnya gerakan dakwah karenanya tidak bisa tidak haruslah ditopang oleh kolaborasi ulama-pengusaha. Saat menikah dengan Khadijah, Muhammad bukan sekadar CEO, tetapi juga pemilik saham. “Sejak belia, Nabi telah ditempa dengan mental pengusaha. Memulai dengan magang pada pamannya, lalu bekerja pada Ibrahim, menjadi CEO dan akhirnya memiliki saham sendiri,” ucapnya.

Sekolah Tabligh Ramadhan sendiri digelar sejak 26 Mei sampai 10 Juni 2018. Ada 11 sesi kelas pembelajaran yang menghadirkan narasumber berkompeten di bidangnya, dari akademisi, mubaligh, trainer, praktisi politik, hingga praktisi bisnis. Materinya juga dibuat dengan merespon perkembangan mutakhir. Ada puluhan peserta yang mengikuti kegiatan ini mewakilii utusan se Kota Pekalongan.

“Ada banyak tantangan dakwah yang dihadapi ormas Islam, termasuk Muhammadiyah. Dari krisis mubaligh, perkembangan masyarakat digital, munculnya revivalisme dan liberalisme dan lainnya. sekolah tabligh adalah bagian dari upaya kami untuk merespon dinamika dakwah kontemporer,” kata Ketua PCM Pekalongan Timur, Slamet Mahfudh, BA. (nul)

Facebook Comments