Neutron Yogyakarta
Radar Pendidikan

Maksimal Bimbing dan Dampingi Siswa

Yazirotul Khoiridah, Pengajar MI Salafiyah Tegaldowo

Yazirotul Khoiridah, Pengajar MI Salafiyah Tegaldowo

TIRTO – Menjadi pengajar di satu madrasah terdampak rob, rupanya memiliki tantangan tersendiri bagi Yazirotul Khoiridah. Pembimbingan serta pendampingan yang diberikan berbeda dengan model pembelajaran guru di madrasah maupun sekolah lain.

“Harus maksimal, terutama untuk mengajak anak belajar. Kita harus bisa menjaga semangat anak-anak, bagaimanapun kondisinya,” ujar salah seorang pengajar di MI Salafiyah Tegaldowo, Yazirotul Khoiridah, kepada Radar Pekalongan ketika ditemui disela-sela jam pelajaran.

Ia mengungkap, air rob rupanya telah menjadi teman akrab bagi siswa maupun guru di MI Salafiyah Tegaldowo. Terlebih madrasah mereka terletak di lokasi yang terdampak rob cukup parah. “Untuk sekolah dasar/ madrasah tsanawiyah, memang disini kemungkinan yang kondisinya paling parah. Karena air sempat setinggi papan tulis,” jelasnya.

Dengan kondisi madrasah yang cukup memprihatinkan membuat pihaknya terpaksa harus memindahkan aktivitas belajar siswa di Masjid Al Ikhlas dan harus bergantian dengan para pengungsi lainnya. Diceritakan, tak jarang para siswa MI satu-satunya di Tegaldowo tersebut mengaku sulit untuk belajar meski mereka harus mengikuti Ujian Kenaikan Kelas. “Mereka bilang jujur kalau memang tidak belajar dirumah, kondisinya memang sulit. Jadi tugas kami bapak/ibu guru disini untuk menjaga semangat anak-anak untuk terus belajar,” kata dia.

Ia menuturkan, dimanapun dan bagaimanapun tempatnya kegiatan belajar mengajar tidak boleh terhenti. Para siswa tetap berhak menerima pelajaran serta ilmu-ilmu dari bapak dan ibu guru di madrasah. Hal itu pula yang membuat pihak MI Salafiyah Tegaldowo tak pernah meliburkan para siswanya meski banjir air rob menerjang dan menerobos bangunan madrasah mereka. (mg5)

Penulis: Eka Isditya | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments