Neutron Yogyakarta
Lain-lain

Review Sepeda: London Taxi

Fungsi

Bicara tentang sepeda London Taxi, tentunya model klasik bukan satu-satunya alasan mengapa saya memilihnya. Karena kalau hanya dari modelnya yang klasik, tentu saya mungkin akan lebih memilih sepeda onthel jadul dengan versi harga yang lebih terjangkau dan sudah jelas-jelas klasik. Tapi, saya lebih melihat dari sisi fungsinya. Terutama di bagian groupset-nya, gear-nya, atau biasa kita sebut sebagai operan gigi untuk istilah awamnya. Tentu saja hal ini turut mempertimbangkan kontur jalanan di sekeliling kota Bandung yang memang naik turun dari sononya. Bisa dibayangkan kalau pakai gear konvensional seperti yang ada pada sepeda-sepeda onthel jadul pada umumnya. Pas turun mungkin terasa mantab. Tapi begitu jalanan nanjak bisa-bisa lutut rontok bagi yang tidak terbiasa bersepeda.

Desain

Untuk desain, terus terang saya acungi jempol. Sepeda ini desainnya tidak biasa. Lumayan eye-catching.. eh, atau eye-catchy ya? Pokoknya begitulah. Dari beberapa kali pengalaman ketemu orang, biasanya ada saja yang berkomentar dan nanya-nanya: “Sepedanya bagus Mas, beli dimana?“, atau “Wah, unik nih, berapaan harganya Mas?“, dan sederet pertanyaan-pertanyaan serupa ala ala kepo lainnya. Wajar, karena sepeda ini memang kurang (belum) populer, terutama di Bandung dan sekitarnya. FYI, di Jakarta sepertinya sudah ada perkumpulannya. Tapi terus terang saya tidak mengikuti perkembangannya. Karena selain beda kota, saya juga sebenarnya ga terlalu tertarik untuk ikut bergabung perkumpulan-perkumpulan seperti komunitas, club, atau apapun itulah namanya. Lha wong komunitas blogger saja saya ga terlalu ngikuti kok. Bukannya anti-sosial, tapi saya ini memang egois.

Masih terkait faktor desain, lagi-lagi yang namanya desain tidak selalu saya maksudkan sebagai penilaian subjektif yang dinilai berdasarkan mata saja. Namun, terkait juga masalah keergonomisan, kenyamanan penggunaan, dan kesan berkendaranya. Nah, sepeda London Taxi ini punya yang saya butuhkan. Soal ergonomis dan kenyamanan, sepeda ini difasilitasi oleh handle-bar berjenis tourist-bar sehingga posisi tangan relatif santai dan punggung bisa cukup tegak. Tidak terlalu maju atau membungkuk seperti kalau kita naik sepeda berjenis MTB atau sepeda balap. Berdasarkan pengalaman, beberapa kali naik MTB, selalu ada saja masalah sakit punggung atau nyeri bagian pundak. Entah karena memang tidak cocok, atau memang karena faktor usia.

Selain itu, London Taxi membekali dudukan pengendaranya dengan sadel berjenis suspension yang artinya terdapat per atau pegas di bagian bawahnya. Sehingga, cukup nyaman kalau dipakai gowes dalam waktu yang relatif lama. Jarak jauh pun ga masalah. Empuk tur mentul-mentul kalau orang Jawa bilang. FYI, sepeda London Taxi ini sudah pernah saya tes untuk gowes santai, baik jarak pendek ataupun jarak menengah. Hasilnya, cukup nyaman. Saya yang cupu ini alhamdulillah bisa kembali dengan selamat setelah menempuh jarak total terjauh, so far dalam sekali trip sekitar 35-an km. Tapi mohon jangan ditanya berapa kali saya “tepar” dan terpaksa harus menepi dulu. Semoga next trip tidak demikian. Maklum anak bawang.

Untuk urusan kesan berkendara, sepeda ini dibekali dengan velg berukuran cukup besar, tipe 28. Bannya cukup tipis dengan motif atau batikan yang halus sehingga sangat cocok kalau digunakan di jalanan aspal perkotaan. Ditambah warna bannya yang terdiri atas dua warna (two-tones) menambah kesan kental onthelnya.

Harga

Tentu saja faktor terakhir namun paling menentukan adalah faktor harga. RAPBN tidak akan disetujui oleh ibu negara kalau terlalu mahal dan tidak ramah terhadap devisa. Untungnya, sepeda London Taxi ini harganya cukup terjangkau. Seberapa terjangkau? Silakan browsing saja ya. Ga enak nyebut harga di sini. Tinggal sebut saja keywords “harga london taxi bike”. Atau kalau mau yang lebih spesifik, semua kriteria yang saya jelaskan di atas mengacu pada sepeda London Taxi versi CRB M 700C Green. Kalau kita buka website resminya, ada banyak versinya. Tergantung model, ukuran, dan warna. Bahkan ada juga yang khusus buat anak-anak tapi tidak dilengkapi dengan pedal. Mereka menyebutnya kick bike. Jadi tidak digowes, melainkan langsung di-kick atau didorong menggunakan kaki. Aneh memang. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Kesimpulan

Dengan segala deskripsi fungsional, desain, dan beberapa kekurangannya, sepeda London Taxi menurut saya cukup OK. Worth it lah. Bobot terbesarnya ada pada desainnya yang “ga biasa”, juga kesan berkendaranya yang bisa membuat santai, mirip sepeda onthel. Overall… saya sangat mengapresiasi keberadaan sepeda ini, walaupun tentunya akan lebih joss lagi kalau beberapa kekurangan yang saya sebutkan di atas dapat dieliminasi oleh pihak London Taxi.

Sumber: andiktaufik.wordpress.com

Editor : Muhammad Iqbal Riyanto(SMK GATRA PRAJA KOTA PEKALONGAN)

Facebook Comments