Neutron Yogyakarta
Features

Dari Data, Mayoritas di Daerah Langganan Rob

Bantuan Balita Kurang Gizi

BANTUAN – Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan Munafah Asip Kholbihi saat memberikan bantuan kepada balita kurang gizi di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto.
TRIYONO

Melihat Kondisi Bayi Gizi Buruk di Kabupaten Pekalongan

Dinas Kesehatan dan TP PKK Kabupaten Pekalongan menyusuri daerah banjir rob di Desa Tegaldowo dan Mulyorejo, Kecamatan Tirto, untuk memberikan bantuan kepada balita kurang gizi dan gizi buruk. Seperti apa? Triyono, Tirto

Ada fakta baru terkait bayi gizi buruk. Saat ini, ditemukan 53 balita yang mengalami gizi buruk di Kota Santri. Sebagian besar berada di daerah langganan banjir rob, yakni di wilayah Puskesmas II Tirto dengan jumlah 12 penderita.

Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan Munafah Asip Kholbihi menyatakan, di Kabupaten Pekalongan tercatat ada 426 anak mengalami gizi kurang, dan 53 alami gizi buruk. Menurutnya, dari ratusan anak yang mengalami gizi kurang tersebut sudah mendapatkan pendampingan, sehingga kondisinya sudah berangsur normal.

“Mereka yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk ini belum tentu tidak punya uang. Namun ada pula karena faktor ibu-ibu muda yang malas masak. Kita kadang saat kunjungan di desa masih melihat anak hanya diberi nasi dengan kuah mi instan dan kerupuk saja. Asal anak mau makan, padahal tidak ada kandungan gizi yang baik,” terangnya.

Oleh karena itu, TP PKK Kabupaten Pekalongan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan program CSR perusahaan selain memberikan bantuan susu dan makanan tambahan, akan memberikan pelatihan cara memasak makanan untuk balita kepada orang tua mereka. Pasalnya, anak sehat, gizinya harus bagus.

“TP PKK dengan program Gema Setia (Gerakan Masyarakat Stop Kematian Ibu, Bayi, Balita) bekerja sama dengan Amway berupaya mengentaskan balita kurang gizi ini,” katanya.

Pemberian bantuan makanan tambahan di Puskesmas II Tirto, kata dia, merupakan CSR dari Bank Jateng. Menurutnya, untuk mengatasi persoalan gizi kurang dan gizi buruk jika tidak dibantu CSR perusahaan, maka pemda akan kewalahan.

“Dengan Gema Setia, ibu hamil risiko tinggi juga kita periksa. Ada 916 ibu hamil risiko tinggi di Kabupaten Pekalongan. Kita sudah melakukan pemeriksaan di sembilan kecamatan. Dengan kita keliling seperti itu, ada temuan-temuan tak terduga, yang bisa segera disikapi,” katanya.

Sementara itu, Sinta (20), salah seorang ibu yang anaknya mengalami kurang gizi menyatakan, anaknya tersebut sudah berusia dua tahun, namun bobot tubuhnya kurang ideal. Menurutnya, anaknya itu sukar makan, termasuk enggan untuk minum susu formula. Selain itu, sejak usia dua bulan putra pertamanya ini diketahui menderita penyakit brongkitis. “Saya dulu menikah di usia 17 tahun.” (*)

Facebook Comments