Metro Pekalongan

Genangan Rob Makin Tinggi

Rob Krapyak

TERGENANG – Kondisi banjir rob di Kelurahan Krapyak. Hampir setiap hari rob menggenangi sebagian besar wilayah Pekalongan Utara dan beberapa kelurahan di Pekalongan Barat.

KOTA PEKALONGAN – Ketinggian banjir rob yang menggenangi hampir sebagian besar wilayah utara Kota Pekalongan, terpantau semakin tinggi. Selain ketinggian air yang terus bertambah, dampak banjir juga semakin meluas karena menyentuh beberapa wilayah yang sebelumnya tak pernah terkena banjir rob. Banjir rob yang terjadi Selasa (22/5) sore hingga malam hari, dilaporkan menjadi yang paling besar dibandingkan sebelumnya.

Camat Pekalongan Utara, Yos Rosyidi, saat dikonfirmasi menyatakan, banjir rob pada Selasa memang lebih tinggi dari sebelumnya. “Kali ini bisa disebut paling tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya. Bahkan banjir rob sudah menyentuh Jalan Surabaya dan Sorogenen,” ungkap Yos.

Ia menuturkan, air rob sudah mulai naik pada pukul 15.00 sore. Hingga malam hari, sudah ada lima warga dari Perumahan Sosial yang mengungsi di Aula Kantor Kecamatan Pekalonan Utara. “Saat ini per pukul 19.00 sudah ada lima warga yang mengungsi di Kantor Kecamatan,” katanya.

Hampir seluruh kelurahan di wilayah Pekalongan Utara, lanjut Yos, terendam banjir rob kecuali wilayah Degayu. Kondisi demikian, sudah terjadi sejak awal Mei. Setiap sore hingga malam hari, banjir rob hampir selalu terjadi.
“Setiap hari mulai sore selalu terjadi banjir rob. Hari ini jadi yang terparah,” tambahnya.

Menurut laporan dari warga dan lurah, ketinggian banjir rob mencapai 10 sentimeter hingga 60 sentimeter. Mengenai penyebab, ia menyatakan bahwa rob yang terjadi murni karena faktor alam. “Karena faktor alam dan infrastruktur yang ada sudah tidak bisa lagi menahan banjir rob yang semakin besar,” kata Yos.

Salah satu warga Padukuhan Kraton, Agus Riyanto, juga menyatakan hal serupa. Bahkan ketinggian banjir rob kali ini lebih besar dibandingkan kejadian banjir 1 Desember lalu. “Ini lebih besar. Di Pabean, hampir semua wilayah tertutup air. Ketinggiannya mencapai setengah meter,” tutur Agus.

Ia menyatakan sejak awal Mei rob selalu terjadi setiap hari. Kondisi demikian, dikatakan Agus mengganggu aktivitas warga dalam menjalankan ibadah puasa. “Malam ini salat tarawih di tempat saya diliburkan. Karena mushola yang paling tinggi, yang lebih tinggi dari rumah-rumah warga pun sudah terendam air. Sejak sore saat ada pengajian di mushola juga dibubarkan karena banjir rob sudah masuk ke mushola,” ujarnya lagi.

Warga juga harus menjalani santap sahur di tengah kondisi rob. Itupun, bagi warga yang masih bisa memasak makanan. “Tidak tahu bagaimana nanti warga saat sahur jika kondisinya terus demikian,” tambahnya
Kondisi yang sama dirasakan warga di Kelurahan Krapyak. Salah satu warga, Adi Sujadi menyatakan, bahwa saat ini hampir 50 persen wilayah Krapyak tergenangi banjir rob. “Hampir 50 persen terkena banjir. Misalnya untuk RW 16, dimana ada lima RT 90 persen sudah tergenangi rob. Kemudian di RW 15 ada empat RT yang juga tergenang serta RW 17 hampir seluruhnya sudah masuk,” ungkapnya.

Pria yang juga Ketua Karang Taruna Krapyak tersebut menyatakan, kondisi tersebut jelas mengganggu kegiatan warga, terutama selama bulan puasa. “Aktivitas ibadah terganggu, utamanya saat tarawih. Warga harus melintasi genangan banjir karena akses jalan di sebagian Krapyak sudah terendam. Bahkan di gang 5 atau RW 17, warga tidak bisa tarawih berjamaah karena mushola terendam,” tandasnya. (nul)

Facebook Comments