Radar Batang

Gelorakan Guyub Rukun, Pemda Harus Hadir di Tengah Masyarakat

Wihaji Suyono

GUYUB RUKUN – Dua Pimpinan Batang, Bupati Wihaji dan Wabup Suyono selalu mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah dengan semangat guyub rukun.

Satu Tahun Kepemimpinan Wihaji-Suyono (1)

Tanpa terasa, usia kepemimpinan Wihaji-Suyono sebagai Bupati dan Wakil Bupati Batang telah menginjak satu tahun. Usia yang masih belia untuk menuntut hasil, tentunya. Tetapi satu pondasi kuat telah ditancapkan dan terus digelorakan dengan kata dan laku oleh kedunya berikut jajaran birokrasi, yakni Batang Guyub Rukun.

Setidaknya selama 12 tahun ini keduanya telah meletakan landasan mental bagi proses pembangunan ke depan. Kedua, membangun pola pikir yang satu melalui etos kreativitas dan inovasi untuk menyelesaikan masalah. Ketiga, membangun keyakinan dan mimpi besar untuk kemajuan Batang.

Tak heran, kebijakan pertama yang diambil keduanya adalah menyamakan persepsi seluruh perangkat birokrasi. Caranya pun unik, yakni mengajak seluruh pejabat eselon II dan III untuk menginap bareng di alam terbuka Dukuh Sigemplong, Pranten Bawang, sebuah kawasan lereng Dieng yang bercuaca ekstrim. “Banyak program besar untuk membangun Batang, maka sebelum mengajaklibatkan masyarakat, tim birokrasi sendiri harus satu persepsi dan solid sebagai sebuah tim,” kata Bupati.

Lebih dari sekadar tagline, Wihaji-Suyono bahkan membuktikan semangat guyub rukun dengan rutin menghadiri banyak acara yang diselenggarakan masyarakat akar rumput. Dalam sehari, Wihaji-Suyono bisa menghadiri 5 sampai 6 acara secara maraton.

Menurut Bupati, guyub rukun tak boleh hanya menjadi jargon klise, tetapi diaktualisasikan dalam kebijakan dan program. Upaya itu menurut Wihaji sebagai simbol pemantik kebersamaan, partisipasi dan swadaya warga, dan gotong royong.

“Jujur, menyadari masih banyaknya warga miskin, tingginya pengangguran, terbatasnya kemampuan APBD, sebagai pemimpin daerah kami keder dan cemas. Tetapi kami menjadi berani, menjadi yakin dan optimis untuk menghadapi itu semua karena ada birokrasi, ada tokoh agama, tokoh masyarakat, alim ulama, ormas, ornop, orsospol, dan tentu saja 800 ribu rakyat Batang yang juga memiliki kepentingan dan keberanian yang sama untuk menyelesaikan berbagai masalah itu secara bertahap dan gotong royong. Itulah guyub rukun,” beber Wihaji suatu waktu.

Guyub rukun karenanya menuntut suasana batin kedaerahan yang rukun sekaligus saling mendukung setiap upaya membangun dan memajukandaerah. suasana guyub rukun juga dibutuhkan mengingat kondisi alam Kabupaten Batang yang kaya, dari pesisir, daratan, hingga pegunungan. “Kami meyakini, Kabupaten Batang memang ditakdirkan untuk hidup guyub rukun,” ucap Wihaji.

Kedua, guyub rukun beserta implementasinya juga untuk meyakinkan masyarakat pemerintah daerah haruslah hadir di tengah permasalahan rakyatnya. Ngudo roso menjadi contoh perwujudannya di mana setiap bulannya Wihaji-Suyono beserta Pimpina OPD, para camat hadir di desa, menginap di rumah warga, mendengarkan keluh kesah masyarakat, serta diselingi hiburan bersama yang menggembirakan masyarakat desa. Setelahnya, Bupati dan jajaran juga akan blusukan bareng-bareng memotret potensi desa yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Sebagai bukti hadir, ngudo roso juga didesain untuk mendekatkan pelayanan ke masyarakat. selama sehari, kantor kepala daerah bersama OPD pindah ke desa, sejumlah produk layanan pun dibuka, seperti administrasi kependudukan, pelayanan KB, pelayanan kesehatan, dan lainnya.

Sejauh ini, sudah lima desa dengan akses sulit yang menjadi sasaran kunjungan kerja itu, yakni Desa Sangubanyu Kecamatan Bawang, Desa Bawang Kecamatan Blado, Desa Manggis Tulis, Sodong Kecamatan Wonotunggal, serta Madugowongjati Kecamatan Gringsing.

Upaya hadir juga diwujudkan dalam program Bupati dan Wabup mengajar yang rutin dilakoni setiap pekan. Keduanya selalu menyempatkan diri hadir menyambangi satuan pendidikan, dari SD, SMP, sampai SMA sederajat. Momentum itu dimanfaatkan untuk memompa motivasi calon generasi masa depan sekaligus memprovokasi mereka untuk bermental maju dan berkarakkter kuat.

Komitmen serupa juga dilakukan Wihaji Suyono saat memperjuangkan aspirasi masyarakat nelayan larangan penggunaan cantrang. Bupati bahkan menemui Menteri KKP Susi Pujiastuti hingga Presiden Jokowi untuk menyampaikan aspirasi warganya. Hasilnya pun disambut baikk nelayan.

Pun ihwal kerusakan jalan di ruas Warungasem yang memakan dua korban, sebagai akibat proyek tol, Bupati nekat mendatangi kantor perwakilan PT Waskita dan mengultimatum realisasi janji perbaikan jalan. Tidak lama, aksi heorik itupun membuahkakn hasil, jalan langsung diperbaiki.

Merawat guyub rukun memang bukan perkara mudah. Wabup Suyono mengungkapkan, membangun Batang adalah upaya sulit jika tidak didukung pimpinan daerah lainnya, birokrasi, dan tentu saja komponen masyarakat.

“Kami tidak mampu memimpin Batang sendirian, maka harus gandeng semua kekuatan, saling membantingtulang sesuai potensinya. Itu sebabnya, frasa guyub rukun itu tak boleh bercerai. Guyub tanpa rukun itu tidak berkah, tetapi rukun tanpa guyub juga jalannya susah,” terang Suyono.

Mengingat beratnya tugas menyejahterakan Kabupaten Batang, Wabup juga sangat mengharapkan dukungan doa dari masyarakat, khususnya para alim ulama. “Doakan kami agar tetap komit menjaga amanah, agar bisa melayani rakyat Batang dengan sepenuh hati, mewujudkkan mimpi hari esok yang lebih baik,” pesannya. (sef)

Facebook Comments