Metro Pekalongan

Masih Ada Waktu, Optimis Minimalisir Kejadian 2017

Cucut Suranto

Ketua BP2KP, Cucut Suranto.

Dampak Jalan Tol

Belum selesainya jalur interchange pada Idul Fitri tahun ini, dikhawatirkan akan kembali memberi dampak negatif bagi perekonomian Kota Pekalongan, seperti pada Idul Fitri tahun 2017 lalu. Meski demikian, Badan Promosi Pariwisata Kota Pekalongan (BP2KP) optimis tahun ini dampak jalan tol bisa lebih diminimalisir melihat masih ada waktu sekitar 25 hari kedepan untuk melakukan sejumlah upaya.

Ketua BP2KP, Cucut Suranto mengatakan, bagaimanapun keberadaan jalan tol beserta dampaknya tidak bisa lagi dihindari. Sehingga seluruh elemen masyarakat yang terdampak langsung kondisi tersebut harus memiliki cara agar dampak yang dialami seperti pada tahun 2017 lalu bisa diminimalisir.

“Satu-satunya yang bisa kita lakukan tentu saja melakukan promosi besar-besaran. Kita blow up Kota Pekalongan dan segala potensinya melalui berbagai media, salah satunya media sosial. Kami sudah menggandeng blogger dan aktivis media sosial untuk ikut memblow up potensi-potensi di Kota Pekalongan ini,” tuturnya, Jumat (18/5).

Ia menyadari, waktu yang tersisa tidak begitu panjang. Namun berapapun waktu yang tersisa masih ada upaya yang bisa dilakukan. Termasuk dari Pasar Grosir Setono, yang tahun lalu mengalami dampak paling signifikan. Cucut menyatakan, sejauh ini pihak Pasar Grosir Setono termasuk yang paling aktif dalam promosi.

“Mereka terbilang aktif promosi secara konvensional. Mereka membuat brosur yang berisi promosi tentang Pasar Grosir Setono yang kemudian dititipkan ke hotel-hotel. Mereka sudah memiliki pengalaman tahun lalu dan kami yakin mereka pasti melakukan sesuatu agar dapat setidaknya mengurangi dampak negatif seperti yang dialami tahun lalu,” bebernya.

Sementara untuk perhotelan, tahun lalu dampak yang dirasakan juga sangat besar dimana masa liburan Idul Fitri yang termasuk big session, tingkat okupansi hanya mencapai 35 hingga 40 persen. Cucut melihat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengupayakan agar kondisi serupa tak terjadi. Salah satunya tidak menaikkan tarif hotel terlalu tinggi. “Kenaikan diupayakan jangan terlalu tinggi. Sekitar 20-25 persen sudah cukup. Ini bisa memberikan efek jangka panjang,” katanya.

Masalah okupansi yang menurun pada masa liburan Idul Fitri, sebenarnya dikatakan Cucut bukan menjadi masalah besar bagi perhotelan. Karena big session Idul Fitri hanya berlangsung 10 hingga 14 hari. Masih ada sekitar 350 hari dimana perhotelan bisa menutup kekurangan tersebut. “Contohnya saja di kwartal I kita bisa mencapai 60 persen tingkat okupansi. Ini sangat bagus,” ungkapnya.

Namun ia tetap berharap, upaya mempromosikan Kota Pekalongan tak hanya dilakukan pada momentum seperti itu saja. BP2KP mendorong berbagai upaya lain, selain promosi, untuk dapat menjual Kota Pekalongan dam mendatangkan wisatawan untuk datang dan menetap di Kota Pekalongan. (nul)

Facebook Comments