Metro Pekalongan

Bahas Hukum Waris, Hadirkan Hakim Agung

Hukum Waris

SEMINAR – Jurusan HKI Fakultas Syariah IAIN Pekalongan menggelar seminar nasional tentang hukum waris, bertempat di auditorium kampus IAIN Pekalongan.

KOTA PEKALONGAN – Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah (Fasya) IAIN Pekalongan menyelenggarakan seminar nasional bertajuk ‘Pergeseran Hukum Kewarisan Peradilan Agama dari Fikih Klasik (Turats) ke Fikih Indonesia’, baru-baru ini.

Dalam seminar ini menghadirkan dua pakar di bidang hukum waris, yaitu Dr H Edi Riadi SH MH dari Hakim Agung Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan Dr Akhmad Jalaludin MA selaku Dekan Fakultas Syariah. Seminar dimoderatori oleh Dr Ali Trigiyatno MAg selaku Ketua Jurusan Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Pekalongan.

Seminar ini direspon sangat baik oleh mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) yang diselenggarakan di auditorium IAIN Pekalongan. Tak ketinggalan pula hadir dalam seminar ini tamu undangan dari Ketua Pengadilan Agama dan Ketua Pengadilan Negeri Se-eks Karisidenan Pekalongan, kepala KUA se-Kota Pekalongan, serta para dosen Fakultas Syariah IAIN Pekalongan.

Mubarok Lc MSI selaku Ketua Jurusan Hukum Keluarga Islam IAIN Pekalongan sekaligus Ketua Panitia menyampaikan, Jurusan Hukum Keluarga Islam merupakan bagian dari Fakultas Syariah mengemban amanah dalam mengembangkan keilmuan syariah dan hukum berwawasan keindonesiaan.

Maka dari itu, merasa perlu dan berkepentingan dalam hal menyikapi dan mengkaji secara mendalam, sekaligus memberi bekal bagi para mahasiswa terkait perkembangan Hukum waris yang dirasa saat ini kurang mendapat perhatian dalam berbagai kajian.

Mubarok juga menyampaikan terimakasih kepada Hakim Agung Mahkamah RI yang berkenan menjadi narasumber.

Dr Akhmad Jalaludin MA mengucapkan terimakasih atas kehadiran semua pihak. Kemudian menceritakan sejarah dari Fakultas Syariah IAIN Pekalongan. Kemudian dia menyampaikan visi misi Fakultas Syariah yaitu Menjadi fakultas terkemuka dan kompetitif dalam pengembangan ilmu syariah dan hukum berwawasan keindonesiaan di tingkat nasional pada tahun 2036.

“Karena itu pula maka tema seminar ini adalah fikih klasik, yang dibangun di Arab menuju fikih Indonesia. Jadi kita ingin membangun hukum islam yang berwawasan ke Indonesiaan yang lebih sesuai dan cocok dengan kondisi sosiologis Indonesia,” terangnya.

Wakil Rektor III, Drs Moh Muslih MPd Phd yang membuka acara seminar nasional tersebut menyampaikan beharap diantara mahasiswa IAIN Pekalongan ada yang menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.

Sementara, Dr H Edi Riadi SH MH dalam paparannya menyampaikan hukum waris Islam yang yang pada awal kelahirannya merupakan hukum paling modern, sekarang menjadi hukum yang kehilangan ruh kemodernan, dan ruh keadilannya ditengah perkembangan budaya masyarakat kini.

“Problem beda agama dan anak angkat yang menjadi penghalang pewarisan, bagian wanita separuh dari laki-laki menjadi topik kritikan tajam dari kalangan ahli hukum modern,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa perbandingan hukum waris sejak 7 abad yang lalu dengan hukum waris agama lain lebih maju hukum waris Islam. Persepsi para fuqaha mengenai hukum Islam, khususnya hukum waris Islam, sebagai hukum ta’abudi berdampak stagnasi hukum Islam itu sendiri, sehingga tertinggal dari sistem hukum lain yang senantiasa mengalami perubahan.

Sistem hukum waris Islam, pada zamannya, dapat dikatakan sebagai hukum waris yang sangat modern dibanding dengan sistem hukum waris lain. “Ambil contoh sebagai perbandingan, di beberapa negara bagian Amerika pada abad ke 19 jika seorang meninggal dunia harta warisan, khususnya yang berbentuk property, diwariskan kepada anak laki-laki sulung,” paparnya.

Pemateri Kedua yaitu Dr Akhmad Jalaludin MA menyampaikan penegasan antara syariah dan fikih, menjelaskan konsep waris dalam Al-qur’an, dan problem-problem dalam Fiqh Mawaris. Acara seminar nasional ini berjalan lancar dan ditutup dengan foto bersama narasumber. (way)

Facebook Comments