Nasional

Terjaring OTT, Bupati dan Istri Jadi Tersangka

Terjaring OTT, Bupati dan Istri Jadi Tersangka

OTT KPK – Petugas KPK dan kepolisian menggiring Heni Dirwan (kiri), isteri Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud saat tiba di gedung KPK Jakarta, Selasa (16/5/2018). Heni bersama suaminya Dirwan Mahmud terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kediamannya di Jalan Gerak Alam, Manna, Bengkulu Selatan.
MUHAMAD ALI/JAWAPOS

*KPK Sita Uang Rp100 Juta

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memboyong Bupati Bengkulu, Dirwan Mahmud dan tiga orang lain yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) ke Gedung KPK, Jakarta, pada Rabu (16/5). Keempatnya tiba beriringan sekitar pukul 12.30 WIB. Dua orang diantaranya terlihat memakai cadar dan masker.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menyatakan, keempat orang tersebut diamankan KPK, pada Selasa (15/5). Lembaga superbody itu menangkap empat orang termasuk Dirwan, istri, keponakan dan satu kalangan swasta.

“Empat orang yang diamankan dalam kegiatan KPK kemarin dibawa ke Jakarta pada penerbangan pagi,” kata Febri saat dikonfirmasi.

Dari tangan mereka, KPK menyita Rp100 juta, saat operasi di rumah Dirwan tersebut. “Uang itu diduga terkait dengan fee proyek,” terang Febri.

Saat tiba di Gedung KPK Jakarta, keempatnya masih bungkam. Tidak memberikan sepatah katapun kepada para pewarta.

Setelah melakukan pemeriksaan intensif, pihak KPK akhirnya menetapkan Bupati Bengkulu Selatan sebagai tersangka penerima suap. Selain itu, istri Dirwan, Hendrati, juga dijerat KPK sebagai tersangka.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan serta menetapkan empat tersangka, yaitu diduga sebagai penerima DIM (Dirwan Mahmud), HEN (Hendrati), NUR (Nursilawati), dan diduga sebagai pemberi JHR (Juhari),” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (16/5).

Dirwan diduga menerima suap Rp 98 juta dari Juhari selaku kontraktor. Basaria menyebut uang itu merupakan bagian dari 15 persen commitment fee atas lima proyek pekerjaan infrastruktur dengan nilai total Rp 750 juta.

“Jadi commitment fee sebesar Rp 112.500.000,” kata Basaria, seperti dilansir detikcom.

Basaria mengatakan tersangka lain, yaitu Nursilawati, yang merupakan kepala seksi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan, berperan sebagai perantara. Sedangkan istri Dirwan, Hendrati, berperan menerima uang tersebut.

Atas perbuatannya, Dirwan, Hendrati, dan Nursilawati disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan Juhari disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara itu, Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud membantah menerima duit suap.

Bupati Dirwan tiba di Polda Bengkulu sekitar pukul 23.30 WIB, Selasa (14/5/2018). Terlihat juga istri Dirwan dan dua orang lainnya yang dibawa KPK menggunakan mobil dinas pemda Bengkulu Selatan.

“Tanyakan sama mereka (KPK), siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Saya tidak tahu apa-apa,” ujar Dirwan kepada wartawan. (fin/dtk)

Facebook Comments