Features

Ika Himawan Affandi, ASN yang Kembangkan Puluhan Jenis Buah Tin

*Masih Eksperimen untuk Pilih Varietas yang Cocok

Kesulitan petani dirasakan oleh Ika Himawan Affandi. Untuk lebih merasakan itu, dia membeli lahan. Awalnya ditanami palawija. Hasilnya tak menguntungkan. Lalu, dia menanam pepaya California. Dia gagal juga. Kini, Ika beralih menanam buah tin. KHOLID HAZMI, Rembang

Ika Himawan Affandi, ASN yang Kembangkan Puluhan Jenis Buah Tin

CEK KEBUN – Ika Himawan Affandi mengecek kebun buah tin di Desa Kebonagung, Sulang, belum lama ini.
DOK. PRIBADI

DI gazebo kompleks kebun tin, Ika Himawan Affandi biasa bersantai. Yang bikin unik, gazebo itu dipasang lampion warna warni. Tampilannya instagrammable. Cocok buat anak muda yang suka swafoto. Ketika Ramadan seperti sekarang, cocok juga buat ngabuburit.

Suasana di sekitarnya enak untuk bersantai. Sekelilingnya masih asri. Anginnya sepoi-sepoi. Banyak juga pohon siwalan di sekitarnya. Kalau haus, tinggal minum legen dari pohon siwalan itu.

Kebun itu diberi nama Serena. Alasannya simpel. Ika lahir di Desa Seren, Kecamatan Sulang. Nama Seren kemudian ditambah huruf A di belakang. Jadilah Serena. Kebun Serena sudah dibuka untuk umum. Tapi, belum diresmikan.

Di lahan sekitar satu hektare itu, Ika menanam buah tin. Ada 500 tanaman buah tin yang ditanam. Jarak tanamnya 2,5 meter kali 1,5 meter. Itupun belum maksimal. Perkiraannya kebun tersebut bisa menampung 750 bibit buah tin.

Mayoritas bibitnya dibeli dari Sidoarjo. Lebih dari 50 varietas buah tin ditanam di kebunnya. Ada yang bibitnya Rp 25 ribu per batang. Seperti varietas Green Yordan dan Brown Turki. Ada juga yang satu batang harganya sampai Rp 6 juta.

Ada juga varietas Joly Tiger Varigata. Lebih dikenal dengan buah tin JTV. Ciri khasnya daun dan batangnya belang. Yang lagi booming, buah tin varietas Iraqi. Mahal juga. Dua daun harganya Rp 350 ribu. Cirinya buahnya kecil dan berwarna ungu. Lebih enak dijus.

Pria berkacamata ini belum fokus mengembangkan satu varietas. Karena dia masih mempelajari sambil bereksperimen. Varietas mana saja yang cocok dengan lahan di kebun miliknya.

Tanaman tin berbeda dengan lainnya. Langsung berbuah tanpa ada bunganya. Hanya butuh waktu tiga bulan setelah ditanam untuk bisa berbuah. Hanya berbuah saja. Belum matang. Biar biasa matang, butuh waktu lagi sekitar tiga bulan.

Jadi butuh waktu enam bulan agar buah tin bisa dikonsumsi. Ika sendiri sudah menikmati buah yang ditanamnya. Namun, buahnya belum dijual secara masal. Ada beberapa yang belum sempurna. Kebanyakan dikonsumsi sendiri atau dibagikan ke kerabat.

“Sudah pernah berbuah. Kalau dalam jumlah banyak belum. Karena ada beberapa yang mati karena salah threatment. Itu malah yang harga bibitnya jutaan rupiah,” jelasnya.

Pria yang baru beberapa bulan menjabat kabid Perkebunan di Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang ini punya alasan kenapa menanam buah tin. Dia ingin mengembangkan buah yang disebut dalam Alquran.

Sekaligus mengenalkan buah tersebut ke masyarakat. Ika tak menampik kalau banyak orang yang tak tahu ketika dilihatkan buah tin. Padahal, buah tersebut di Timur Tengah dan Eropa banyak dikonsumsi.

Sebelum berkebun buah tin, Ika pernah mengembangkan buah pepaya California. Berjalan beberapa tahun. Beberapa kali pula panen. Ika hanya menjual hanya pedagang di Rembang. Itupun sudah habis. Jadi, tak cukup kalau dijual sampai luar Rembang.

Ika memutuskan berhenti mengembangkan pepaya California. Pertimbangan utamanya, perawatan tidak mudah. Tanahnya tak boleh kering. Tapi tak boleh terlalu basah.

Sejak pemberlakuan enam hari kerja, Ika lebih leluasa pergi ke kebun di Desa Mbencili, Kecamatan Sulang. Jam kerja ASN kini hanya sampai pukul 14.00. Sedangkan ketika lima hari kerja, dia kerja sampai pukul 16.00.

Setiap akhir pekan dia juga menyempatkan pergi ke kebun. Merawat tanaman-tanaman sambil bersantai. Kesibukan itu tak mengganggu pekerjaannya di kantor. Justru membantu menghilangkan jenuh karena pekerjaan.

Ika sudah bercocok tanam sejak masih menjadi penyuluh. Wilayah tugasnya di Kecamatan Rembang. Dia sering mendapat keluhan dari para petani. Terutama, ketika gagal panen.

Karena itulah, Ika membeli tanah. Luas totalnya satu hektare. Tapi, tak berada di satu lokasi. Lalu ditanam dengan tanaman palawija. Dia ingin merasakan kesulitan yang dialami petani. Ternyata benar. Hasilnya tak seberapa. Apalagi kalau lokasi tanahnya terpisah-pisah. Sejak itulah, dia memutuskan beralih ke tanaman hortikultura. (*/ris)

Facebook Comments