Features

Mengenang Sosok Gogon Srimulat

*Selalu Bicara Kematian, Minta Anak Hidup Rukun

Indonesia kehilangan salah satu komedian legendaris. Gogon Srimulat menghembuskan napas terakhir kemarin pagi. Jenazah pria yang bernama lengkap Margono ini dikebumikan di kampung halamannya di Pengging, Desa Bedan, Banyudono, Boyolali hari ini. Seperti apa sosoknya di mata para sahabatnya? TRI WIDODO, Boyolali

Mengenang Sosok Gogon Srimulat yang Kemarin Meninggal Dunia

SIDANG ISBAT – Menteri Agama RI Lukman Hakim (kedua kiri) bersama Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi (kedua kanan), Komisi VIII DPR RI Ali Taher (kiri), dan Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin (kanan) memberikan keterangan kepada media terkait hasil sidang Isbat penentuan tanggal 1 Ramadhan 1439 H di kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Selasa (15/4).
ISMAIL POHAN /INDOPOS

ISAK tangis mengiringi kedatangan jenazah komedian Srimulat Gogon di rumah duka, Selasa sore (15/5) sekitar pukul 16.00 WIB. Isteri dan anak mendiang Gogon tak henti-hentinya mencucurkan air mata, saat peti jenazah tiba di rumah duka di Dusun Bukur Ireng Pengging, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono.

Sri Lestari, istri almarhum menangis sejadinya. Bahkan dia sempat tekulai lemas tak berdaya saat peti jenazah disemayamkan di rumah duka. Begitu juga dengan sang menantu, Wahyuningsih juga tak kuasa membendung air mata.

Perempuan yang akrab disapa Nining ini mengaku kaget mendapat telepon dari suaminya yang juga anak lelaki Gogon, Ari Mustika yang memberitahu perihal meninggalnya sang mertua pada pukul 05.00. “Bapak pentas di Lampung pada Senin malam (14/5) bersama suami saya, Ari Mustika,” katanya.

Dijelaskan, usai pentas, rombongan langsung pulang dan menginap di hotel terdekat bandara. Hal itu untuk mengantisipasi agar tidak terlambat check in di bandara mengingat pesawat dijadwalkan terbang pukul 07.40.

“Mendadak, almarhum mengeluhkan sakit dan langsung dibawa ke rumah sakit. Ternyata tidak tertolong hingga kemudian meninggal,” ujarnya.

Disinggung tentang pesan terakhir almarhum, Wahyuningsih langsung tertunduk. Beberapa kali tangannya mengusap air matanya. Dia mengaku masih sempat mengantarkan almarhum bersama suaminya yang akan berangkat ke Lampung. “Bapak dan Mas Ari berangkat lewat bandara Jogja, Minggu (13/5),” ujarnya.

Sembari terisak, Nining kaget karena almarhum selama perjalanan senantiasa bercerita tentang kematian. “Saya sempat mengingatkan agar bapak bercerita hal- hal lain. Namun, beliau tetap bercerita tentang kematian itu. Bapak juga meminta agar kami semua tetap rukun,” katanya.

Nova Mustika, akan bungsu almarhum mengaku sebelum Gogon pergi ke Lampung Utara untuk pentas, dia tak mendapatkan firasat apa-apa. Nova yang saat dikabari masih berada di Jakarta langsung bergegas pulang ke Pengging, Boyolali. “Saya baru datang menjelang sore tadi,” kata Novae.

Sementara itu, di rumah duka sejumlah seniman juga sudah mulai datang. Di antaranya Kirun dan Didi Kempot. Kirun datang usai melayat ke Tegal ikut merasakan kepedihan yang mendalam.

Di waktu yang tak terpaut jauh, dua sahabatnya sesama seniman pergi meninggalkannya. ” Semalam dapat berita itu (meninggalnya Ki Enthus Susmono), malah tadi pagi Mas Gogon (meninggal),” kata Kirun dengan raut muka sedih.

Kirun mendapatkan informasi langsung dari anak sulung Gogon, Ari Mustika yang mendampingi ayahnya saat pentas di Lampung bersama sejumlah seniman lainnya. Dia pun sangat kaget atas kabar duka itu. Apalagi almarhum Gogon sempat berujar kalau sakit merupakan sahabatnya sendiri. “Dia pingsan saja masih bisa guyon. Gogon itu orangnya asyik. Enak diajak guyon,” kata Kirun.

Didi Kempot juga tak kalah kaget. Sebelum Gogon menghembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit di daerah Bandar Lampung, dia sempat berada di satu panggung pentas. Kebersamaan Didi dengan Gogon di Lampung itu tanpa sengaja. Keduanya diundang oleh panitia acara.

” Jadi berangkatnya duluan Mas Gogon dibandingkan saya,” kata Didi. Dia melihat saat pentas di Lampung Utara, Gogon merasa keberatan mengambil napas. Tetapi, karena Gogon merupakan seniman profesional, almarhum tetap dapat tampil maksimal menghibur masyarakat di sana. ” Mainnya (pentas) bagus. Saya sampai terpingkal-pingkal. Almarhum juga sempat nyanyi Perawan Kalimantan. Itu laguku sama temanku,” ujar Didi.

Gombloh Sujarwanto, sahabat karib Gogon mengaku terakhir ditelepon almarhum untuk diajak pentas di Lampung. Namun dirinya tidak bisa memenuhi ajakan itu lantaran ada pentas sendiri di Wonogiri. Gombloh menilai Gogon adalah sahabat yang setia.

“Itu sudah terasa sejak dia dan Gogon serta pelawak Sugeng masuk grup lawak Srimulat 1985 lalu. Dia orang suka menolong dan ringan tangan,” ujarnya.

Ketua RT 10 Sumanto menyatakan bahwa Gogon merupakan sosok pribadi yang baik dan ramah. Meski terkadang tak bisa selalu mengikuti kegiatan kemasyarakatan secara langsung, namun dia selalu ikut berpartisipasi. “Kalau ada iuran atau gotong royong kampung dia selalu terlibat,” kata Sumanto. (*/bun)

Facebook Comments