Features

Aries Susanti Rahayu, Atlet Panjat Tebing asal Grobogan Juara I di Kejuaraan Dunia

*Saat Pegang HP Bisa Hubungi Keluarga hingga Enam Kali

Aries Susanti Rahayu, 23, tampil memukau. Saat dia mengalahkan atlet Rusia Elena Timofeeva di kejuaraan dunia panjat tebing – IFSC World Cup 2018 di Chongqin, Tiongkok. Video aksinya di balapan di dinding panjat vertikal pun menjadi viral. INTAN M SABRINA, Grobogan

Aries Susanti Rahayu, Atlet Panjat Tebing asal Grobogan Juara I Kejuaraan Dunia

BANGGA – Orang tua Aries Susanti Rahayu menunjukkan foto dan medali yang diraih atlet panjat tebing yang berprestasi di kejuaraan dunia itu.
INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS

KARANGAN bunga ucapan selamat dari berbagai instansi memenuhi halaman rumah orang tua Aries Susanti Rahayu di Desa Taruman, Klambu, Grobogan, kemarin. Kedua orang tua Ayu juga menyambut warga yang mengucapkan selamat prestasi anaknya di kategori Speed Climbing Performa IFSC World Cup 2018 di Chongqin, Tiongkok.

Ada juga pejabat yang datang ke rumah kecil di pinggir Kabupaten Grobogan. Mereka ingin mendengarkan cerita kehebatan dan prestasi dunia yang diraih Ayu –sapaan Aries Susanti Rahayu.

Meski tinggal di pelosok desa, menurut Maryati, iu Ayu, tak membuat anaknya pesimistis meraih prestasi. Sejak kelas V Sekolah Dasar (SD) dia kerap mengikuti berbagai perlombaan olahraga, di antaranya lari dan atletik.

Begitu duduk di SMP, dia tertarik bergelut di panjat tebing. Padahal, keluarganya tak ada yang menggeluti bidang olahraga. Ketertarikan Ayu di bidang tersebut, berawal saat guru olahraga di sekolah, Tri Rus Yuliyanto mengenalkan panjat tebing.

Akhirnya memfokuskan diri ke olahraga tersebut. Dia meraih medali pertamanya, yaitu medali perak di Kejurnas Panjat Tebing UPN Jogjakarta. Sejak saat itu dia terus meraih juara dalam panjat tebing. Mulai tingkat nasional hingga internasional.

Berkat prestasinya itu sempat menjadi perebutan KONI di Jawa Tengah. Hingga membuatnya berganti-ganti tempat sekolah. “Sempat berpindah-pindah sekolah saat SMA. Mulai di SMAN 9 Semarang selama setahun. Lalu berpindah di YPE Gunung Pati, Semarang. Hingga akhirnya kembali ke Kabupaten Grobogan di SMAN 1 Grobogan,” paparnya.

Maryati terus mendukung apa yang telah digeluti anak ketiganya itu. Namun, dia tak pernah melewatkan aksi Ayu berlaga melalui Youtube. Sebab, setiap lomba di tingkat internasional dia tak dapat mendampingi Ayu.

Saat berlatih atau berlaga dia kerab khawatir. “Takut kenapa-kenapa karena anak paling akhir. Saat hendak berangkat ke Tiongkok saja, dia sempat cedera engkel kaki, tapi tak terlalu parah. Lalu anak selalu bilang kalau semua yang dilakukan Insya Allah aman. Karena dia memakai tali saat memanjat,” jelasnya.

Tak hanya itu, orang tua sempat mengkhawatirkan kegiatannya mengganggu kuliah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Namun dengan tegas, gadis yang mengambil jurusan Manajemen ini menyakinkan orang tuanya tak akan meninggalkan kuliah.

Namun, sejak setahun terakhir ini dia disibukkan dengan latihan persiapan World Cup hingga Asian Games di Palembang. Lantas, mahasiswi semester tiga ini memutuskan untuk cuti kuliah selama setahun.

“Sebentar lagi Ayu bakal ikut Asian Games, maka memilih cuti dan fokus latihan dulu. Setelah itu, baru melanjutkan kuliahnya yang sempat ditahan setahun,” imbuhnya.

Sejak menjadi mahasiswi, gadis kelahiran Grobogan, 21 Maret 1995 jarang pulang karena dia fokus berlatih panjat tebing bersama para atlet panjat tebing lain. Saat ini posisi Ayu masih di Tiongkok. Sepulangnya dari Tiongkok, Ayu masih berlatih kembali mempersiapkan fisik untuk berlaga di Asian Games.

Ayu selalu menghubungi keluarga. Kalau lagi bisa memegang handphone sehari bisa lima sampai enam kali. “Sebelum lomba dia selalu meminta restu agar dimudahkan. Semalam (kemarin malam, Red) Ayu menghubungi kami. Dia cerita masih sibuk berlatih persiapan World Cup di Tiongkok pada 12-13 Mei nanti,” jelas Maryati.

Dia berencana pulang awal-awal Puasa, 17-18 Mei mendatang. “Kami bangga pada Ayu dan hanya bisa memberikan doa dan dukungan. Semoga apa yang dicita-citakan tercapai,” paparnya.

Meski dijuluki Spiderwoman Indonesia, rasa manja yang dimiliki kerap ditunjukkan. Misalnya, saat Ayu berlomba di Jogjakarta kerap meminta dijenguk orang tuanya. Padahal, peserta lain jarang meminta hal serupa. Baginya kehadiran orang tua mampu membawa semangat tersendiri.

Menurut Sanjaya, anaknya ini setiap di rumah hanya melakukan olahraga lari dan renang. Sedangkan panjat tebing dia berlatih di Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati. Jika mendekati lomba dia berlatih di Solo, Semarang, hingga Jakarta.

Sudah mengharumkan nama Indonesia, dia berharap Ayu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Terlebih mengenai masa depan Ayu. “Setidaknya pemerintah pusat bisa memberikan penghargaan atau pekerjaan jika nantinya anak saya sudah tidak bergelut di bidang ini. Karena suatu saat akan ada re-generasi yang bakal menggantikan Ayu. Tentu saya berharap masa depan yang baik buat anak saya. Terlebih dia mengharumkan nama Indonesia,” ujarnya.

Baru-baru ini, Ayu menjadi juara dengan mengalahkan atlet Rusia Elena Timofeeva di kejuaraan dunia panjat tebing – IFSC World Cup 2018 di Chongqin, Tiongkok. Hasil itu menjadikan Merah-Putih berkibar. Pada kejuaraan kali ini, Ayu nyaris memecahkan rekor dunia panjat dinding vertikal. Dalam video itu Ayu melesat. Dia cepat memanjat dinding vertikal setinggi 50 kaki dalam hitungan 7,51 detik.

Prestasi ini berkat kegigihannya sejak 2008 yang kerap mengikuti berbagai lomba. Dia meraih berbagai kejuaraan mulai juara II di Kejurnas Panjat Tebing UPN Jogjakarta. Lalu, 2010 di Kejurnas kategori speed youth B, dan 2011 di Kejurda kategori speed youth A putri.

Pada 2013 Ayu meraih juara I Speed putri di panjat dinding nasional di Madapala Jogjakarta dan juara III Speed Track Campuran Porprov Jateng. Ayu juga meraih juara III kategori speed World Record putri, juara II speed Track Perorangan Putri Porprov XIV, dan juara I kategori speed WR tim putri.

Ayu juga meraih juara III speed Putri di Kejurnas dan speed WR tim rellay putri Kejurnas pada 2014 lalu. Selanjutnya, 2015 dia menjuarai speed classic Perorangan Putri di Kejurprov Jateng, 2016 juara II speed Umum Putri di Unisi Wall Competition Jogjakarta.

Selepas itu, 2017 dia juara III speed klasik putri di Danjen Kopassus Sport Climbing Competition. Kemudian, dia meraih perunggu perorangan dan emas regu putri di Rusia pada 2017 lalu. Baru-baru ini dia kembali mengharumkan nama Indonesia dengan menjuarai IFSC World Cup di Chongqing, Tiongkok. (*)

Facebook Comments