Nasional

Buru Peracik dan Otak Serangan Teror

Buru Peracik dan Otak Serangan

TKP TEROR – Kondisi Kerusakan sepeda motor yang diakibatkan ledakan Bom di GPPS Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno Minggu 13 Mei 2013. Tim Pemadam kebakaran, Polisi, dan Gegana bekerja keras untuk menstabilkan kondisi.
AHMAD KHUSAINI/JAWA POS

*Satu Keluarga Menjadi Pelaku Teror Bom di Surabaya
*Polisi Temukan 3 Bom High Explosive di Rumah Pelaku

SURABAYA – Setelah luput dari dua kali plot teror, Surabaya kemarin menjadi korban aksi terorisme. Yang membuat geleng-geleng kepala, pelakunya adalah satu keluarga penuh. Termasuk tiga anak di bawah umur yang berusia 16, 12, dan 8 tahun. Juga, satu pemuda berusia 18 tahun.

Aksi mereka menyasar tiga gereja dengan rentan waktu tidak berjarak lama di di Kota Surabaya Minggu (13/5) pagi. Ada tiga gereja menjadi sasaran bom dan berakibat 13 orang dinyatakan meninggal, terdiri dari enam pelaku, dan tujuh korban. Selain itu, 45 warga mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Surabaya. Dari jumlah itu lima korban yang mengalami luka sudah dipulangkan.

Polisi yakin keluarga itu hanya pengantin. Masih ada perancang bom dan otak serangan yang masih diburu. Perancang bom tersebut patut dicari. Sebab, rancangannya jauh lebih baik ketimbang yang pernah dipakai dalam serangan teror dalam waktu sepuluh tahun terakhir.

Kepastian soal identitas pelaku disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian di RS Bhayangkara kemarin. ”Satu keluarga. Bapaknya bernama Dita Oeprianto,” katanya. Menurut Tito, Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. ”Dita ini otaknya, yang mengorbankan istri dan empat anaknya sekaligus,” imbuh orang nomor satu di jajaran kepolisian tersebut.

Hasil rekonstruksi kejadian menunjukkan cerita yang cukup sulit dipercaya. Dari rumahnya di Wonorejo, keluarga itu berpisah dengan dua kendaraan. Awalnya, mobil Avanza yang dinaiki Dita bersama sang istri Puji Kuswati dan dua anaknya yang paling kecil, berusia 8 dan 12 tahun.

Sementara itu, kendaraan satu lagi adalah sepeda motor yang dikendarai anak pertamanya, Yusuf Fadhil, 18; dan Firman Halim, 16. ”Yang sepeda motor langsung mengarah ke Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel,” lanjut Tito.

Cerita selanjutnya terlihat dalam rekaman CCTV yang viral. Yusuf langsung mengarahkan sepeda motornya masuk ke tempat parkir gereja yang sedang lumayan ramai orang beribadah. Bom pangku yang dipegang Firman pun meledak. Khoiruddin, saksi di SMTB, mengungkapkan bahwa ledakan yang terjadi berdentum keras. Getarannya juga kuat. Bahkan, mengakibatkan kerusakan di sejumlah atap warung miliknya. ”Itu lihat, ambrol plafonnya,” kata dia sambil menunjuk plafon di sisi selatan warung miliknya.

Warung milik pria yang akrab dipanggil Udin itu berlokasi hanya sekitar 100 meter dari titik pengeboman. Persisnya di sebelah barat pos sekuriti yang hancur lebur. Saat terjadi ledakan, dia gemetar. Karena itu, dia memilih tak menolong para korban. Yang dia lakukan hanya berteriak dan berjalan di sekitar warung miliknya. ”Nggak berani saya,” ujarnya.

Di bagian lain, Dita mengendarai mobil Toyota Avanza hitam bersama Puji, Fadhila, dan Famela. Mereka menyusuri Jalan Diponegoro. Dita lantas menurunkan anak dan istrinya di dekat GKI. Terjadilah pengeboman sekitar pukul 07.30, dengan cara yang cukup dramatis dan sempat terekam CCTV.

Begitu memasuki halaman GKI, tiga pelaku dihadang seorang petugas keamanan. Satpam yang kemudian diketahui bernama Yesaya itu menarik pelaku yang paling dewasa. Mengetahui hal tersebut, pelaku sontak mengaktifkan dua bom yang diletakkan di perut dua anak itu.

Bom pertama meledak di anak paling tua. Menyusul, ke anak terakhir yang dibawa pelaku paling dewasa tersebut. Untung, aksi Yesaya berhasil menggagalkan pengaktifan bom yang berada di perut pelaku yang paling dewasa. Namun, pelaku paling dewasa juga meninggal akibat pengeboman yang dilakukan. Sebab, dia terkena serpihan bom yang diaktifkan sebelumnya. Sementara itu, keadaan Yesaya kritis. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit. Satu bom yang lain kemudian di-disposal petugas Gegana.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian datang dan meninjau lokasi kejadian. Dia di lokasi tidak sampai sepuluh menit. Lalu, memutuskan menuju ke TKP gereja di Ngagel. Presiden Joko Widodo datang agak lebih sore. Sekitar pukul 16.00. Persis sebagaimana Tito, Jokowi langsung pergi setelah hampir 15 menit berselang.

Presiden Jokowi mengecam tindakan teror di Surabaya. Dia meminta masyarakat tetap tenang dan waspada. RI-1 sudah memerintah Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan tersebut.

”Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab,” kecamnya.

Yang paling disesalkan Jokowi adalah para pelaku memanfaatkan anak-anak mereka. ”Anak yang tidak berdosa digunakan pelaku bom bunuh diri,” ucapnya.

Dia menekankan bahwa terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran agama. ”Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa dalam rasa dukacita kita semua atas jatuhnya korban,” katanya.

Mantan wali kota Solo itu memastikan seluruh biaya perawatan untuk penyembuhan para korban bakal ditanggung pemerintah. ”Negara menjamin semuanya,” tegas Jokowi.

Agar kejadian serupa tak terulang, Jokowi meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengusut tuntas kasus tersebut. Dia ingin jaringan teroris yang didalangi JAD (Jamaah Ansharut Daulah) itu dibongkar dan diberangus hingga ke akar-akarnya.

”Seluruh aparat negara tidak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini,” tandasnya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta dukungan presiden untuk bisa melakukan tindakan tegas. Dia menyebutkan, serangan di Surabaya kemarin dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Mereka merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia.

’’Kami sudah melapor kepada bapak presiden bahwa Polri, TNI, dan BIN ini bergerak dan kami akan merapatkan barisan,’’ kata Tito saat meninjau lokasi ledakan di Surabaya kemarin.

’’Ke depan saya meminta bapak panglima TNI. Beliau nanti mengirim kekuatan untuk melakukan operasi bersama,’’ lanjutnya.

Dalam operasi bersama itu, Tito menegaskan akan menangkap kelompok-kelompok dan sel-sel JAD-JAT. Juga, mereka yang diduga akan melakukan aksi. Operasi itu tidak akan mudah karena kelompok-kelompok teroris tersebut juga terlatih. Karena itu, dibutuhkan backup TNI. ’’Mereka mengerti cara menghindari deteksi intelijen,’’ ucap Tito.

Dita yang kemarin mengajak anak istrinya melakukan pengeboman beberapa waktu lalu pulang dari Syria. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran tersendiri. Dita dan keluarganya yang terlihat biasa-biasa saja seperti warga kebanyakan malah menjadi pelaku bom bunuh diri.

Di Indonesia cukup banyak orang yang baru pulang dari Syria untuk berjihad. Total ada 1.100 warga negara Indonesia yang pergi ke Syria. Sekitar 500 orang masih berada di Syria, sedangkan sekitar 500 lainnya dideportasi kembali ke Indonesia. ’’Ini menjadi tantangan kami. Karena mindset mereka masih mindset ideologi ISIS,’’ ungkap Tito.

3 Bom High Explosive

Pihak kepolisian sendiri langsung bergerak cepat. Pada malam hari usai kejadian, polisi melakukan penggeledahan di rumah terduga pengebom gereja, di Perumahan Wonorejo Asri Blok K/22A, Rungkut, Surabaya. Polisi menemukan tiga bom high explosive yang langsung diledakkan tim penjinak bom.

“Jadi ada sejenis tempat plastik itu isinya di tiap kotak plastik itu ada dua pipa, jadi ada tiga, masing-masing plastik ada dua pipa. Jadi total ada tiga (bom),” kata Kapolrestabes Surabaya, Kombes Rudi Setiawan, dalam konferensi pers di depan rumah teroris Dita Oepriarto, Minggu (13/5).

Bom tersebut masuk kategori TATP. Daya ledak bom ini masuk kategori high explosive.

“Dari tim oleh TKP tadi dirakitnya di rumah tersebut, itu termasuk high explosive,” ungkapnya.

Selain menemukan bom, polisi juga menemukan sejumlah barang lain. Semuanya sedang diteliti.

“Rumah itu berantakan dan di bagian belakang ada lesan panah (papan target), ada anak panah dan busurnya menancap, terlihat sering digunakan keluarga tersebut. Ada juga beberapa dokumen, ada beberapa buku, ada beberapa tulisan, ada beberapa pesan sedang kita kumpulkan,” pungkasnya. (jpg/dtk)

Facebook Comments