Radar Batang

Sulap Gunungan Sampah Jadi Simpanan Hari Raya

*Menilik Kegiatan Bank Sampah KUB Resik Asri Desa Simbang Jati

Dua tahun lalu, mungkin bakal banyak sampah yang ada temui jika melewati Desa Simbangjati, Kecamatan Tulis Batang. Namun itu dulu, sekarang para ibu-ibu di desa yang berada di utara jalur pantura ini semangat untuk mengumpulkan sampah. Sampah-sampah yang sebelumnya dipilah jenisnya ini kemudian disetorkan ke bank sampah yang merupakan CSR dari PT Bhimasena Power Indonesia. Hasilnya, mereka pun punya simpanan uang yang bisa ditarik menjelang Hari Raya Idul Fitri. NOVIA ROCHMAWATITulis

Menilik Kegiatan Bank Sampah KUB Resik Asri Desa Simbang Jati

TIMBANG – Kader Bank Sampah KUB Resik Asri saat menimbang sampah yang
dikumpulkan nasabah bank sampah.
NOVIA ROCHMAWATI / RADAR PEKALONGAN

Ramadan tinggal menghitung hari, berbagai persiapan pun dilakukan muslim di dunia untuk menyambut bulan mulia ini. Tak jarang aneka kebutuhan hari raya yang masih sebulan lebih datangnya mulai jadi pikiran. Bergantung pada penghasilan kepala keluarga pun menjadi pilihan beberapa orang.

Namun tidak bagi para ibu-ibu nasabah Bank Sampah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Resik Asri Desa Simbangjati Kecamatan Tulis. Sudah dua tahun lebih mereka mampu mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka menjelang lebaran, lewat sampah. Salah satunya, Rutisih (43) yang menjadi nasabah dengan simpanan hari raya terbanyak, sekitar Rp200 ribu lebih.

Di bank sampah, Rutisih dapat menukarkan aneka sampah dengan rupiah. Sampah sendiri per kilonya dihargai mulai Rp250-1.700, sesuai dengan jenis sampahnya. Sampah yang telah dipilah dari rumah pun dihargai lebih mahal dari yang belum dipilah. Rupiah yang dihasilkan ini nantinya akan disimpan dalam bentuk tabungan hari raya. Para nasabah nantinya dapat menukarkan sampah yang dikumpulkan tiap bulan menjelang Idul Fitri.

“Tak cuma saya mbak, sekarang ibu-ibu di Simbangjati kali lihat sampah dikit di jalan langsung dipungut. Karena sekarang ada bank sampah, jadi sampah-sampahnya bisa ditukarkan dengan uang. Meski tidak seberapa kalau dikumpulkan terus menerus jadi banyak juga. Dan bisa diambil menjelang hari raya. Lumayan bisa untuk tambahan keperluan hari raya. Tapi ya yang lebih penting kami juga bisa berkontribusi untuk Simbangjati yang lebih sehat,” terang perempuan yang juga wakil ketua bank sampah ini saat diwawancarai, Sabtu (12/5).

Lebih lanjut, Ketua Bank Sampah Resik Asri, Desy Permana didampingi sekretarisnya, Wiwik menerangkan, bank sampah ini merupakan KUB binaan CSR PT BPI. Tak hanya Bank Sampah, di desanya sendiri juga menjadi mitra CSR PT BPI dalam aneka usaha dan program lainnya. Sejak juni 2016 lalu Bank sampah ini mulai aktif. Meski tadinya hanya memiliki sekitar 11 nasabah, kini bank sampah yang letaknya tak jauh dari balai desa ini sudah memiliki sekitar 80 nasabah.

Untuk penimbangan sampah sendiri dilakukan sekali dalam sebulan. Setelah sampah terkumpul nantinya sampah akan diserahkan ke pengepul yang sudah bekerja sama. Dalam sebulan, KUB Resik Asri mampu menghimpun 50-130 kilogram sampah. Jumlah tersebut merupakan hasil dari setoran dan kerja keras dari ibu-ibu yang memungut dan memilah sampah.

“Awalnya memang yang memulai ya kader, karena kami sebagai contoh pula. Alhamdulillah setelah sosialisasi yang beberapa kali difasilitasi pula oleh BPI banyak ibu-ibu yang sadar. Terutama sadar untuk menjaga lingkungan. Sehingga sekarang nasabahnya semakin banyak. Kami dari kader sendiri juga semangat melihat ibu-ibu yang semangat pula. Bahkan kadang ada yang rela menempuh jarak 1 kilo kesini untuk melakukan penimbangan sampah,” imbuh Desy.

KUB Resik Asri yang kini sudah memiliki 10 kader ini pun sempat dinobatkan sebagai bank sampah teraktif dengan jumlah tonase sampah terbanyak oleh PT BPI tahun 2017 lalu. Pihaknya sendiri merasa bangga karena bisa bersama masyarakat dapat mewujudkan Simbangjati yang bersih dan sehat.

Pihaknya juga mengapresiasi PT BPI yang telah memfasilitasi pembentukan Bank Sampah. Selanjutnya pihaknya juga berharap Bank Sampah ini dapat dikembangkan menggunakan dana desa. Sehingga makin dapat menampung lebih banyak sampah dan membuat masyarakat lebih termotivasi lagi.

“Kami berterima kasih pada BPI, meski mereka pihak swasta tapi mereka juga peduli pada desa kami. Jadi ke depan kami harap dapat mengembangkan bank sampah ini dengan anggaran dana desa. Karena bangunan bank sampah ini kan yang sebalah sana masih menggunakan papan kayu. Nah kami harap ke depan bisa dibangun bangunan yang lebih permanen. Dan kami harap kehadiran bank sampah ini dapat menjadi wadah untuk kebersihan lingkungan sekitar. Dan mampu membantu para ibu-ibu rumah tangga yang lebih mandiri,” tandasya. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati

Facebook Comments