Features

Muhammad Zufron, Tunanetra yang Gelar Pertunjukan di Enam Negara

*Ajarkan Budaya Melalui Gamelan dan Rebana

Budaya itu milik semua orang. Tak terkecuali tunanetra. Untuk itu, Muhammad Zufron mengajarkan gamelan kepada para tunanetra. Untuk itu, dia dan tunanetra lainnya berusaha melestarikan. NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

Muhammad Zufron, Tunanetra yang Gelar Pertunjukan di Enam Negara

SENANG SENI: Penyandang tunanetra Muhammad Zufron dan Fatkhur Rohman di ruang gamelan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus.
NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS

PAGI itu cuaca cerah. Matahari cukup bersahabat. Tak heran, usai mendapatkan pelajaran, penyandang tunanetra berhamburan keluar ruangan. Mereka menuju tempat favorit. Ada yang ke taman, duduk di depan asrama hingga ruang gamelan.

Guru mereka, Muhammad Zufron berjalan di belakang muridnya. Dia juga tunanetra. Saat menyusuri jalan dia hati-hati. Meski sudah familiar, dia nyaris membentur kayu penyangga. Beruntung, tangannya tanggap dan meraih kayu terlebih dahulu. Setelah itu, menaiki tangga. “Yang jatuh jempalikan ya sudah biasa. Saya juga sering terjatuh,” kata lelaki berusia 50 tahun ini. Maklum, jalanan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Kudus seperti rumah sakit. Panjang dan berkelok.

Sesampai di ruang gamelan, Imron mengecek alat-alat gemelan. Setelah itu, gending Jawa mulai terdengar. Murid-muridnya mengiringi Imron. Gambang, demung, peking, bonang, kendang, dan gong ditabuh bergantian sesuai bagiannya. Lagu Kebo Giro terdengar begitu merdu. Seolah-olah mengiring pertemuan sepasang pengantin.

Zufron atau yang lebih akrab disapa Imron ini sudah sepuluh tahun mengajar seni. Baik seni musik, gendhing, maupun rebana. Meski tunanetra dan mengajar tunanetra, Imron mengaku, senang menjalani profesi ini. Bahkan, dia ingin menjadikan anak didiknya mencintai seni dan budaya.

Lelaki kelahiran Kudus, 11 April 1968 mengatakan, mulai mencintai musik sejak duduk dibangku SDLB. Saat itu hanya senang mendengarkan musik. Baru saat duduk dibangku SMPLB di Pemalang, Imron bermain gitar. Setelah sekolah musik di Bandung, dia bermain berbagai alat musik. Di antaranya drum, piano, bass, gamelan, hingga rebana. Rata-rata dikuasainya. “Saya belajarnya empiris. Diskusi dengan teman dan langsung praktik,” katanya.

Memiliki musikalitas dan minat yang tinggi, Imron membentuk grup band. Dia dan temannya mulai show di beberapa kafe di Bandung. Beberapa saat kemudian, dia mulai dikontrak salah satu restoran untuk manggung selama tiga tahun. “Dulu sekali manggung saya digaji Rp 150 ribu. Cukup mahal. Sebab, saat itu 1993,” ujarnya.

Meski tunanetra, pergaulan dengan band asal Bandung cukup banyak. Dia mengenal personil Noah yang saat itu bernama Peterpan. Selain itu, dia juga mengenal Naff, Rika Roeslan, dan sederet pemusik papan atas lainnya.

Tak cukup sampai disitu, Imron mengambil kesempatan untuk manggung di Papua. Gajinya lumayan. Sekali manggung, Imron bisa mengantongi uang Rp 1 juta. Kariernya semakin mulus saat dia show di beberapa negara. Mulai di Singapura, Australia, Beijing, Maroko, Italia, hingga Spanyol. Ini membuktikan, dia diperhitungkan. “Di dalam grup itu, tidak semua tunanetra. Ada yang normal. Jadi saya bersyukur bisa mewakili para tunanetra dalam show tersebut,” katanya. Show itu berlangsung sejak 1993 hingga 1998.

Karena suasana politik tidak kondusif, Imron pulang ke Kudus. Sempat menolak mengajar, akhirnya pada 2006 dia memulai mengajar musik di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus.

Karena belum pernah mengajar, dia sulit. Komunikasinya harus personal. Tidak boleh kolektif seperti sekolah normal. Maka, untuk langkah pertama mengajar, dia memulai dengan memberikan teori musik. Setelah itu, baru praktik. “Kalau hanya bisa main musik kurang baik, kalau hanya tahu teorinya juga kurang baik. Maka, saya harus memberi keduanya. Ya, teori dan praktik main musik,” ungkapnya sambil memainkan kendang.

Tak hanya mengajar musik, dia juga konsen mengajar gamelan. Baginya seni tradisional ini mulai terpinggirkan. Tidak banyak sekolah yang melestarikan seni satu ini. Selain peralatannya mahal, tidak banyak guru gamelan. Untuk itu, dia ingin melestarikan seni satu ini sebegai warisan budaya.

“Budaya itu milik semua orang. Tak terkecuali tunanetra. Salah satu cabangnya yakni kesenian gamelan. Untuk itu, visi saya mengajar jelas sebagai penerus kebudayaan. Untuk itu saya dan tunanetra lainnya wajib melestarikan,” terangnya.

Selama dua belas tahun mengajar, panti telah mengantarkan anak-anak menjadi juara. Salah satunya menjadi juara I musik tingkat Jawa Tengah. Selain itu, peserta didik sering diundang ke acara pengajian untuk bermain rebana. “Lumayan untuk pengalaman,” paparnya.

Fatkhur Rohman, salah satu peserta didik mengatakan, senang bermain musik. Dia menguasai berbagai alat musik seperti gitar, drum, piano, hingga bass. Selain itu, dia mampu memainkan gamelan dan rebana. “Rebana malah sejak kecil sudah belajar. Jadi sudah terbiasa,” katanya bersemangat. (*/ris)

Facebook Comments