Nasional

Prostitusi Online Marak di Berbagai Daerah

Prostitusi Online Marak di Berbagai Daerah

DITUNJUKKAN – Salah media sosial yang digunakan untuk transaksi prostitusi.
AGUS WIBOWO/RADAR TEGAL

*Bisa Booking lewat Aplikasi Smartphone

Zaman sekarang, transaksi prostitusi bisa dilakukan di mana saja. Bahkan sambil tiduran di kamar semua bisa berjalan dengan cepat. Kemajuan teknologi sangat mendukung sistem yang kian berkembang hingga tidak bisa dikontrol lagi. Ingin tahu seperti apa sistem transaksi prostitusi online yang sekarang kian marak di Kota Tegal? Berikut ulasannya.

Hasil penelusuran Radar, ternyata modus ‘binsis’ prostitusi melalui media sosial (medsos) di Kota Tegal caranya cukup simpel. Jika dulu para wanita Pekerja Seks Komersil (PSK) melakukan ‘bisnis lendir’ ini dengan cara konvensional seperti mangkal di emperan jalan atau lokalisasi, sekarang cukup bermodal internet dan gadget bisa menarik pelanggan untuk menawarkan jasanya.

Sarana transaksinya bisa melalui Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, WeChat dan aplikasi BeeTalk. Khusus aplikasi yang disebut terakhir, Radar melihat ada banyak sisi kelebihannya sehingga paling banyak digunakan untuk bertransaksi esek-esek online. Kelebihan aplikasi BeeTalk, selain biasa digunakan sebagai medsos pencari teman di dunia maya (internet), juga ketika konsumen melakukan chat dengan si PSK akan segera terhapus. Dalam aplikasi ini, penerima pesan hanya bisa melihat kiriman dalam 10 detik, selanjutnya secara otomatis pesan tadi terhapus.

Apapun yang dibicarakan tak akan meninggalkan bekas. Jika di-capture tak semua percakapan bisa tertangkap layar. Ini menjadi alasan kenapa aplikasi BeeTalk lebih disukai para pelaku prostitusi online. Kemudahan lainnya, aplikasi ini juga bisa memberitahukan keberadaan teman terdekat melalui Global Positioning System atau GPS.

Aplikasi ngobrol rahasia ala BeeTalk yang dirilis tahun 2014 ini memang sudah sangat banyak penggunanya. Namun, tak semua perempuan bisa diajak kencan sesaat lewat aplikasi ini. Ada banyak juga yang memanfaatkan kelebihan BeeTalk hanya sebatas untuk pergaulan sosial seperti mencari teman.

Karena tertarik, Radar coba men-download aplikasi BeeTalk. Tak lama tiba-tiba muncul pemberitahuan seorang perempuan muda menggunakan nama samara Melati meminta pertemanan. Setelah disetujui, percakapan melalui chating pun berlangsung.

Radar: Hai Melati…

Melati: Hai…

Radar: ST (singkatan short time) berapa?

Melati: 900 (Rp 900 ribu)

Radar: Nggak kurang?

Melati: 500 (Rp 500 ribu).

Setelah tarif disepakati, selanjutnya menentukan waktu dan tempat.

Radar: Jam berapa bisa? Di mana? Kamar (nomor) berapa?

Melati lalu menulis nama hotel, tapi belum memberitahukan kamar nomor berapa. Setelah mendatangi hotel yang disebut, begitu diberitahukan Radar sudah berada di sekitar hotel, Melati langsung menghubungi melalui layanan telepon pada aplikasi. Bahkan, dia memberikan nomor teleponnya yang bisa dihubungi lalu menyusuh Radar masuk ke kamar. Begitu diketuk, pintu kamar hotel terbuka. Dari balik pintu terlihat sosok wanita berambut panjang dengan senyuman menyambut. Ia mempersilakan Radar masuk. Begitulah cerita singkat praktik prostitusi online di Kota Bahari ini.

Sekilas, transaksi online ini layaknya prostitusi konvensional. Ada tawar menawar harga. Berdasarkan penelusuran Radar, berbicara tarif nilainya bervariasi. Mulai Rp 500 ribu sekali kencan, hingga jutaan rupiah. Berbeda dengan tawaran pijat melalui online yang tarifnya mulai Rp 200 hingga Rp 500 ribu.

MUDAH DIAKSES

“Ya, cukup mudah memang untuk bisa mengakses mereka (PSK, red). Tanpa saya harus datang ke lokasi, kita bisa langsung menetukan tempatnya,” terang Romi (nama samaran), 34, salah satu pengguna jasa prostitusi online, kepada Radar.

Menurut Romi, dia pernah juga mencoba layanan pijat online, termasuk layanan BO.

“Hanya saja jika tidak hati-hati kita bisa ketipu. Sebab, sekarang banyak akun abal-abal,” ulas pengusaha muda asal Kota Udang, Cirebon, Jawa Barat, yang tinggal di perumahan elit di wilayah Kecamatan Tegal Barat

Maksud akun abal-abal, lanjut Romi, yakni akun tersebut menggunakan foto palsu. Kemudian, saat terjadi transaksi dan mentransfer uang muka, nomor yang sebelumnya bisa diajak komunikasi langsung hilang. Nomor konsumen diblokir.

Kejadian seperti itu juga pernah dialami Dulang, 30, (juga nama samaran). Dulang mengaku sempat menjadi korban aksi penipuan prostitusi online. Setelah mentransfer uang, dirinya sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan pelaku. “Untung saja uang yang saya transfer baru DP. Tapi tetap saja saya rugi,” katanya.

HARUS DISIKAPI SERIUS

Riyadi KS, pengamat sosial sekaligus Ketua Relawan Pendidikan Kota Tegal mengatakan prostitusi online bukan cerita baru. Aplikasi chating merupakan satu di antara sarana untuk jual beli syahwat. Menurutnya, prositusi yang memanfaatkan media daring harus diberantas.

Dia mengatakan, Polri memang jadi andalan karena punya bidang cyber crime. Harus bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk memantau aktivitas prositusi online. Media online itu harusnya digunakan untuk hal positif bukan digunakan negatif seperti ini. Sangat bahaya, namanya juga prositusi.

Media ini bisa diakses semua umur, lebih membuka peluang bagi gadis muda ikut terjerumus sebagai korban. Masalah ini bisa merusak generasi bangsa. “Perlu peran semua pihak untuk meminimalisir pengaruh buruknya. Jangan sampai jatuh banyak korban. Penindakan juga bukan satu-satunya cara meminimalisir prositusi online. Upaya pencegahan masih terbilang lebih efektif. Di mulai dari keluarga, sekolah dan institusi keagamaan,” katanya.

Ketahanan keluarga juga perlu dipertahankan, termasuk menjalankan fungsi keluarga. Kasih sayang, rasa melindungi, sarana keagamaan dan pembinaan itu penting untuk pencegahan.

“Pendidikan di sekolah, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat harus ikut terlibat memberi penguatan. Bisa dikatakan pihak yang terjun ke dunia prositusi sebagai korban. Banyak motif sehingga akhirnya terjebak di dunia hitam ini,” ujarnya.

Motif paling klasik, kata Riyadi, yakni ekonomi, tapi perkembangan saat ini orang terjun ke prositusi tak hanya sekadar untuk mengisi perut. Justru lebih ke pemenuhan gaya hidup.

Urusan perut sebenarnya bisa mencukupi, tapi keinginan gaya hidup belum tentu terpenuhi dengan pendapatan yang terbatas.

Motif lainnya bisa saja persoalan keluarga, pelarian dari masalah malah menjerumuskan ke dunia hitam, seperti prositusi. (gus/wan/fat)

Facebook Comments