Metro Pekalongan

Begini Kronologis Terjadinya Skimming ATM di Pekalongan

*Pelaku Memasang “Spy Cam” pada Mesin ATM

Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pekalongan Kota telah menangkap dua orang yang diduga sebagai pelaku pencurian data ATM (skimming) di sejumlah ATM BRI di Pekalongan pada Rabu (11/4) lalu. bagaimana aksinya ? Wahyu Hidayat, Kota Pekalongan

Begini Kronologis Terjadinya Skimming ATM di Pekalongan

KAMERA PENGINTAI – Inilah gambar kamera pengintai dan peralatan yang digunakan pelaku skimming untuk mencuri data ATM nasabah pada beberapa mesin ATM BRI di Kota Pekalongan.
WAHYU HIDAYAT / RADAR PEKALONGAN

Kedua tersangka, Siswanto (49) warga Desa Banjarsari, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, dan Sugiyanto (38) warga Desa Sidomukti, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, sejak Kamis (12/4) sudah mendekam di sel tahanan Mapolres Pekalongan Kota. Keduanya ditangkap tim Resmob Satreskrim Polres Pekalongan Kota, bekerja sama dengan jajaran Polres Kediri. Keduanya juga merupakan satu komplotan dengan para tersangka skimming di Kediri yang telah ditangkap Polres Kediri.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu, melalui Kasatreskrim AKP Edi Sutrisno, Senin (16/4), menjelaskan secara detail kronologis kasus pencurian data kartu atm (skimming), berdasar pengakuan para tersangka.

Modus skimming ATM ini dilakukan dengan memasang spy cam atau kamera pengintai (kamera tersembunyi) berukuran kecil yang ditempelkan pada sisi kanan bagian dalam penutup tombol penekanan PIN ATM.

Dipaparkan, awalnya tersangka Siswanto dan Sugiyanto direkrut oleh Supeno (tersangka skimming yang sudah ditangkap di Kediri, red). “Keduanya diajak kerja bareng, dijanjikan mendapat upah Rp200 ribu per hari,” katanya.

Siswanto awalnya diajari oleh Supeno cara memasang dan melepas alat berupa spy cam itu. Supeno pula yang melakukan survei lokasi ATM yang akan dipasangi alat tadi.

Kemudian didapatkan empat lokasi mesin ATM, yang kesemuanya merk Hyosung, dan semuanya ATM BRI. Keempat lokasi mesin ATM ini, yakni di ATM BRI SPBU Kertijayan (Buaran, Kabupaten Pekalongan), ATM BRI depan kantor PT Taspen Kota Pekalongan, ATM BRI depan Mapolres Pekalongan Kota, dan ATM BRI depan kampus IAIN Pekalongan.

Selanjutnya, Siswanto mencari struk penarikan ATM di bawah mesin ATM untuk mengetahui ID mesin ATM setempat. Kemudian dia memasang spy cam di sisi kanan bagian dalam pada besi penutup tombol penekanan PIN ATM.

Uniknya, pemasangan dan pencopotan spy cam (kamera pengintai) tersebut dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. “Spy camera itu dipasang dari jam 7 pagi sampai 12 siang, tiap hari, di empat mesin ATM tadi. Fungsinya untuk merekam penombolan PIN ATM oleh nasabah. Tiap jam 12 alat itu dilepas, karena daya tahan baterainya hanya sekitar 4 jam. Aksi ini dilakukan dari tanggal 6 Februari hingga 1 Maret 2018,” ungkapnya.

Setelah itu, Siswanto kembali ke sebuah tempat kos di daerah Pekajangan, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Di tempat kos itu sudah ada Sugiyanto. Alat yang tadinya dipasang di mesin ATM, kemudian diserahkan ke Sugianto. Oleh Sugiyanto, alat itu dibuka, diambil chip atau kartu memorinya, lalu dimasukkan ke card reader, disambungkan ke laptop, dan datanya dimasukkan ke harddisk eksternal.

Seminggu sekali Supeno datang ngambil data tersebut dan memberikan upah ke Siswanto dan Sugiyanto. Masing-masing Rp200 ribu per hari, sehingga sepekan tiap orang mendapat upah Rp1,4 juta dari Supeno.

Kegiatan itu dilakukan terus sampai 1 Maret 2018. Sampai akhirnya, komplotan tersebut ditangkap di Kediri.

Ditambahkan Kasatreskrim, kedua tersangka yang telah ditangkap, baik itu Siswanto maupun Sugiyanto, tidak tahu persis data yang diambil oleh Supeno itu akan dipakai untuk apa. “Mereka hanya diajari cara memasang dan melepas alat dan memindah datanya ke harddisk,” bebernya.

Harddisk berisi data itu selanjutnya oleh Supeno dikirimkan ke Mr X di Jakarta melalui kurir. Diduga selanjutnya data tersebut digunakan Mr X untuk menduplikasi kartu ATM nasabah, dan memakainya untuk menguras rekening nasabah yang bersangkutan.

Edi Sutrisno menambahkan, barang bukti yang telah diamankan terkait kasus ini, antara lain berupa 4 unit spy cam, 1 pinset (penjepit), card reader, laptop, kabel data, harddisk, serta rekaman cctv pada mesin ATM BRI yang menjadi sasaran.

Lebih lanjut dijelaskan pihaknya masih melakukan penyidikan lebih lanjut terhadap para tersangka. Para tersangka akan dijerat dengan Pasal 46 dan atau Pasal 48 UU RI No 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah mjd UU RI No 19 Tahun 2016 tentang ITE (UU ITE). “Ancaman hukumannya enam tahun penjara,” imbuh Kasatreskrim. (way)

Penulis: Wahyu Hidayat | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Facebook Comments