Radar Batang

Visit Batang 2022 dalam Mimpi Besar “Heaven of Asia”

Fauzi Fallas, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang

Fauzi Fallas, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang

Oleh : Fauzi Fallas

Diusianya yang telah menginjak 52 tahun ini- secara resmi berpisah dari Kabupaten Pekalongan pada 8 april 1966- Kabupaten Batang telah memasuki fase usia yang cukup matang. Saat ini, dibawah kepimimpinan duet Bupati Wihaji & Wakil Bupati Suyono ini, nampaknya Batang sedang mengggeliat untuk menata dirinya menuju sebuah kebangkitan.

Wihaji nampaknya menyadari, bahwa Kabupaten Batang saat ini masih kalah dan tertinggal dari Kabupaten tetangga seperti Kota/Kabupaten Pekalongan, Banjarnegara dan Kendal. Data statistik tergambar jelas di tahun 2016 dangan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah diangka 4,93 %, angka yang terendah dibanding Kabupaten tetanga sekitarnya. Bahkan masih rendah di bawah pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang 5,28%. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga masih cukup tinggi dengan 5,82 %. dan terlebih lagi peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) juga masih tergolong rendah.

Dengan modal kepercayaan rakyat yang cukup tinggi dan dengan gaya kepemimpinan yang Familier dan Nyantri, Wihaji kemungkinan akan mudah menggerakkan masyarakat Batang yang bercirikan pluralis dan Agamis itu untuk bersama membangun daerahnya. Wihaji yang punya obsesi besar dengan visi misi dan 10 program unggulannya yang ia canangkan pada saat kampanye yang lalu, sedang berupaya keras untuk mencari terobosan untuk mengejar ketertinggalan sekaligus merealisasikan janji janji politiknya.

Dengan slogan “Guyub Rukun”, nampaknya Wihaji ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Batang, bahwa pembangunan dan kesejahteraan tidak akan terwujud tanpa terciptanya kebersamaan dan kerukunan di masyarakat. Maka, Wihaji ingin membangun “Guyub Rukun” dalam bingkai “Ukhuwah Batangiyah”,untuk menuju Batang yang maju dan sejahtera.

Kabupaten Batang yang secara geografis memiliki kekayaan alam yang cukup berlimpah.. Memiliki pantai laut jawa yang panjangnya ratusan kilometer dengan potensi alam pantai yang cukup indah. Semua itu bisa di sulap menjadi destinasi wisata yang menarik. Maka sangatlah tepat apabila dalam momentum hari jadi Kabupaten Batang ini Wihaji mencanangkan gerakan dengan tema “Áyo investasi lan piknik neng Batang”.. Tema itu mengisyaratkan bahwa Pemerintah Kabupaten Batang sedang menggarap serius kedua sektor ini,. Keterbukaan Investasi dan pengembangan Pariwisata.

Meskipun tetap tidak melupakan sektor Pertanian yang menjadi basic kehidupan mata pencaharian masyarakatnya, Kabupaten Batang termasuk daerah yang menggarap serius dan siap menerima para pemodal untuk bisa berinvestasi. Sementara sektor Pariwisata yang saat ini di akui dalam perkembangannya belum menggembirakan akan menjadi program prioritas. Potensi alam yang luar biasa ini perlu di garap serius, bahkan Wihaji telah ber “mimpi” menjadikan Batang sebagai “Heaven of Asia” dalam program “Visit Batang 2022”.

Wilayah Kabupaten Batang yang luasnya kurang lebih 788 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 827.685 jiwa dan posisinya yang berada di jalur pantura, merupakan pasar yang potensial dan strategis. Dengan penataan tata ruang yang jelas dan ter-arah, akan memberikan kemantapan investor untuk segera datang menanamkan modalnya. Yang tidak kalah penting adalah adanya pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1000 X 2 megawatt di Ujungnegoro Kecamatan Kandeman yang direncanakan beroperasi di 2020. Beroperasinya PLTU Ujung negoro ini akan memberikan dampak positif akan jaminan ketersediaan suplai tenaga listrik bagi masyarakat dan industri di wilayah Kabupaten Batang.

Sektor Pariwisata menjadi impian besar bagi Pemerintah Kabupaten Batang. Melalui sektor ini nampaknya Wihaji ingin mempopulerkan Batang menjadi daerah tujuan wisata di tingkat Nasional dan Inernasional.

Apa yang menjadi ide2 besar Pemerintah Kabupaten Batang memang perlu di apresiasi dan di dukung. Namun pertanyaan besar adalah mungkinkah inovasi dan gagasan besar itu dapat terwujud tanpa adanya dukungan dana dan anggaran yang besar?

Potensi keindahan alam yang tersebar di beberapa titik wilayah selatan dan hamparan pantai yang memanjang di laut utara itu di akui, kondisinya masih bisa dibilang “perawan”. Belum tersentuh oleh tangan tangan kreatif untuk di kembangkan. Kalau selama ini dibeberapa lokasi wisata ada yang sempat di sentuh oleh dinas terkait, alokasi anggaran sangat terbatas yang hanya sekedar untuk pemeliharaan. Tentu saja anggaran yang “setengah hati” itu menyebabkan hasil tidak maksimal.

Tentu saja ketika Pemkab Batang telah berkomitmen menjadikan sektor Paiwisata ini sebagai andalan pertumbuhan ekonomi, maka konsekwensinya adalah berani dan siap dengan komitmen penganggaran yang besar. Sisi lain, harus di akui kemampuan keuangan daerah sangat terbatas. Besaran APBD Kabupaten Batang yang hanya berkisar 1,6 Trilyun rupiah. Sedangkan kemampuan PAD hanya berkisar 220 Milyar rupiah. Mengacu pada realisasi APBD 2017, angka 1,6 trilyun, 65 % terserap untuk pembayaran gaji pegawai, Bantuan Sosial, Hibah dan lainnya. (Belanja Tidak Langsung). Sedangkan sisanya 35% dipergunakan untuk Belanja Langsung yang didalamnya terdapat belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal. Belanja modal adalah belanja untuk membiayai pembangunan, sehingga besaran belanja modal menjadi tolak ukur kemampuan dan komitmen Pemerintah Kabupaten Batang dalam merealisasikan proyek pembangunan.

Sangat disayangkan bahwa selama ini – juga pada anggaran 2017- ini, alokasi anggaran untuk belanja modal sangat kecil hanya berkisar 163 milyar rupiah, lebih kecil daripada belanja barang dan jasa yang besaranya mencapai sekitar 290 milyar rupiah.

Dalam hal ini ketika Wihaji berani melakukan terobosan dengan gagasan besar, maka tentu harus berani pula melakukan terobosan untuk peningkatan belanja yang lebih efisien dan produktif dengan cara memperbaiki struktur alokasi belanja dalam APBD yang antara lain memperbesar belanja modal dan merasionalkan belanja pegawai, belanja barang dan jasa.

Pembenahan dan pengembanagn dibeberapa obyek wisata – termasuk akses jalan- membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tanpa ada langkah pembenahan dan penganggaran yang memadai, mustahil mimpi besar itu akan terwujud.

Solusi lain dalam pengembangan wisata daerah adalah dengan cara kerja sama dengan pihak swasta atau investor. Cara ini banyak di tempuh oleh Pemerintah daerah lain ketika kemampuan keuangan daerah sangat terbatas. Dan ini menjadi sebuah keniscayaan.
Pada akhirnya rakyat memang telah lama memimpikan akan adanya perubahan besar di Kabupaten Batang baik ekonomi, pendidikan dan utamanya peningkatan kesejahteraan rakyat untuk segera terwujud. Dan harapan besar itu bergantung pada pemimpinnya.

SELAMAT HUT HARI JADI  KABUPATEN BATANG Ke 52.

Warungasem, 10 April 2018.

Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang.

Facebook Comments