Features

Wow, 75 Pasangan Kakek Nenek Dinikahkan

*Lega, Akhirnya punya Buku Nikah Setelah Miliki 10 Anak

Dapat menghalalkan pasangan tanpa harus bingung memikirkan biaya, menjadi kebahagian tersendiri bagi 75 pasangan yang dinikahkan secara gratis oleh pemerintah Kabupaten Batang, Minggu (15/4). M Dhia Thufail, Batang

Wow, 75 Pasangan Kakek Nenek Dinikahkan

FOTO BERSAMA – Bupati Batang beserta istri berfoto bersama dengan 75 pasangan yang mengikuti nikah massal dalam rangka HUT Kabupaten Batang ke 52, Minggu (15/4).
M Dhia Thufail / RADAR PEKALONGAN

Berbagai kegiatan digelar dalam menyambut HUT Kabupaten Batang ke 52 pada tahun 2018 ini. Salah satunya adalah nikah massal yang digelar di pendoko kantor Bupati Batang, Minggi (15/4).

Tak hanya pasangan baru yang menikah, bahkan pasangan yang sebelumnya sudah memiliki keturunan namun belum tercatat negara, menggunakan kesempatan ini untuk menikah.

Seperti yang dialami oleh satu diantara pasangan yang sudah menikah siri selama puluhan tahun ini, Tahuri (75) dan Raustri (65) warga Desa Kecepak, Batang. Kini, kedua sejoli itu akhirnya bisa merasa lega, setelah memiliki buku nikah.

Sepasang kakek dan nenek ini selama puluhan tahun menikah di bawah tangan hingga sampai dikaruniai 10 orang anak dan belasan cucu. Kini mereka bisa memiliki buku nikah bersama 75 pasangan lainnya.

“Nikahnya, kapan lupa. Zaman dulu, dinikahkan oleh kiyai di kampung. Alhamdulillah, sekarang sudah memiliki buku nikah,” ungkap Tahuri saat ditemui sebelum diarak bersama 75 pasangan lainnya, yang mengikuti program nikah massal di Kabupaten Batang.

Sebelum dilakukan acara resepsi, 75 pasang pengantin ini diarak dari Rumah Dinas Bupati Batang menuju ke Pendopo Kabupaten Batang. Menggunakan pakaian pengantin adat jawa berwarma kuning emas dan iringan lantunan musik dari grup rebana, tampak wajah sumringah senang para peserta pasangan nikah massal.

Bupati Batang Wihaji bersama Wakil Bupati Batang Suyono ikut mengiringi jalannya arak – arakan. Bupati menjelaskan, bahwa gelaran nikah massal tersebut diadakan dalam rangka Hari Jadi ke-52 Kabupaten Batang.

“Kegiatan isbat nikah masal ini kita selenggarakan bagi pasangan suami istri yang telah lama menikah, namun terkendala dalam pencatatan,” kata Wihaji.

Ia mengungkapkan, bahwa sebenarnya, Pemkab Batang hanya menargetkan menjaring 52 orang pasangan yang akan dinikahkan. Namun target tersebut meleset. Karena ternyata, sampai dengan ditutupnya pendaftaran, ada 115 orang pasangan yang berantusias untuk mengikuti jalannya nikah massal.

“Pelaksanaan sidang sudah dilakukan bertahap, dan pada hari Minggu ini hanya upacara resepsinya saja, yang diikuti oleh 75 pasangan dari 82 orang pasangan yang mendaftar,” jelas Bupati Wihaji setelah usai resepsi mantu.

Wihaji berpesan, setelah menerima kutipan akta nikah dari KUA Kecamatan, maka diharapkan seluruh peserta nikah massal untuk dapat segera membuatkan akta kelahiran bagi anak di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

“Anak yang telah lahir dari pernikahan itu dapat dimintakan akta kelahiran di catatan sipil, maka konsekwensi hukum negara atas pernikahan itu dapat tersambungkan baik status anak, waris dan sebagainya,” terang Wihaji.

Sementara itu ditambahkan Kabag Kesra Suprapto, bahwa program nikah massal ini banyak menyedot antusiasme masyarakat Kabupaten Batang. Terbukti, ada 115 pasangan yang mendaftarkan diri untuk melegalkan hubungannya.

“Yang mendaftarkan diri ada 115 pasangan. Namun yang lolos seleksi administrasi dan persyaratan hanya 75 pasangan saja,” bebernya.

Disebutkan Prapto, dari 75 pasangan tersebut yang termuda berumur 21 tahun sedang pengantin tertua berumur 78 tahun. Untuk resepsi pernikahanya, kata Prapto, Pemkab bekerjasama dengan Himpunan Perias Indonesia (HARPI) tanpa biaya atau gratis.

“Kami juga bekerjasama dengan HARPI Batang, mereka yang memberikan rias pengantin secara gratis termasuk pade-pade selama respesi. Serta dihibur rebana dan grup Campur Sari Ngaku salah. Ditutup oleh siraman rokhani dari KH Duari Asy’ari dari Semarang,” tandasnya. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Facebook Comments