Radar Pendidikan

Bangun Pasar, Pemkab Ajukan Proposal ke Gubernur

Bangun Pasar, Pemkab Ajukan Proposal ke Gubernur

SAMBANGI – Bupati Mirna Annisa sambangi pedagang Pasar Pagi Kaliwungu.
NUR KHOLID MS / RADAR PEKALONGAN

*Namun Belum Terealisasi

KENDAL – Terkatung-katungnya pembangunan Pasar Pagi Kaliwungu yang terbakar terjawab. Ternyata, untuk membangunan pasar tersebut, Pemkab Kendal telah mengajukan anggaran pembangunan kembali Pasar Pagi Kaliwungu ke Gubernur Jawa Tengah dan mengajukan proposal ke kementerian. Hal itu karena kebakaran Pasar Pagi Kaliwungu adalah peristiwa bencana. Namun sayang hingga kini belum terealisasi.

Hal itu disampaikan Bupati Kendal, Mirna Annisa, menanggapi aksi demo yang dilakukan ratusan pedagang Pasar Pagi Kaliwungu, belum lama ini. Bahkan, Pemkab juga telah mengusulkan pembangunan pasar tersebut di awal anggaran pada anggaran tahun 2019.

Pada kesempatan itu, Bupati juga menanggapai soal retribusi yang dikeluhkan pedagang. Yakni, mengusulkan untuk memberikan dispensasi secara gratis kepada para pedagang. Dispensasi itu diberikan selama proses pelaksanaan pembangunan rehabilitasi Pasar Pagi Kaliwungu berjalan.

“Saya berterima kasih pada para pedagang yang telah ikut membantu membersihkan pasar sehingga pasar dapat digunakan untuk kegiatan jual beli sementara,” kata dia.

Bupati berpesan agar selama proses pembangunan rehab Pasar Pagi Kaliwungu agar tidak ada pihak-pihak lain yang menunggangi untuk kepentingan tertentu.

Sebelumnya diberitakan, ratusan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Kaliwungu menggelar demo di depan Kantor Bupati Kendal, Kamis (12/4). Mereka kecewa dengan Bupati Kendal yang tak kunjung membangun Pasar Pagi Kaliwungu paska kebakaran pada tanggal 19 Agustus 2017. Mereka juga mengeluhkan atas kenaikan retribusi pasar yang tinggi hingga membuat pedagang klimpungan.

Dalam aksinya, pedagang membawa berbagai sepanduk dan poster. Mereka mendapatkan pengawalan ketat dari polisi Polsek Kaliwungu dan Polres Kendal.

Dalam orasinya, menyebutkan bahwa pedagang merupakan urat nadinya ekonomi dan juga ikon Kabupaten Kendal. Namun selama ini pedagang selalu didholimi. Ini terbukti bahwa dalam Bab 2 dan Bab 4, Pasal 8, UU No 10 tahun 2016, bahwa pedagang berhak untuk mendapatkan fasilitas tempat berdagang secara baik dan terorganisir namun realitasnya pedagang telah dibohongi. Karena paska kebakaran Pasar Pagi Kaliwungu tersebut, pedaganglah yang membuat bedeng (tempat berjualan) sendiri, sementara kewajiban pedagang untuk membayar retribusi selalu tertib. Ironisnya retribusi pasar selalu dinaikan. Hal ini terbukti, sebelum terbakarnya Pasar Pagi Kaliwungu retribusi yang dibebankan kepada pedagang sebesar Rp 115.000, namun paska kebakaran naik sebesar Rp 132.000. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments