Radar Kendal

Kecewa, Ratusan Pedagang Demo

Kecewa, Ratusan Pedagang Demo

DEMO – Ratusan pedagang Pasar Pagi Kaliwungu demo di Kantor Bupati Kendal tuntut kejelasan pembangunan Pasar Pagi Kaliwungu paska terbakar.
NUR KHOLID MS / RADAR PEKALONGAN

*Bu Mirna, Kapan Pasar Pagi Kaliwungu Dibangun?

KENDAL – Ratusan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Kaliwungu menggelar demo di depan Kantor Bupati Kendal, Kamis (12/4). Pedagang kecewa dengan Bupati Kendal yang tak kunjung membangun Pasar Pagi Kaliwungu paska kebakaran pada tanggal 19 Agustus 2017.

Mereka juga mengeluhkan kenaikan retribusi pasar cukup tinggi hingga membuat pedagang klimpungan. Hal itu berbanding terbalik dengan omset yang menurun drastis pedagang paska kebakaran. Dalam aksinya, pedagang yang membawa berbagai sepanduk dan poster mendapatkan pengawalan dari polisi Polsek Kaliwungu dan Polres Kendal.

Saat aksi, pendemo menyebutkan bahwa pedagang merupakan urat nadinya ekonomi dan juga ikon Kabupaten Kendal. Namun selama ini pedagang selalu didholimi. Itu terbukti dalam Bab 2 dan Bab 4, Pasal 8, UU No 10 tahun 2016, bahwa pedagang berhak untuk mendapatkan fasilitas tempat berdagang secara baik dan terorganisir, namun realitasnya pedagang telah dibohongi. Karena paska kebakaran Pasar Pagi Kaliwungu tersebut, pedagang yang membuat bedeng (tempat berjualan) sendiri. Sementara kewajiban pedagang membayar retribusi selalu tertib. Ironisnya, retribusi pasar selalu dinaikan.

Untuk diketahui, retribusi pedagang sebelum terbakarnya Pasar Pagi Kaliwungu sebesar Rp 115.000, namun paska kebakaran naik menjadi Rp 132.000. “Ini kenaikan yang tidak sesuai dengan keinginan harti pedagang. Jelas ini pendholiman dan pembodohan,” kata Mahsun, Ketua Paguyupan Pasar Pagi Kaliwungu.

Lebih parah lagi, per 1 April 2018 retribusi pedagang mengalami kenaikan kembali sebesar Rp 192.000, dengan pembayaranya dilakukan per harinya sebesar Rp 6.400. Kewajiban pedagang dalam membayar retribusi selalu ditaati, tapi hak pedagang tidak mendapatkan perhatian. Sebagaimana diatur Bab 6 Pasal 12, tetang Retribusi bahwa pedagang tidak pernah diajak bicara dan duduk bersama, bahkan pedagang sudah berupaya melakukan audiensi dengan bupati akan tetapi tidaki pernah ada tanggapan. Tak kalah pentingnya, di Bab 5, Pasal 10, pemerintah wajib memberikan pembinaan, bimbingan dan perlindungan kepada pedagang. “Akan tetapi kenyataanya nihil dan bohong. Ini terbukti, yang salah UU nya apa pejabatnya,” ungkap Mahsun.

Di aksi, pedagang menuntut empat hal. Pertama harus ada kejelasan Pemerintah Kabupaten Kendal dalam penghapusan aset paska kebakaran Pasar Pagi Kaliwungu 19 Agustus 2017. Kedua, Pemkab Kendal secepatnya membangun Pasar Pagi Kaliwungu karena kondisi tidak memungkinkan untuk menampung sebanyak 975 pedagang. Selanjutnya, tuntut pembayaran retribusi dikembalikan semula mengingat penghasilan pedagang menurun drastis. “Kita meminta pembangunan Pasar Pagi Kaliwungu diusulkan anggaran perubahan tahun 2018 dan APBD murni tahun 2019,” tegas Mahsun.

Hal senada diungkapkan Mahmulatin. Kata dia, pedagang Pasar Pagi Kaliwungu hanya menuntut hak. Selama ini pedagang sudah melakukan sesuai dengan aturan-aturan namun pedagang didholimi dan tidak pernah ada perhatian. Sudah hampir delapan bulan lebih paska kebakaran Pasar Pagi Kaliwungu, tidak pernah ada perhatian dan tindakan nyata dari bupati untuk melakukan pembangunan Pasar Pagi Kaliwungu. “Kami, pedagang bikin bedeng biaya sendiri tanpa ada bantuan sepeserpun dari pemerintah. Keuangan pedagang saat ini sudah begitu menipis. Semuanya untuk pembangunan pasar pagi tanpa ada bantuan dari pemerintah,” kata dia.Usai menggelar aksi di Kantor Bupati Kendal, ratusan pedagang tersebut kemudian merangsek ke DPRD Kendal untuk melakukan audiensi. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments