Features

Mengenal Lilik Teguh Prasetya Perajin Hadycraft dan Batik Alam Asal Pati

*Tekui Bisnis karena Keluar Memilih dari Bank Pembangunan Daerah

Karir Lilik Teguh Prasetyo di perbankan cukup mulus. Tapi dia harus keluar karena menikah dengan teman sekantor. Pilihan itu justru menghantarkannya menjadi pengusaha yang sukses seperti saat ini. Ia mempunyai puluhan karyawan dan kerajinan tangan dari kuningan diekspor ke luar negeri. SRI PUTJIWATI, Pati

Lilik Teguh Prasetya

Lilik Teguh Prasetya

LUAS showroom batik milik Lilik Teguh Prasetyo itu cukup luas. Disana, ada banyak batik tulis yang dipajang. Diantara batik tulis tersebut ada batik alam yang dibuat dengan pewarnaan dari bahan-bahan ramah lingkungan. Sudah 12 tahun ini dirinya menggeluti pembuatan batik.

Lilik, sapaan pria ini mengaku tak menyangka membuat batik seperti sekarang ini. Mulanya pada 1996 silam, ia keluar dari perusahaan bank yang telah melambungkan karirnya. Dia harus keluar karena menikah dengan teman kantornya. Memahami aturan itu, Lilik mengaku sebelum resign sudah mulai berfikir untuk berwirausaha.

“Awalnya saya bikin asesoris cup lampu dari logam. Kemudian kebutuhan home interior tidak hanya lampu saja. Akhirnya saya mendapat pesanan pernak-pernik lainnya seperti asbak, miniatur hewan dan logam, dan lainnya. Bahan yang saya gunakan dari kuningan dan merambah ke logam dan kawat,” jelasnya.

Usahanya yang dirintis itu terus berkembang. Hingga sekarang dirinya mempunyai 30 karyawan. Handycraft tersebut dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya itu, hasil kerajinan miliknya juga dipesan hingga China, Belanda, Australia, hingga Italia.

Kerajinan yang dibuat dibanderol dengan harga Rp 30 ribu-Rp 1,5 juta. Tergantung dengan bentuk dan kerumitan pesanan. Suami Eny Lestari ini mengaku dari berbisnis kerajinan dari kuningan dan logam, lantas merambah ke pembuatan batik.

Alumni SI Jurusan Agrobisnis INSTIPER Jogjakarta ini mengaku membuat batik 2006 lalu dari pesanan warga membuat cup lampu yang dihiasi dengan kain motif batik. Ia mencoba menghias batik printing tak cocok. Lalu beralih ke batik tulis khas Pati dan pelanggannya senang.

Dari hanya untuk hiasan motif luar hadnycraft, warga Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana ini mencoba membatik sendiri. Kebetulan ada karyawan yang bisa membatik dan memberikan pelatihan kepada Lilik dan karyawan lainnya. Namun pelatihan tersebut dirasa tidak berkembang.

“Kami belajar batik dari teman-teman Jogjakarta dan Solo. Selain membuat handycraft, para karyawan juga membuat batik. Kami mengembangkan motif batik pada proses finishingnya. Orang saat ini menginginkan eksklusif lain dari lainnya. Banyak yang memesan sesuai keinginan tidak ada yang menyamai,” tuturnya.

Dari batik tulis, pria kelahiran 7 Juli 1971 ini mengembangkan batik alam. Sudah lima tahun terakhir, dirinya membuat batik alam. Bahan pewarna batik dari bahan-bahan seperti daun jambu, kulit manggis, kayu mahoni, dan lainnya. Pembuatan batik alam lebih mudah. Tapi memerlukan kesabaran.

“Proses sintesis yang diperlukan hingga 15 kali sampai bahan-bahan alam yang digunakan benar-benar menyatu. Perkembangan batik alam ini bagus. Meski begitu banyak yang kaget karena harganya relatif mahal apalagi tampilan batik alam kurang bagus. Harganya cenderung malah Rp 400 ribu. Lebih mahal dibanding batik warna sintesis Rp 70 ribu-Rp 250 ribu,” urainya. (*)

Facebook Comments