Features

Petani Mampu Produksi Teh Hijau Kualitas Premium

Produk Teh Hijau Paninggaran

TEH HIJAU – Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi didampingi Kepala Dinas Perindagkop UMKM, Hurip Riyantini, pengurus koperasi, petani, dan pemetik pucuk teh menunjukkan produk teh hijau Paninggaran.
TRIYONO

Melihat Kunjungan Bupati di Koperasi Teh Berdikari Makmur

Paguyuban petani teh di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, melalui wadah Koperasi Serba Usaha (KSU) Paninggaran Berdikari Makmur, mampu memproduksi teh hijau kualitas premium. Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi pun mendorong petani Teh terus maju. Seperti apa? Triyono, Peninggaran

Usai acara Tea Time di PT Pagilaran, Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi menyempatkan untuk mengunjungi Koperasi Teh Berdikari Makmur di Paninggaran. Dalam kesempatan itu, Bupati didampingi oleh Kepala Dinas Prindagkop, Sekda Kabupaten Pekalongan dan sejumlah OPD lainnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati disambut oleh sejumlah petani untuk mencicipi Teh hasil olahan Petani yang tanpa pengawet dan benar-benar alami. Dari situlah Bupati mendapat mengetahui sejarah berdirinya Unit Pengolahan Teh KSU Paninggaran Berdikari Makmur berawal dari munculnya paguyuban petani teh di Paninggaran pada tahun 2014.

Selanjutnya, mereka mendapat pendampingan dari Yayasan Jateng Berdikari, Business Watch Indonesia (BWI), dan Pemkab Pekalongan, sehingga munculah koperasi tersebut.

“Kami dengan Yayasan Jateng Berdikari dan pendampingan BWI melakukan pendampingan petani teh di 10 desa, yakni di Desa Paninggaran, Sawangan, Krandegan, Lumeneng, Tanggeran, Bedagung, Kaliboja, Botosari, Lambanggelun, dan Desa Tenogo. Petani yang masuk koperasi sekitar 300 orang, dengan luasan lahan 400 hektar,” terang Ketua KSU Berdikari Makmur, Khalwani.

Dengan bantuan alat pengolah teh dari Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, KSU Paninggaran Berdikari Makmur akhirnya mampu memproduksi teh hijau premium, dengan harga 1 kilogramnya Rp 50 ribu.

“Untuk sementara ini kami baru sedikit menerima order, satu bulan 1 kwintal yang sudah ada MoU dengan kami. Yang lain kami belum berani melakukan kerjasama karena fokus pertama kita memperbaiki lahan untuk perbaikan budidaya tehnya, sehingga pucuk teh tersedia dari petani baru koperasi berani kontrak dengan pembeli,” ungkapnya.

Oleh karena itu, saat ini produksi teh hijau setiap harinya baru sekitar 25 kilogram – 30 kilogram. Untuk pemasaran, selain di pasaran lokal, teh hijau produksi koperasi ini sudah mampu menembus pasar di Bandung, Jakarta, dan sekitarnya. Ke depan, dihrapkan ada investor yang bisa bekerjasama dengan petani untuk nalangi pupuk, sehingga petani bisa bayar setelah panen.

Sementara itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat meninjau pabrik teh rakyat tersebut menyatakan, pabrik teh rakyat tersebut diselenggarakan oleh Koperasi Serba Usaha Berdikari Makmur, dengan produksi berupa teh hijau.

“Yang itu ibu-ibu pemetik, sehari bisa dapat Rp 30 ribu karena memetik 30 kilo, satu kilo diberi ongkos seribu. Yang itu petaninya, sudah cukup sejahtera.

Masyarakat memanfaatkan teknologi tepat guna. Dinas Perindag banyak memberikan bantuan dan pendampingan supaya pabrik yang diinisiasi oleh koperasi ini bisa berkembang terus,” katanya.

Bahkan, Asip berharap semua teh yang diminum oleh ASN di lingkungan Pemkab Pekalongan bisa mengambil dari teh hijau produksi koperasi tersebut. Sebab, lanjut dia, teh produksi Paninggaran ini rasanya enak. Untuk pemasaran sendiri, kata Asip, teh hijau Paninggaran tersebut sudah masuk ke Jawa Barat, sehingga prospeknya bagus.

“Kabupaten Pekalongan ini setapak demi setapak memulai memanfaatkan produk dari daerah sendiri. Sandang, kita sudah ada batik, konveksi dan lain-lain, sekarang kita merambah lagi ke sektor konsumtif, seperti beras kita sudah surplus, kopi kita sudah ada kopi Petung, dan ini adalah teh Paninggaran. Di samping ada pabrik teh Pagilaran Kaliboja, juga ada pabrik teh dari koperasi ini,” katanya. (*)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments