Features

Meski Hasil Pas-pasan, Tapi Jadi Inspirasi untuk Berbagi

Warung Makan Berbagi

PENJUAL MEGONO – Setelah sebelumnya sempat viral di mana-mana, penjual nasi megono asal Kedungwuni yang menggratiskan untuk anak yatim dan duafa setiap Hari Jumat ini menerima banjir pujian.
MUHAMMAD HADIYAN

Warung Makan Mbak Wati yang Viral Gratiskan Yatim-Duafa

Sepasang suami istri penjual nasi megono Pekalongan mendadak jadi buah bibir masyarakat. Dengan penghasilan yang masih pas-pasan, keduanya nekat menggratiskan anak yatim dan duafa setiap Hari Jumat. Seperti apa? M Hadiyan, Kedungwuni

Adalah Ende (35) dan Kus Wati (32), warga Gembong, Kedungwuni Timur, Kabupaten Pekalongan. Meski bukan dari kalangan ekonomi kuat, namun tak memupuskan niat untuk saling berbagi dengan sesama.

Tak sedikit orang yang mencibir dan memandang sebelah mata atas sikap suami istri tersebut. Namun, tak sedikit pula yang kagum dengan gaya beramal penjual megono itu.

“Kami hanya mampunya berbuat seperti ini. Semoga bisa membantu mereka (anak yatim dan duafa) untuk bersarapan,” kata Ende, saat ditemui di lapak jualannya di depan Pasar Kedungwuni, Jumat (6/4).

Sudah dua tahun ini Ende bersama istrinya berjualan Nasi Megono di depan Pasar Kedungwuni. Namun, untuk memberikan layanan gratis pada anak-anak yatim-piatu dan kaum duafa, baru berjalan tiga pekan ini.

“Masih baru tiga minggu (amal ke anak yatim dan duafa). Ini saya lakukan setelah beberapa kali mengaji di Pondok Pesantren Darus Salam Puri, Kedungwuni,” jelasnya.

Sejak ikutan mengaji di pondok tersebut, dirinya tergugah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, sesuai dengan kemampuanya. Warung nasi milik Ende dan istrinya sendiri sengaja dipasang kain pemberitahuan bertuliskan “Warung Makan Mbak Wati, Khusus Hari Jumat, Gratis untuk Anak Yatim dan Dhuafa”.

Warungnya bukanlah warung permanen. Terdiri dari gerobak yang berisi makanan, kompor untuk menggoreng tempe dan tahu sebagai lauk untuk nasi megono. Warungnya memang buka setiap pagi, hanya menyediakan untuk sarapan warga setempat. Biasanya buka dari jam 06.00 hingga pukul 08.00.

“Tidak sedikit yang mencibir. Banyak yang bilang, orang masih susah kok, gaya sodaqoh,” celetuk Ende menirukan cibiran orang lain.

Bagi dia, cibiran dari banyak orang iniah yang justru mencambuk dirinya untuk terus beramal sesuai dengan kemampuanya.

“Kita awali dari diri kita untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Untuk sementara baru seminggu sekali gartis. Ini sebagai wujud rasa syukur kami atas nikmatNya. Insyaallah berkah,” jelasnya.

Bukannya berkurang, pasca membuka layanan gratis setiap Jumat, dirinya justru kebanjiran pesanan. “Syukur Alhamdulillah, berkah mas. Dapat rezeki pesanan. Beramal tidak perlu menjadi kaya dulu,” tandasnya.

Salah satu pelanggan nasi megono milik Ende, Rossa (12), mengaku senang dengan adanya layanan gartis bagi anak yatim seperti dirinya. “Alhamdulillah, senang. Dibantu sarapan,” kata Rossa usai menerima beberapa bungkus Nasi Megono lengkap dengan tempe goreng.

Di tempat yang sama, Gus Rizmy pengasuh Ponpes Darus Salam Puri, Kedungwuni, pada mengaku bangga apa yang telah dilakukan salah satu santrinya tersebut. Menurut Gus Rizmy, pendapatan Ende dan Wati memang masih pas-pasan. Akantetapi, apa yang dilakukan Ende ini menjadi inspirasi bagi yang mampu.

“Dia mencerna apa yang kerap kita ajarkan di pondok. Beramal tidak harus kaya dulu, namun sesuai dengan kemampuan kita. Insyaallah bila ikhlas, akan barokah. Ini seharusnya dapat menjadi cermin buat kita semua, Ende bisa beramal masa kita yang juah bercukupan tidak bisa beramal,” tandasnya (*)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments