Radar Batang

Hindari Statemen yang Provokatif

Drs H Kudaifah M Pdi

Drs H Kudaifah M Pdi

Masyarakat Diminta tetap Sikapi Dewasa

Puisi Sukmawati yang menyerempet isu-isu agama telah memantik sikap protes luas di kalangan Umat Islam. Belajar dari peristiwa itu, Kepala Kantor Kemenag Batang, Drs H Kudaifah M Pdi, berharap para tokoh publik mau belajar untuk tidak mudah mengumbar statemen yang bernuansa provokatif, terlebih terhadap hal-hal yang menyangkut keyakinan.

“Ini sudah terlanjur terjadi, maka yang terpenting semua bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa-peristiwa semacam itu. Bahwa penting bagi setiap warga negara, para tokoh, entah di legislatif, eksekutif maupun yudikatif, untuk terbiasa menyampaikan statemen yang menyenangkan dan menyejukkan,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/3).

Baru-baru ini, puisi Sukmawati berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan di ajang ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018 menjadi viral dan mendapatkan protes banyak kalangan karena dianggap isinya dianggap menyinggung perasaan umat Islam, yakni ketika menyebut soal adzan dan cadar.

Sebelum itu, publik juga dihebohkan dengan pernyataan anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan, dalam rapat bersama Jaksa Agung, yang mengatai Kemenag dengan kata-kata kasar. Baik puisi Sukmawati maupun Arteria Dahlan, keduanya menurut Kudaifah terkait dengan Kemenag.

“Kalau saja para tokoh masyarakat terbiasa menyampaikan pernyataan yang menyejukkan, tentu masyarakat juga sejuk mendengarnya. Bahkan, meski berbeda pandangan politik, budaya, organisasi dan lainnya, masing-masing tetap bisa saling mengapresiasi. Mari belajar dari para pendiri bangsa, mereka berdebat sangat panas di ruang sidang BPUPKI karena menyangkut perbedaan ideologi, tapi keluar dari situ mereka bisa ngopi bareng. Karena etika politiknya luar biasa,” terang dia.

Sebaliknya, Kudaifah juga menghimbau masyarakat, terutama umat islam, tetap bersikap dewasa menyikapi pernyataan-pernyataan provokatif semacam itu. Jika diduga ada pelanggaran, memproses pelaku ke ranah hukum menurut dia justru lebih baik dibandingkan harus mengumbar provokasi yang sama.

“Sebagai bagian dari institusi Kemenag, kami juga tersinggung dengan pernyataan dua tokoh itu. Tetapi sikap Pak Menteri Agama yang sangat dewasa itu juga menjadi rujukan bagi kami di bawah. Jadi, kalaupun berreaksi, tetap dengan cara-cara yang baik dengan mekanisme yang ada. Dalam hal ini, sikap PWNU Jatim kami apresiasi, langkah hukum justru bisa mencegah gejolak massa,” jelas Kudaifah.

Dia meyakini, baik buruknya statemen publik tetap akan dinilai oleh masyarakat. Karena itu, penting untuk tak berlebihan pula membalas pernyataan tokoh yang menyinggung keyakinan masyarakat. “Yakinlah, becik ketitik, olo ketoro. Masyarakat cukup cerdas untuk menilai kualitas tokohnya,” pungkasnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo

Facebook Comments