Metro Pekalongan

Tersangka Peragakan 20 Adegan, Diawali Mabuk-Mabukan

Rekontruksi Pembunuhan

REKONSTRUKSI – Ketiga tersangka, bersama korban dan satu tersangka yang masih DPO (keduanya diperankan orang lain) saat memperagakan rekonstruksi di lapangan Kertoharjo, Pekalongan Selatan, Rabu (4/4) siang.
WAHYU HIDAYAT

KOTA PEKALONGAN – Jajaran Polres Pekalongan Kota, Rabu (4/4) siang melakukan rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan Zaenuri alias Monying (39), warga Jenggot, Pekalongan Selatan pada Selasa, 20 Maret 2018 malam silam.

Rekonstruksi bertempat di TKP asli, yakni lapangan tempat menjemur kain batik milik H Abas di Kertoharjo, Pekalongan Selatan. Adegan rekonstruksi dilakukan tiga tersangka yang telah ditangkap, yakni Huda (23), Nasokha (19), dan Khaeron (20). Selain itu, dihadirkan pula korban dan satu tersangka yang masih DPO (baik korban maupun DPO ini diperankan oleh orang lain).

Pada rekonstruksi ini, mereka memperagakan 20 adegan. Adegan rekonstruksi sama dengan kronologis yang telah disampaikan polisi maupun tersangka pada berita yang pernah ditulis Radar Pekalongan sebelumnya. Terkuak pula kalau korban tewas akibat sabetan senjata tajam yang dibawanya sendiri, serta pukulan menggunakan beberapa bambu yang ada di sekitar TKP.

Insiden penganiayaan berat berupa pembacokan dan pengeroyokan itu diawali dari pesta miras yang dilakukan korban bersama keempat tersangka di Lapangan tempat menjemur kain batik milik H Abas di Kertoharjo, Pekalongan Selatan, pada Selasa (20/3) sore. Kemudian, korban meninggalkan lokasi.

Begitu para tersangka sedang tiduran di TKP, korban pada Selasa (20/3) malam tiba-tiba datang sambil membawa sebilah senjata tajam jenis golok.

Korban mengamuk dan langsung menyerang tersangka bernama Huda. Kejadian itu berlanjut dengan perlawanan oleh Huda bersama ketiga tersangka lainnya. Korban dikeroyok oleh para tersangka, menggunakan golok yang direbut dari tangan tersangka, beberapa batang bambu, dan tangan kosong. Sampai akhirnya korban terkapar bersimbah darah dan meninggal dunia.

Proses rekonstruksi ini disaksikan pula oleh jaksa penuntut umum dari Kejari Kota Pekalongan dan penasehat hukum para tersangka. Puluhan aparat kepolisian dari Polres Pekalongan Kota dan Polsek Pekalongan Selatan juga menjaga ketat sekitar lokasi untuk mencegah masyarakat sekitar yang ingin mendekat melihat jalannya rekonstruksi. Garis polisi pun dipasang mengelilingi areal TKP.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu, melalui Kapolsek Pekalongan Selatan Kompol Junaedi, didampingi Kasatreskrim AKP Edi Sutrisno, menerangkan ada 20 adegan dalam rekonstruksi itu. Dijelaskan pula bahwa rekonstruksi dilakukan untuk melengkapi berkas perkara ke pengadilan.

Sementara, penasehat hukum yang disediakan kepolisian untuk mendampingi para tersangka, M Sokheh, menerangkan rekonstruksi sudah sesuai dengan apa yang disampaikan para tersangka. “Para tersangka sudah mengakui perbuatan mereka,” katanya.

Pihaknya menyatakan akan terus mendampingi para tersangka di persidangan. Ia akan melakukan upaya hukum untuk membela tersangka, dan mencari celah supaya pidana yang dijatuhkan ke para tersangka nantinya di pengadilan bisa lebih ringan dari tuntutan JPU. “Sebab kami melihat bahwa apa yang dilakukan mereka ini sampai korban meninggal dunia adalah untuk membela diri, karena korban yang lebih dahulu melakukan penyerangan,” ungkapnya. (way)

Penulis: Wahyu Hidayat & Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments