Radar Kajen

Ditemukan 1.137 Kasus TBC

Tercatat selama tahun 2017, ditemukan 1.137 kasus penyakit TBC di Kabupaten Pekalongan. Banyak faktor yang memacu tingginya penyakit tuberkulosis ini, mulai dari faktor kemiskinan, pola hidup bersih dan sehat hingga faktor lingkungan. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan mendukung upaya DPRD setempat yang menginisiasi lahirnya Perda Penanggulangan TBC, sehingga ada payung hukum untuk mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Yuda Syuhada, mengatakan, penderita penyakit TBC tersebut hampir tersebar merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Pekalongan, mulai dari wilayah pegunungan hingga pesisir.

Dikatakan, banyak faktor pemicu munculnya penyakit menular ini, di antaranya faktor kemiskinan. “Akibat kemiskinan, pola asupan pangannya kurang diperhatikan dengan baik keseimbangan gizinya kurang. Rumahnya juga kumuh, kurang ventilasi, tidur di kamar berdesak-desakan, dan lantainya biasanya masih berupa tanah,” terangnya.

Dengan lantai berbentuk tanah, lanjut dia, maka lebih rentan cepat penularan penyakit TBC tersebut. Penderita yang meludah di lantai, maka bakteri akan menempel di tanah dan jika tanah itu kering akan beterbangan dan terhirup anggota keluarga lainnya. Faktor pemicu lainnya, lanjut dia, perilaku hidup tidak sehat seperti batuk sembarangan dan meludah sembarangan.

“Kita kasih masker terkadang ndak dipakai. Meludah juga sembarangan. Percikan ludah dari penderita TBC jika terkena orang bisa menular,” ungkapnya.

Untuk penanggulangan, selain penyuluhan budaya hidup bersih dan sehat, penderita penyakit TBC bisa mendapatkan pengobatan gratis selama enam bulan di Puskesmas agar bisa sembuh.

Sementara itu, untuk mengatasi persoalan penyakit TBC di Kabupaten Pekalongan, DPRD membuat Perda inisiatif tentang penanggulangan penyakit TBC. Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan, M Nurkholis, menyatakan, tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global dan nasional. Menurut laporan WHO tahun 2014, di tingkat global diperkirakan 9,6 juta kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus di antaranya adalah perempuan, 1 juta kasus TB anak (di bawah usia 15 tahun), 1,5 juta kematian/tahun karena TB (480.000 perempuan dan 140.000 anak).

Dari kasus TB tersebut, ditemukan 1,1 juta (12 %) HIV positif dengan kematian 320.000 orang, dan 480.000 TB Resistan Obat (TB-RO) dengan kematian 190.000 orang.

Mengingat dampak dari penyakit tuberculosis yang salah satunya adalah menurunnya produktivitas, yang akhirnya dapat mengancam kesejahtraan bagi penderita.

“Tentunya ini menjadi permasalahan kesehatan yang serius dan perlu ditangani secara serius pula, serta komprehensif yang melibatkan pemangku kebijakan yang ada di daerah,” imbuhnya. (yon)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments