Radar Kajen

April, Ada Warning ke Petani

Serangan OPT di Musim Tanam

Dalam Musim Tanam (MT) April hingga September (Asep) 2018, petani diimbau untuk mewaspadai kemungkinan serangan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Jenis OPT padi yang perlu diwaspadai oleh petani meliputi penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, walang sangit, penyakit blast, kresek, dan kerdil rumput atau hampa.

Prediksi dan antisipasi OPT MT Asep dan kegiatan 2018 dalam mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Pekalongan ini disampaikan Muh Isrin dari Laboratorium PHP Pemalang dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan di aula dinas setempat, kemarin.

“Untuk ratio serangan OPT padi 2,55 persen pada Maret 2018,” terang dia.

Perkiraan, serangan OPT utama padi di Kabupaten Pekalongan untuk musim kemarau 2018 meliputi, penggerek batang padi dengan perkiraan serangan minimal 351,6 hektar, wereng batang coklat minimal 134,2 hektar, tikus dengan serangan minimal 128,6 hektar, dan tungro minimal 1,6 hektar. Untuk sasaran tahun 2018 sendiri luas tanam di Kabupaten Pekalongan 46.720 hektar, dengan luas panen 44.053 hektar. Sedangkan produksinya 231.078 ton. Lokasi serangan OPT yang perlu diwaspadai di antaranya, Kecamatan Bojong seluas 890 hektare, Doro (260 ha), Sragi (224 ha), Kesesi (205 ha), Siwalan (203 ha), Kajen (172 ha), Wiradesa (171 ha), Talun (116 ha), dan Karangdadap (104 ha).

Dijelaskan bahwa, untuk kebijakan pengamanan padi dari serangan OPT atau dampak perubahan iklim (DPI) pihaknya menerapkan kebijakan Spot Stop dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Spot Stop merupakan kebijakan gerakan pengendalian dini terhadap titik sumber serangan agar serangan tidak meluas.

“Strateginya sendiri ada upaya preemtif dan responsif,” katanya.

Guna mengantisipasi, lanjut dia, upaya preemtif dilakukan untuk mengupayakan agar agroekosistem tahan atau toleran terhadap OPT. Di antaranya dengan melakukan tanam serentak, pergiliran tanaman, penambahan pupuk organik, pemupukan berimbang, pemilihan varietas tahan, pemanfaatan musuh alami, dan penggunaan tanaman refugia. Sedangkan upaya responsif dilakukan dengan pengamatan atau deteksi dini dan pengendalian dini OPT.

“Apabila terjadi spot maka segera dikendalikan (stop). Dalam ketahanan pangan bukan sekedar kuantitas, tapi kualitasnya juga harus diperhatikan. Sehingga kita dorong penggunaan pupuk organik,” imbuhnya. (yon)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments