Renungan Jum'at

Orang Baik Harus Kuat

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Di berbagai kesempatan selalu saya sampaikan bahwa orang baik harus kuat, karena jika lemah kebaikannya itu tidak bisa memperbaiki. Jangan sampai orang baik kalah kuat, kalah pengaruh, kalah cerdik, kalah langkah, kalah strategi, apalagi kalah mental daripada orang jahat.

Orang jahat selalu berusaha menjaga kesehatannya agar ia bisa terus berbuat jahat. Maling itu merasa rugi jika sakit, karena dengan demikian ia tidak bisa beraksi maling lagi. Bagaimana dengan orang baik? Apakah ia memiliki perasaan rugi jika sakit karena tidak bisa maksimal berbuat baik? Jangan kalah! Maka, orang baik harus lebih baik dalam menjaga kesehatannya daripada orang jahat.

Jika orang jahat satu sama lain bisa bekerjasama dan bersinergi untuk memuluskan kejahatannya, maka orang-orang yang baik-baik harus lebih bisa bekerjasama antar mereka untuk memuluskan proyek-proyek kebaikannya. Jika orang-orang jahat bisa kompak dalam organisasi, ada yang siap memimpin dan ada yang mau dipimpin, maka orang-orang baik jangan ribut sendiri rebutan menjadi pemimpin. Sekali lagi, jangan kalah!

Itulah mengapa Rasulullah SAW menegaskan dalam Hadisnya yang masyhur bahwa: “Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.”

Kebaikan dan kebenaran harus menang. Itulah hakekat perjuangan, hakekat jihad dan hakekat amar ma’ruf nahi mungkar. Buat apa ada perintah berjihad dan amar ma’ruf nahi mungkar jika bukan untuk memenangkan pertempuran melawan kebatilan dan kemungkaran?

Itulah mengapa kebenaran harus diperjuangkan. Dan selalu saya sampaikan pula bahwa kebenaran yang tidak diperjuangkan seperti tubuh yang tidak punya kaki, diam di tempat. Jangan sampai kebenaran kalah hanya karena kita tidak mau memperjungkannya.

Dalam Al-Quran disebutkan: “Katakanlah (wahai Muhammad), telah datang kebenaran dan akan lenyaplah kebatilan” (Qs. Al-Isra [17]: 81). Ayat itu bukan sekedar informasi bahwa kebenaran akan datang. Akan tetapi, ada kalimat: “qul” (katakanlah). Itu artinya perintah untuk memperjuangkan agar kebenaran datang dan kebatilan lenyap.

Artinya, kata “qul” (katakanlah) mengandung makna: perjuangkanlah kebenaran sampai ia benar-benar terwujud, dan sampai kebatilan benar-benar lenyap.

Memperjuangkan kebenaran ada yang bermain di level opini dan ada yang bermain di level praktis. Sama pentingnya! Ingat, opini yang sesat bisa menjadi kebenaran publik. Inilah yang disebut fitnah. Fitnah itu bermain di level opini. Sampai-sampai ada ayat khusus yang memandu kita tentang hal ini.

“Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat [49]:5)

Umat Islam jangan lemah di opini. Saatnya umat memiliki wawasan media dan keterampilan jurnalistik yang canggih. Jangan hanya jadi penonton, jangan hanya bisa copas sana sini, tetapi tidak bisa memproduksi konten. Jangan mau terus-terusan diombang-ambingkan oleh opini-opini sesat dan menyesatkan.

Maka, persiapkan anak-anak muda muslim, terutama para santri melek media dan jurnalistik. Kita sekarang berada di era proxy war; perang yang musuhnya tidak kelihatan. Jangan sampai nanti anak-anak kita gagap menghadapi tantangan zaman; jangan sampai mereka menjadi korban terus.

Jadilah produsen nilai, produsen ide dan gagasan. Islam kaya nilai-nilai; kaya konten, akan tetapi harus diakui kita lemah dalam media dan jurnalistik. Sehingga nilai-nilai Islam tidak bisa maksimal disajikan keluar. Akibatnya kekayaan nilai-nilai luhur yang kita punyai kurang tersyiarkan; kalah tergerus oleh syiar keburukan, kejahatan, kemunafikan dan lain sebagainya. Padahal mengagungkan syiar itu termasuk bagian dari ketakwaan. “Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah bagian dari ketakwaan hati” (Qs. Al-Hajj [22]: 32)

Orang-orang baik jangan kalah, bangkit dan lakukan perlawanan sampai kebenaran benar-benar tegak dan kebatilan benar-benar lenyap. Jangan lelah untuk terus memperjuangkannya.

Saatnya umat Islam bangun dari tidur panjangnya. Ingat perintah Allah: “Hai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan!” (Qs. Al-Muddatsir [74]: 1-2) (*)

Penulis: KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Facebook Comments