Metro Pekalongan

Kapal Enggan Lelang di TPI Pekalongan

Kapal Berlabuh

BERLABUH – Jumlah kapal yang melakukan lelang ikan di TPI Pekalongan, semakin mengalami penurunan.

KOTA PEKALONGAN – Jumlah kapal yang melakukan lelang ikan di TPI Pekalongan, semakin mengalami penurunan. Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab TPI Pekalongan semakin ditinggalkan, baik oleh kapal-kapal yang memang enggan masuk ke Pelabuhan Pekalongan maupun kapal yang sudah masuk, tapi tidak membawa tangkapan untuk dibongkar dan dilelang di TPI Pekalongan.

Menurut data Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, selama tahun 2017 lalu ada 387 kapal berukuran di atas 30 GT yang masuk ke Pelabuhan Pekalongan. Namun dari jumlah tersebut, hanya 179 kapal yang melakukan lelang di TPI Pekalongan. Kemudian pada tahun 2018 yakni pada Januari dan Februari, tercatat ada 31 kapal masuk, namun hanya 9 yang melakukan lelang di TPI Pekalongan.

Kepala PPN Pekalongan, Mansur mengungkapkan, dari data 2017 tercatat bahwa hanya 42,6 persen dari jumlah kapal yang masuk, yang melakukan bongkar tangkapan dan lelang di TPI Pekalongan. Sisanya yakni sekitar 200an kapal, hanya masuk ke pelabuhan untuk sandar, melakukan perbaikan maupun mengisi perbekalan. Kondisi yang sama, kata dia, masih terjadi di awal tahun 2018 dimana dari 31 kapal yang masuk hanya 9 yang bongkar dan lelang di TPI Pekalongan.

“Sehingga menurut kami, selain pendangkalan yang memang menjadi salah satu faktor disini tidak ramai, ada faktor lain kenapa kapal tidak bongkar tangkapan dan lelang di TPI Pekalongan. Buktinya, mereka masuk tapi kenapa hanya ngedok (perbaikan), isi perbekalan dan kemudian melaut lagi. Mereka tidak membawa tangkapan dan tidak melakukan lelang disini,” jelasnya.

Data tersebut, kata Mansur, sudah disampaikannya saat melakukan rapat koordinasi bersama Pemkot Pekalongan. Data itu, rencananya juga akan dilaporkan kepada Walikota dan Sekda Kota Pekalongan agar tidak semata melihat satu kendala saja, karena ternyata ada faktor lain yang juga berpengaruh terhadap sepinya TPI Pekalongan.

“Ini kenapa kapal di atas 30 GT tidak bongkar. Kalau saja mereka bongkar, misalnya ada 200 kapal dengan masing-masing membawa 30 ton saja ini sudah 6.000 ton. Kalau dikalikan harga ikan 15.000, sudah mencapai Rp90 miliar dan kalau digabungkan dengan data riil yakni kapal yang melakukan lelang itu sudah berapa miliar masuk, dan kami yakin target PAD Kota Pekalongan bisa tercapai,” tuturnya.

Ia menyatakan, faktor tersebut sebenarnya bisa dipetakan, dan sehingga dapat dicarikan solusi agar masalah di TPI Pekalongan bisa diatasi satu per satu. “Ini bukan kewenangan kami, masalah lelang, itu kewenangan instansi lain meskipun kami membackup. Tapi kami tidak mau ikut menduga karena ini sudah ada tim kajiannya sendiri biar nanti bisa dipetakan dan menjadi tugas kita bersama untuk menyelesaikan apa yang menjadi faktor lain tersebut,” tambah Mansur.

Kepala TPI Pekalongan, Sugiyo saat dikonfirmasi mengenai kondisi tersebut mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang menurutnya menjadi penyebab kapal enggan lelang di Pekalongan. Pertama, kata dia, adanya pendangkalan muara dan alur sungai yang akhir-akhir ini terjadi sangat ekstrim. “Sehingga kapal-kapal besar takut kandas ketika masuk pelabuhan. Karena jika kandas, resikonya kerusakan kapal itu sendiri dan menambah biaya kapal tarik,” jelasnya.

Faktor selanjutnya, menurut Sugiyo, yakni daya beli bakul Pekalongan yang masih terbatas. Sehingga jika ikan yang dilelang melebihi daya beli bakul, maka harga ikan cenderung turun. Padahal pengusaha dan ABK berharap ikan tangkapan agar bisa segera dibongkar dan kapal segera melaut kembali. Di tempat pelelangan lain, kapal masuk pelabuhan bisa langsung melakukan bongkar dan lelang hasil tangkapan, yang bahkan dapat selesai dalam satu hari selesai.

“Di Pekalongan daya belinya rendah, maka harus antre karena bongkarnya sedikit demi sedikit, sesuai kebutuhan bakul, sehingga memakan waktu lama. Di tempat lain misalnya ada 10 kapal langsung bisa bongkar sekaligus. Dibutuhkan pedagang ikan yg memiliki modal besar untuk menyerap produksi ikan jika semua kapal Pekalongan bongkar di TPI Pekalongan. Misalnya, pembeli adalah pabrik pengolah ikan,” katanya.

Faktor lainnya menurut Sugiyo yakni kesadaran pengusaha atau pemilik kapal ikan asli Pekalongan yang memang enggan melelangkan ikannya di Pekalongan. Semangat kedaerahan dalam membangun ekonomi sektor perikanan daerah masih rendah. “Terbukti mereka lebih senang jual ikannya di tempat lain, tapi dok, isi perbekalan dan berangkat tetap dari Pekalongan,” tambahnya.

Kemudian ia juga melihat sistem pelelangan di TPI Pekalongan yang masih mengandalkan pelelangan terbuka, membuat kualitas ikan menurun. Ikan hasil lelang terbuka sudah terputus rantai dinginnya atau kesegarannya, sehingga jika dijual ke luar daerah maka cepat rusak dan harga akan menurun. Sedangkan tempat penyimpanan ikan beku/coldstorage terutama yang kapasitas besar masih minim. Sehingga jika produksi melimpah tidak bisa disimpan untuk cadangan stok ikan. Stok ikan Pekalongan jika kekurangan justru disuplai dari beberapa daerah seperti dari Juana dan Banyuwangi.

“Dengan banyaknya faktor penyebab itu, maka kita perlu komunikasi dan koordinasi dengan seluruh stakeholder perikanan agar TPI Pekalongan kembali menarik baik bagi pengusaha kapal ikan, juga bagi pedagang ikan besar atau pabrik pengolah ikan dari luar Pekalongan,” tandasnya. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments