Nasional

Melihat Pengolahan Sampah Diubah Menjadi Listrik

*Tiap Jam Hasilkan 1.5 Mw, Butuh Sampah 62 Ton

GUNUNG sampah yang selama ini menjadi persoalan di Kota Bekasi, Jawa Barat, sekarang justru menjadi pemberi solusi bagi kebutuhan energi listrik masyarakat. Sejak 2016 lalu, sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang menghasilkan 1,5 megawatt per jam. Seperti apa? Deny Iskandar, Bekasi

Melihat Pengolahan Sampah Diubah Menjadi Listrik

TEKNOLOGI SAMPAH – Dengan mesin inilah PT Nusa Wijaya Abadi menghasilkan energi listrik tenaga sampah.
(foto: Deny Iskandar /INDOPOS)

Perjalanan menuju lokasi TPA Sumur Batu cukup menyita waktu. Di lokasi yang berada di ujung Kota Bekasi itu terdapat mesin pembangkit listrik. Pembangkit listrik tenaga sampah ini berdiri di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi.

Adalah PT Nusa Wibawa Abadi, sebuah perusahaan yang memiliki hak kelola sampah di TPA Sumur Batu untuk kemudian dijadikan energi listrik. Perusahaan ini diberi hak kelola hingga 20 tahun, sejak 2016 lalu. Dengan total investasi sebesar 121 juta US Dolar, tekhnologi yang dipakai menggunakan sistem Circuliting Heat Combustor Boiler (CHCB).

Presiden Direktur PT Nusa Wijaya Abadi, Tenno Sujarwanto, kepada INDOPOS mengatakan, CHCB merupakan sistem produksi listrik menggunakan sistem pembakaran dengan reaktor di luar boiler bersuhu 1.000.

Cara kerjanya, operator terlebih dahulu mengambil tumpukan sampah lama, untuk kemudian dipilah-pilah jenis sampah non organik dan organik. “Karena listrik hanya bisa dihasilkan dari sampah non organik,” kata Tenno.

Setiap hari, dibutuhkan 1,8 ton sampah dari TPA Sumur Batu sampah yang digunakan untuk memproduksi listrik sebesar 1.5 megawaatt perjamnya. Biasanya, TPA Sumur Batu rata-rata perharinya menghasilkan 9 ton sampah. Dari jumlah tersebut, kemudian dipilah-pilah antara sampah organik dan non organik. Biasanya, dari 9 ton sampah secara keseluruhan, khusus sampah non organik berhasil dikumpulkan 1,8 ton untuk kebutuhan pembangkit listrik.

Sampah non organik itu disebut sebagai Refuse Derived Fuel (RDV). RDV ini dibakar dengan suhu diatas 1.000 derajat celcius, hanya dalam waktu dua detik. Hasil pembakaran itulah yang kemudian menghasilkan listrik.

“Dari 9 ton sampah tadi, kita memang membutuhkan RDV sebanyak 1,8 ton untuk bisa menghasilkan listrik 1,5 megawatt,” jelas Tenno lagi

.

Tenno menceritakan, teknologi yang mereka gunakan berbeda dengan sistem pembangkit listrik tenaga sampah lainnya. Mereka tidak menggunakan gas metan dari sampah, melainkan menggunakan sistem pembakaran.

Teknologi ini kata Tenno, sangat ramah lingkungan. “Kalau pakai gas metan, kita khawatir lingkungan sekitar pembangkit listrik akan terganggu. Masyarakat bisa marah,” katanya.

Target mereka, ke depan dapat menghasilkan listrik sebesar 34,6 megawatt perharinya. Dengan demikian, perharinya mereka membutuhkan sampah non organic sebanyak 62 ton dari TPA Sumur Batu untuk menjadi RDV. Dari jumlah sampah tersebut, berarti produksi sampah di TPA Sumur Batu diharapkan perharinya sebanyak 207 ton. Dengan jumlah 207 ton tersebut, biasanya akan menghasilkan 62 ton sampah non organic. Itu pun hanya bisa menggunakan sampah yang lama ditumpuk, bukan sampah yang baru dihasilkan atau baru masuk ke TPA.

Lantas, dikemanakan sampah organiknya? “Sampah yang tidak terpakai untuk pembangkit listrik, atau sampah organik akan dipakai untuk bahan baku pupuk,” paparnya.

Ia pun bercerita soal kerja mereka yang berdampingan dengan pemulung, karena teknologi mereka yang hanya menggunakan sampah lama. Menurut Tenno, kebutuhan sampah yang besar dari TPA Sumur Batu bukan berarti perusahaanya tidak memberi kesempatan kepada pemulung untuk memungut sampah dari sana.

“Lahan pekerjaan mereka menjadi pemulung tidak terganggu. Kita tidak memakai bahan sampah baru, melainkan sampah yang sudah lama tertanam di TPA,” paparnya. (*)

Facebook Comments