Radar Jateng

Abdul Arif, Kartunis Kudus Juara I Lomba Tingkat Internasional di Turki

*Kalahkan 262 Peserta dari 43 Negara

Abdul Arif menjuarai lomba kartun internasional bertajuk The 5th Kalder Bursa International Cartoon Contest 2018 Turkey akhir Januari lalu. Berkat prestasi tersebut, ia memperoleh hadiah trofi serta uang senilai 3.000 Lira. UMMI NAILA RIZIQIYYA, Kudus

Abdul Arif, Kartunis Kudus Juara I Lomba Tingkat Internasional di Turki

TUNJUKKAN GAMBAR KARTUN: Abdul Arif, kartunis muda asal Kudus meraih juara I kontes kartun internasional The 5th KalDer Bursa International Cartoon Contest Turkey.
DOK PRIBADI

RATUSAN kertas warna-warni bergambar kartun memenuhi ruangan Abdul Arif. Kartun-kartun itu merupakan hasil karyanya. Lahir di Kudus, 11 Mei 1989, Arif mengaku sudah menekuni dunia kartun sejak 2010.

Berkat ketekunannya, anak kelima dari pasangan Qomari dan Supiah itu kini telah mampu membukukan prestasi internasional. Ia meraih penghargaan first prize pada lomba kartun internasional bertajuk The 5th Kalder Bursa International Cartoon Contest 2018, Turkey.

Ajang itu diikuti 262 kartunis dari 43 negara. Dalam kontes tersebut, dia mengirimkan dua karya. Total ada 697 karya kartun yang dikirimkan peserta untuk lomba bertema Managing Transformation.

“Pada 22 Januari 2018, Kalder Bursa merilis 112 karya yang masuk nominasi. Karya itu telah melewati penjurian awal. Satu karya yang saya kirimkan masuk nominasi,” kata ketua Komunitas Gold Pencil Indonesia Semarang ini.

Setelah melalui berbagai seleksi penjurian, sebulan yang lalu ia dinobatkan sebagai pemenang pertama. Melalui karya itu, dia memperoleh trofi serta uang senilai 3.000 Lira atau setara Rp 10,5 juta.

“Alhamdulillah, ini penghargaan internasional pertama saya selama tujuh tahun menggeluti seni kartun,” kata Arif.

Mengenai karyanya, mahasiswa Program Studi Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menjelaskan, gambarnya memvisualisasikan transformasi media cetak ke digital. Yaitu gambar seorang ayah didampingi anaknya sedang menata buku. Buku-buku itu terlihat menumpuk memenuhi ruangan. Kemudian disusun dalam rak yang berbentuk gawai.

“Yang lagi tren memang isu media digital. Oleh karenanya saya tertarik membuat kartun dengan isu itu. Kartun yang menang itu saya beri judul Transformation. Perubahan media cetak yang sedang ramai beralih ke digital. Jadi, sama dengan tema yang diusung dalam kontes tersebut,” katanya.

Laki-laki yang tinggal di RT 7 RW 4, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, itu mengatakan, ajang internasional ini bukan yang pertama diikuti. “Tahun lalu, karya saya hanya mentok sebagai finalis kontes kartun Korea, China, Luxemburg, Tunisia, dan Turki. Alhamdulillah, sekarang bisa menang,” katanya.

Saat ini, Arif masih aktif belajar kartun bersama sejumlah kartunis yang tergabung dalam Gold Pencil Indonesia yang merupakan lembaga pengembangan dan kajian kartun. “Capaian ini menjadi motivasi bagi saya agar lebih giat belajar lagi. Buat teman-teman kartunis di Semarang, saya dorong terus semangat dalam menggambar,” paparnya.

Selain mengembangkan komunitas seni di Semarang, Arif mulai merintis komunitas seni kartun di daerah asalnya. Dia sering mengadakan semacam workshop dan belajar bareng menggambar bersama pemuda-pemudi di desanya.

Baginya menggambar kartun itu lebih sulit dibandingkan seni menggambar lainnya. Pasalnya, gambar yang dibuat itu harus memiliki ide yang sarat makna. Tanpa dijelaskan, orang yang melihat kartun bisa mendapatkan pesan melalui gambar.

Bukti ketekunannya, dia telah menghasilkan ratusan karya. Setiap bulan ia bisa membuat 15 gambar kartun. Media dan alat yang sering dipakainya yaitu berupa kertas dan cat air. Melalui seni kartun ia pun yakin bisa menghasilkan karya-karya terbaik yang mempunyai nilai jual tinggi.

”Tren dunia kartun sekarang sudah bagus. Kelompok-kelompok kartunis sepeti Pakyo (Jogjakarta), Kokkang (Kendal), dan kartunis lainnya sudah kian aktif mengadakan pameran,” imbuhnya. (*)

Facebook Comments