Lain-lain

Stop Makan Fast Food!

Makanan cepat saji tidak selalu baik untuk tubuh. Seluruh sistem organ dalam tubuh Anda akan merasakan dampak buruk dari konsumsi makanan cepat saji
Tidak punya banyak waktu tapi tetap harus menjaga asupan makanan? Ya, makanan cepat saji atau fast food menjadi alternatifnya. Walaupun unggul dari segi kemudahan dan kepraktisannya, tetap saja makanan cepat saji tidak selalu baik untuk tubuh. Sebab, seluruh sistem organ dalam tubuh Anda merasakan dampak dari konsumsi makanan cepat saji. Apa saja?

Dampak makanan cepat saji pada kesehatan tubuh
Dilansir dari laman Medical Daily, mengonsumsi makanan cepat saji sama halnya seperti memasukkan bakteri ke dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena kandungan tinggi lemak pada makanan cepat saji dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang.

Para ilmuwan membuktikannya melalui uji sampel tikus yang diberikan makanan tinggi lemak dan kalori, tapi rendah serat. Ketika tikus memakannya, sistem kekebalan tubuh tikus memberikan respon yang serupa dengan kondisi saat adanya infeksi bakteri dalam tubuh. Asupan makanan yang tidak sehat ini membuat tubuh tikus menghasilkan sel-sel imun tertentu sebagai respon terhadap peradangan.

Periset berasumsi bahwa semakin lama sistem kekebalan tubuh terstimulasi, hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Beberapa di antaranya adalah:

1. Pada kulit, rambut, dan kuku

Apa pun makanan yang Anda makan dapat memengaruhi kesehatan kulit Anda. Pada zaman dahulu, makanan yang mengandung cokelat dan makanan berminyak seperti pizza dicurigai menjadi asal muasal timbulnya jerawat. Namun, baru-baru ini karbohidrat tercatat sebagai penyebab lonjakan pada kadar gula darah yang kemudian menyebabkan jerawat.

Anak-anak dan remaja yang sering makan makanan cepat saji (setidaknya tiga kali seminggu) cenderung mengalami eksim. Eksim pada anak inilah yang membuat mereka sering menggaruk akibat rasa gatal pada kulit.

2. Pada gigi dan tulang

Kandungan karbohidrat dan gula dalam makanan cepat saji dapat meningkatkan kadar asam di mulut yang memecah enamel gigi. Saat enamel gigi menipis dan hilang, bakteri menjadi lebih mudah berkembang dan menyebabkan gigi berlubang.

3. Pada sistem pernapasan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kelebihan kalori pada makanan cepat saji dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan obesitas. Tidak hanya itu, obesitas juga dapat meningkatkan risiko masalah pernapasan, seperti asma dan sesak napas.

Pasalnya, kelebihan lemak dalam tubuh dapat menekan organ jantung dan paru-paru. Anda akan lebih mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas saat sedang berjalan, menaiki tangga, atau berolahraga.

Masalah sistem pernapasan justru lebih jelas terlihat pada anak-anak. Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak yang gemar makan makanan cepat saji (setidaknya tiga kali seminggu) lebih rentan terkena asmaketimbang yang tidak.

4. Pada sistem saraf pusat

Makanan cepat saji memang cepat mengobati rasa lapar, tapi hati-hati dengan efek jangka panjangnya. Sebuah studi melaporkan bahwa orang yang makan makanan cepat saji lebih berisiko mengalami depresi hingga 51 persen lebih tinggi dibandingkan yang sedikit atau tidak mengonsumsinya.

Hal ini diduga karena kebanyakan makan fast food memengaruhi kesehatan pembuluh darah. Sedangkan otak Anda membutuhkan aliran darah yang lancar untuk memasok oksigen dan nutrisi. Oksigen dan nutrisi diperlukan agar otak bisa menjalankan fungsinya dengan baik, termasuk mengatur mood dan emosi.

5. Pada sistem reproduksi

Salah satu efek makanan cepat saji yang cukup mengejutkan adalah dampaknya pada kesuburan. Hal ini berkaitan dengan kandungan phthalate, yaitu bahan kimia yang ditemukan pada makanan cepat saji yang dapat mengganggu hormon dalam tubuh. Sebuah riset menemukan bahwa paparan phthalate dalam kadar yang tinggi dapat menyebabkan masalah reproduksi, salah satunya risiko bayi cacat lahir.

6. Pada sistem pencernaan, jantung, dan pembuluh darah

Sebagian besar makanan cepat saji–entah itu makanan atau minumannya–banyak mengandung karbohidrat tapi rendah serat. Ketika makanan ini masuk ke dalam sistem pencernaan, karbohidrat dipecah menjadi glukosa dan masuk ke dalam darah. Ini sebabnya kadar gula darah bisa naik.

Organ pankreas merespon lonjakan glukosa tersebut dengan cara melepaskan hormon insulin. Insulin inilah yang kemudian bertugas mengangkut gula dan menyebarkannya ke seluruh bagian tubuh sebagai sumber energi.

Akan tetapi, semakin banyak Anda mengonsumsi makanan cepat saji, maka kadar gula darah akan melonjak drastis sehingga insulin menjadi kewalahan. Akibatnya, hal ini dapat menyebabkan berat badan naik secara drastis, resistensi insulin, dan risiko terkena diabetes tipe 2.

Selain mengandung karbohidrat, makanan cepat saji juga mengandung natrium dan kolesterol yang menimbulkan rasa lezat pada makanan. Namun, kondisi ini justru berbahaya untuk orang yang mengidap hipertensi (tekanan darah tinggi) dan penyakit jantung.

Pasalnya, kandungan kolesterol yang berlebihan dapat menumpuk pada dinding arteri dan menimbulkan sumbatan. Sedangkan pola makan tinggi natrium erat kaitannya dengan peningkatan tekanan darah. Akibatnya, tekanan darah kian melonjak dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Orang yang mengalami obesitas berisiko tinggi mudah terjatuh dan mengalami patah tulang. Hal ini dapat dicegah dengan rutin berolahraga guna membentuk otot dan menjaga kesehatan tulang. Selain itu, Anda tetap harus menerapkan pola makan yang sehat untuk mencegah penurunan kepadatan tulang.

Sumber: nationalgeographic.co.id

Editor: Khofifah SMK ( ISHTHIFAIYAH NAHDLIYAH PEKALONGAN )

Facebook Comments