Features

Ungkapan Kesedihan Pedagang Pasar Banjarsari Pasca Kebakaran

Ungkapan Kesedihan Pedagang Pasar Banjarsari Pasca Kebakaran-selamatkan

SELAMATKAN – Pemilik usaha bersama sejumlah karyawan saat menyelamatkan aset dagangannya yang masih tersisa usai kebakaran yang menimpa Pasar Banjarsari dan Mal Borobudur.
WAHYU HIDAYAT / RADAR PEKALONGAN

“Seandainya Waktu Itu Saya Diizinkan Bawa Dagangan Saya… “

Kebakaran yang menimpa Pasar Banjarsari dan merembet ke Mal Pekalongan (Mal Borobudur) pada Sabtu (24/2) petang hingga Minggu (25/2) malam, menimbulkan duka mendalam bagi para pedagang yang memiliki kios di pasar induk di kota batik tersebut.

Kerugian yang mereka alami tidak sedikit. Kios maupun barang dagangan mereka ludes terbakar. Meski petugas pemadam kebakaran bersama aparat TNI Polri, tim SAR, dan para relawan sudah bekerja keras memadamkan kobaran api selama lebih dari 30 jam serta mengamankan lokasi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Hanya saja ribuan kios, toko, berikut bangunan Pasar Banjarsari dan Mal Pekalongan tak bisa diselamatkan.

Meski demikian, sejumlah pedagang mengungkapkan kekecawaan mereka terkait penanganan kebakaran tersebut. Salah satunya disampaikan H Asrori Slamet, pemilik kios batik di lantai dasar Pasar Banjarsari.

Pria yang juga menjadi salah satu pengurus Persatuan Pedagang Pasar Banjarsari (P2PB) menyayangkan oknum petugas yang melarangnya untuk menyelamatkan barang dagangan ketika kebakaran berlangsung.

Ungkapan Kesedihan Pedagang Pasar Banjarsari Pasca Kebakaran-denah

DENAH PASAR – Salah satu pemilik kios di Pasar Banjarsari yang juga pengurus Persatuan Pedagang Pasar Banjarsari (P2PB), H Asrori Slamet, menunjukkan denah bangunan Pasar Banjarsari, kemarin (27/2).
WAHYU HIDAYAT / RADAR PEKALONGAN

“Saya sudah berikhtiar, saya sudah bisa masuk ke lokasi toko saya. Bahkan saya sudah buka tokonya, tinggal membawa barang-barang untuk keluar dari pasar. Tapi dari oknum petugas melarang saya untuk membawa keluar barang saya. Saya digiring untuk keluar sampai ke Jalan Sultan Agung,” ungkapnya, Selasa (27/2).

Ketika itu, imbuh Asrori, pada Sabtu (24/2) petang api belum menjalar ke lantai dasar Pasar Banjarsari. Api dan kepulan asap masih berada di lantai 2 sebelah selatan Mal Pekalongan dan berada di sisi timur komplek bangunan pasar yang menyatu dengan mal tersebut. Sehingga menurut perhitungannya, masih jauh dari lokasi kios milik Asrori.

“Kemudian saya datang lagi habis subuh (Minggu, 25/2, red). Toko dan barang saya sudah tak tersisa lagi. Saya cuma bisa gigit jari bahkan sampai histeris. Seandainya waktu itu saya diizinkan membawa barang dagangan saya, saya yakin barang dagangan saya masih bisa diselamatkan,” tuturnya.

Akibat peristiwa kebakaran tersebut, kerugian yang ia alami diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. “Sebelum terjadi kebakaran, saya sudah kulakan batik untuk stok dagangan menjelang puasa nanti,” imbuhnya.

Ungkapan senada disampaikan Julaekha, pemilik kios batik “Almira Batik” di lantai 1 Blok C. Kios berikut barang dagangannya ludes terbakar. “Sudah habis,” ungkapnya, usai melihat kondisi kiosnya kemarin (26/2).

Dia sempat merasa kecewa terhadap petugas, lantaran beberapa saat setelah kebakaran, pada Sabtu (24/2) habis maghrib dirinya bermaksud masuk untuk mengambil barang dagangan untuk diselamatkan. Namun tidak bisa karena dilarang oleh petugas.

“Saya tahu terjadinya kebakaran setelah salat Maghrib. Saya langsung ke sini. Waktu itu api masih di lantai dua dan belum sampai kios saya. Saya mau masuk tapi didorong petugas, tidak boleh masuk. Padahal kalau diperbolehkan, waktu itu mungkin bisa menyelamatkan barang saya seadanya,” ungkapnya.

Pasca terjadinya kebakaran itu, para pedagang berharap pemerintah segera mencari solusi untuk para pedagang. Salah satunya dengan merelokasi pedagang Pasar Banjarsari ke lokasi baru.

Berkaitan hal itu, Asrori Slamet mengungkapkan bahwa pemkot sudah menyampaikan rencana penempatan pedagang di sejumlah lokasi yang akan dijadikan sebagai pasar darurat.

“Kalau dipindah di Setono kami takut banjir, kalau di bekas gedung Sri Ratu nanti parkirnya bagaimana, karena pedagang butuh kendaraan pengangkut dan tidak mungkin jika parkir tidak luas. Kalau diizinkan kami ingin menempati Jalan Patiunus dan Sultan Agung,” pungkasnya. (way)

Penulis: Wahyu Hidayat | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments