Features

Khuzyia Rizqi Triavi Ananda, Peraih Emas di Thailand Inventors Day

*Rela Jual Laptop Agar Bisa Pergi Ikut Lomba

Buah kersen dijual tak laku. Namun, di tangan Khuzyia Rizqi Triavi Ananda buah tersebut diramu dengan mikroorganisme dan ekstrak sirih merah jadi obat diabetes. Karya itulah yang membawanya meraih medali emas. Bahkan, dipuji oleh profesor dari berbagai negara. KHOLID HAZMI, Rembang

Khuzyia Rizqi Triavi Ananda, Peraih Emas di Thailand Inventors Day

INOVATIF – Khuzyia Rizqi Triavi Ananda (tengah) bersama dua rekannya berhasil meraih medali emas pada Thailand Inventors Day 2018.
DOK. PRIBADI

KHUZYIA Rizqi Triavi Ananda baru semalam di rumah ketika ditemui Jawa Pos Radar Kudus. Dia sebenarnya sudah pulang dari Thailand sepekan sebelumnya. Tapi tak langsung pulang ke rumah. Dia di kosnya, Semarang.

Dia sendiri jarang pulang ke rumahnya di RT 1 RW 8, Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem. Kakak-kakaknya sering menanyakan kenapa dia tak pulang. Termasuk, ketika libur semester.

Nanda – sapaan Khuzyia Rizqi Triavi Ananda mengaku, memanfaatkan waktu libur semester untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris. Itu modal utama untuk bisa pergi ke luar negeri. Baik untuk presentasi jurnal atau mengikuti lomba.

Dia dikenal kecil-kecil cabai rawit. Postur Nanda memang kecil. Bahkan, juri Thailand Inventors Day (TID) mengira dia masih SMA. Meski begitu, dia mampu memanfaatkan buah kersen. Buah itu diramu dengan mikroba jadi obat diabetes.

Butuh 1,5 bulan untuk riset hingga membuahkan hasil. Referensi penelitian dari peneliti lain dikumpulkan. Lalu, dia bersama dua rekannya memulai beberapa percobaan. Tak langsung berhasil. Dia merasakan kegagalan.

Meski begitu, hampir setiap hari Nanda nongkrong di laboratorium. Jam istirahat kuliah baginya tak untuk istirahat. Waktu itulah dia bisa leluasa memakai laboratorium. Karena sudah pasti tak dipakai praktik oleh kelas lain. Jadwal kuliahnya juga jeda.

Produk buatannya diberi nama Probiotic Water Kefir. Bentuknya cair berwarna oranye. Dikemas dengan botol ukuran 250 mililiter. Bahan utamanya buah kersen. Lalu dicampur dengan mikroorganisme dan ekstrak sirih merah.

Ramuan itu sudah diuji tingkat keasamannya. Nanda mengklaim ramuan buatannya tak menimbulkan efek samping. Karena bahan yang digunakan dari mikroorganisme dan buah kersen.

“Jadi tanpa efek samping karena bahannya herbal, tanpa campuran kimia. Kalau ada bahan kimia kan efeknya ke ginjal. Saya ingin obat itu aman dikomsumsi penderita diabetes dan dikonsumsi orang biasa untuk pencegahan,” jelasnya.

Karya ilmiah dari penelitian itu dikirim ke salah satu organisasi yang menjembatani ke TID. Awal Januari 2018 dia mendapat kabar kalau karya kelompoknya lolos ke TID. Nanda senang. Tapi juga bingung.

Kabar itu dia sampaikan ke orang tuanya. Perasaan ayahnya yang bekerja sebagai sopir dan ibunya pedagang ikan di pasar juga sama. Senang dan sedih. Senang akan prestasi anaknya. Sedih karena haru susah payah cari biaya ke Thailand.

Kedua orang tuanya sempat melarang Nanda pergi ke Thailand karena alasan biaya. Maklum, di saat bersamaan mereka harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya kos yang dibayar setiap enam bulan sekali.

Nanda sempat down. Tapi, dia yakin harus berangkat. Semua tabungan yang uangnya dari hadiah lomba-lomba terdahulu, dia keluarkan. Itu pun belum cukup. Nanda harus rela menjual laptopnya. Laptop yang selama ini dia pakai membuat karya dan menang di beberapa lomba.

Total biaya keseluruhan lebih dari Rp 9 juta satu orangnya. Nanda bersama dua rekannya berangkat ke Thailand pada 30 Januari 2018. Kurang lebih sepekan dia berada di Negeri Gajah Putih itu. Thailand Inventors Day (TID) diikuti lebih dari dua ribu peserta dari 23 negara.

Rata-rata peserta TID bergelar profesor. Apalagi jurinya, sudah pasti profesor. Itulah yang sempat bikin Nanda tak yakin. Tapi, dia dan rekan satu timnya berusaha cuek. Toh, yang melakukan penelitian juga mereka sendiri, bukan jurinya.

Ketika penjurian, setiap juri diberi gelas untuk mencoba Probiotic Water Kefir. Hasilnya di luar dugaan. Segelas habis diminum oleh para juri. Kemudian, ada salah satu juri yang meminta lagi dituangkan obat tersebut. “Terus jurinya bilang, ini lebih enak daripada obat di rumah sakit,” ungkap Nanda menirukan kata-kata juri.

Nanda lega melihat respon positif juri. Ketika hendak pergi ke arena lomba dari penginapan, di dalam taksi Nanda dapat kabar kalau kelompoknya meraih medali emas. Dia sempat tak yakin. Ketika dilihat di papan pengumuman, ternyata benar.

Tiba saatnya malam penganugerahan. Sebagai ketua kelompok, mahasiswi Program Studi Biologi Universitas Diponegoro ini naik ke atas panggung. Dia benar-benar grogi. Membawa nama Indonesia, meraih medali emas dan disaksikan peserta dari 23 negara.

Pujian juga datang dari seorang profesor yang juga menjadi peserta. Profesor asal Singapura itu menilai Nanda dan timnya layak meraih medali emas (*)

Facebook Comments