Radar Kendal

Pengetan Abhiseka Bakal Dihadiri Raja-Raja

Pengetan Abhiseka Bakal Dihadiri Raja-Raja

BERI KETERANGAN – Sri Anglung Prabu Djojonagoro CG dan KRA Wangsit Setyanagoro memberikan keterangan pers.
NUR KHOLID MS / RADAR PEKALONGAN

KARATON Amarta Bumi di Dukuh sekatul, Desa Margosari, Kecamatan Limbangan, bakal menggelar Pengetan (peringatan) satu tahun Abhiseka (penobatan) Sri Anglung Prabu Djojonagoro CG sebagai Raja Karataon Amarta bumi. Pengetan Abhiseka akan dilaksanakan Jumat dan Sabtu (2-3/3) di Pendapa Saridin Karaton Amarta Bumi. Rencananya para raja se-nusantara, tetua adat, serta tamu undangan dari sejumlah negara akan hadir. Penobatan sebagai raja sudah dilakukan satu tahun silam.

Panitia penyelenggara, KRA Wangsit Setyanagoro, mengatakan, rangkaian acara dimulai dari pengukuhan pada Jumat (2/3) malam, terdiri atas pembukaan, tari rantoyo, pembacaan SK dan penyerahan SK pengukuhan dan diakhiri dengan ramah tamah. “Puncaknya dilakukan Sabtu 3 Maret 2018,” kata dia, kemarin.

Dikatakan, pada puncak acara pengetan abhiseka diisi kegiatan kirab, doa, tari bedhaya nowosongo, pengukuhan, yang dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan diakhiri ramah tamah.

“Pengetan Abhiseka digelar pukul 10.00 hingga pukul 12.00,” timpal dia.

Setelah itu dilanjutkan dengan Java International Film Festival (JIFF). Kegiatan JIFF diisi diskusi budaya dan film. Pembukaan JIFF dilaksanakan Sabtu (3/3) pukul 19.30. Pada kesempatan itu juga akan diberikan penghargaan kepada sutradara film-film dokumenter dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, China, Filipina, Brazil, Spanyol, dan Inggris. “Acara ditutup ditutup dengan pemutaran film unggulan,” terang dia.

Sri Anglung Prabu Djojonagoro CG mengatakan, proses untuk menjadi raja sangat panjang, sekitar 20 tahun mulai dari babat alas mendirikan Keraton Amarta Bumi hingga proses mati raga. Proses ini tidak direkayasa, tetapi berjalan bertahun-tahun dan alami serta membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Banyak rintangan dan ujian yang harus dilalui. Rintangan itu merupakan tantangan hidup.

“Budaya jangan sekadar diartikan sebuah kesenian atau pariwisata yang hanya mendatangkan provit, tetapi budaya pada hakikatnya merupakan peradaban dan jati diri bangsa Indonesia,” kata dia.(nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments