Radar Kajen

Hasilkan Gas Metana, Wabup Pekalongan Uji Coba

Gas Metan Pengolahan Sampah

MEMASAK – Wakil Bupati Pekalongan Ir Arini Harimurti mencoba memasak pisang goreng dengan gas metan hasil pemanfaatan pengolahan sampah, kemarin.
MUHAMMAD HADIYAN

Melihat Hasil Pemanfaatan Pengolahan Sampah

Penanganan sampah di Kabupaten Pekalongan saat ini selangkah lebih maju. Seperti apa? M Hadiyan, Kajen

Berbagai ilmu diadopsi untuk menangani sampah. Seperti dilakukan di Kabupaten Pekalongan. Dari berbagai pengetahuan, hasilnya memuaskan. Hal itu ditandai dengan suksesnya uji coba pemanfaatan sampah yang diolah menghasilkan gas metana atau gas elpiji.

Wakil Bupati Pekalongan Ir Arini Harimurti bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan Mukaromah Syakoer, didampingi oleh Kepala OPD terkait, mencoba penggunaan gas metan tersebut dengan memasak pisang goreng hingga matang dan terasa krispi.

Hal ini dilakukan setelah pelaksanaan Apel Siaga Kebersihan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Kawasan Dukuh Bojonglarang Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, kemarin.

“Gas Metana ini adalah hasil pengolahan sampah di TPA Bojonglarang dengan teknis sampah ditimbun dengan tanah setiap tiga bulan sekali. Setelah melalui filter, maka akan terpisah antara gas metana, air dan unsur lainnya,” tandas Wabup Arini.

Pemanfaatan sampah menjadi gas metana, saat ini masih tataran uji coba. Namun hasilnya, gas yang memancar tidak mengecewakan karena bisa untuk memasak layaknya kompor elpiji pada umumnya. “Ke depan, diharapkan gas ini dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memasak dan sebagai sumber energy lainnya,” tandas Arini.

Pada acara Apel Siaga Kebersihan dalam rangka Peringatan Hari Perduli Sampah Nasional Tahun 2018, Wabup Arini yang mewakili Bupati Pekalongan, menyampaikan bahwa Target pengurangan sampah dan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, yang dicanangkan Pemerintah secara nasional mulai tahun 2017 sampai dengan tahun 2025, sebesar 30 persen untuk pengurangan sampah dan 70 persen untuk penanganan sampah. Sehingga diperlukan langkah terpadu dan strategis dalam pencapaiannya.

Timbunan sampah di Kabupaten Pekalongan semakin bertambah jenis dan volumenya, dengan dampak yang semakin meluas. Untuk itulah, menjadi sangat penting dan mempertegas dan memperkuat kolaborasi peran dalam upaya mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Pekalongan.

“Masyarakat, komunitas dan pemerintah dituntut untuk mampu mencapai target dalam pengurangan dan penanganan sampah tersebut,” terangnya.

Sementara Kepala Dinas Perumahan, Perkim dan Lingkungan Hidup, Trinanto menyampaikan, pengelolaan sampah di Kota Santri tidak hanya langsung dibuang TPA. Akan tetapi juga sudah dikelola oleh warga melalui bank sampah. “Adanya bank sampah di beberapa wilayah sangat membantu dalam mengurangi kuantitas sampah yang masuk ke TPA. Inilah yang diharapkan dalam mengendalikan sampah yang tidak terpusat hanya pada satu TPA saja,” tandasnya.

Ketua Panitia HPSN Tahun 2018 Dinas Perkim dan LH Kabupaten Pekalongan, Djoko Purwanto Adi R menturkan, Apel Siaga Kebersihan HPSN 2018 ini diikuti oleh 400 orang tenaga kebersihan. Mereka terdiri dari 170 orang PTT dan 230 orang tenaga outsourching. Hadir dalam kesempatan ini berbagai komunitas lingkungan antara lain GENTONG HEBAT, HAKLI, ASOBSI dan Koordinator Fasilitator KOTAKU.

Kegiatan lain Berjumpa (Bersih Jumat Pagi) yang dilaksanakan setiap hari Jumat, Gerakan Bersih Sungai oleh Komunitas BONCOSS pada 9 Februari 2018, RUWAT SUNGAI MRICAN pada tanggal 2-20 Maret 2018 dan Gerakan Bersih Pantai pada tanggal 9 Februari 2018 oleh Warga Desa Bebel. “Demo Penjara Sampah Plastik oleh Komunitas Biji pada tanggal 7 Februari 2018 bagi siswa sekolah alam bukit pelangi, dan berbagai kegiatan lain yang bermuara pada kebersihan,” jelasnya. (*)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments