Radar Jateng

2 Bulan, 4 Orang Meninggal Karena Kencing Tikus

2 Bulan, 4 Orang Meninggal Karena Kencing Tikus

PENJELASAN – Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S Survivalina memberi penjelasan terkait data jumlah warga yang meninggal akibat terserang penyakit leptospirosis.
DETIK

Boyolali – Penyebaran penyakit leptospirosis masih mengancam masyarakat Boyolali. Bahkan, korban penyakit dari kencing tikus itu terus bertambah, baik jumlah penderita maupun korban meninggal dunia.

“Sudah 4 (yang meninggal dunia dalam 2 bulan terakhir di 2018 ini),” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Boyolali, Sherly Jeanne Kilapong, Senin (26/2)

Jumlah korban meninggal akibat bakteri leptospira itu bertambah 1 dari sebelumnya 3 orang selama dua bulan terakhir. Empat orang yang meninggal yakni dua orang warga Desa Kismoyoso dan Desa Manggung, Kecamatan Ngemplak, 1 warga Desa Banyudono, Kecamatan Banyudono dan 1 orang warga Desa Mudal, Kecamatan Boyolali Kota.

Tak hanya itu, jumlah penderita juga bertambah dari sebelumnya 6 orang menjadi 8 orang. Selain terjadi di 3 kecamatan tersebut, juga ditemukan di Kecamatan Andong, Nogosari dan Musuk.

Hal itu juga dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina. Selama 2 bulan terakhir penyakit leptospira di Boyolali terjadi 8 kasus dan 4 korban diantaranya meninggal dunia.

“Jadi untuk kasus lepto (penyakit leptospirosis) tahun 2017 ada 34 kasus dengan kasus meninggal 9 orang. Di tahun 2018 ini ada 8 kasus dengan 4 meninggal dunia,” jelas Ratri S Survivalina, seperti dilansir detikcom.

Ratri mengakui, angka kematian akibat penyakit leptospirosis di Boyolali cukup tinggi. Tingginya akan kematian akibat penyakit ini bisa disebabkan karena beberapa hal. Antara lain kondisi fisik pasien yang tidak bagus dan kecepatan penanganan medis penyakit tersebut. Selain itu, ketepatan tenaga medis dalam mendiagnosa penyakit ini juga bisa menyebabkan keterlambatan penanganan.

“Karena gejalanya hampir mirip-mirip dengan penyakit lain, mungkin sering diabaikan. Tetapi begitu sudah masuk ke stadium akhir, baru dipikirkan diagnosis leptospirosis,” jelasnya.

Hal itu diakui Ratri menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Kesehatan Boyolali untuk menanggulanginya. Pihaknya pun akan segera melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan.

Walaupun di tahun 2017 sudah, kita upayakan untuk melakukan sosialisasi ulang kepada seluruh Faskes (fasilitas kesehatan) baik di rujukan maupun di pelayanan primer terkait dengan kasus lepto ini,” tutur Ratri.

Sosialisasi ini diperlukan untuk meningkatkan pemahaman atas penyakit tersebut. Untuk mencegah meluasnya penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus itu, pihaknya akan mengintensifkan kegiatan surveilans di daerah-daerah yang terdapat korban jiwa. Pihaknya akan segera melakukan koordinasi dan sosialisasi kepada rumah sakit dan semua Faskes, agar mewaspadai adanya diagnosis leptospirosis.

Seorang warga Desa Bangak, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Narto Mulyono (41), diduga juga meninggal dunia akibat penyakit leptospirosis. Dia sempat dirawat di rumah sakit di Sambi, kemudian dirujuk ke RSUD Pandan Arang, Boyolali pada Jumat (23/2/2018). Namun pada Sabtu (26/2/2018), dia meninggal dunia.

Jaminah (33), istri Narto, mengatakan suamianya meninggal dunia karena penyakit leptospirosis.

“Suami saya kena penyakit yang disebabkan kencing tikus, sampai ginjalnya kena. Belum sempat cuci darah sudah meninggal,” katanya kepada wartawan.

Terkait pasien tersebut, Dinkes Boyolali belum menerima laporannya. Dinkes akan menelusurinya terlebih dahulu. (dtk)

Facebook Comments