Metro Pekalongan

Pedagang Pasar Curhat ke Ketua DPRD

Pedagang Pasar Curhat

KELUH KESAH – Pedagang Pasar Banjarsari mengeluhkan kondisi mereka kepada Ketua DPRD, Balgis Diab, Senin (26/2). Mereka meminta diberikan bantuan agar dapat melanjutkan hidup, karena seluruh aset sudah hangus terbakar.

Pasca Kebakaran Pasar Banjarsari

Minta Akses Permodalan

Puluhan pedagang Pasar Banjarsari, Senin (26/2) sore mendatangi Gedung DPRD Kota Pekalongan guna bertemu dan mengadu langsung kepada Ketua DPRD, Balgis Diab, terkait apa yang mereka alami dan harapan tentang kebutuhan mendesak dalam waktu dekat.

Kedatangan mereka, diitemui langsung oleh Balgis didampingi Sekretaris DPRD, Bambang Nurdiyatman.

Dalam sesi dialog, berbagai hal disampaikan oleh perwakilan pedagang. Sebagian dari mereka berharap kepada Pemkot maupun DPRD agar dapat membantu para pedagang. Sebab pasca kejadian, rata-rata dari pedagang kehilangan seluruh aset, dan tidak memiliki modal apapun lagi. Bahkan untuk menyambung hidup dalam beberapa hari kedepan, para pedagang juga mengaku kesulitan.

Seperti yang disampaikan Fatma, salah satu pedagang pakaian di lantai I. Ia menyatakan bahwa usaha di pasar merupakan satu-satunya sumber penghasilan baginya. Sehingga terbakarnya seluruh aset usahanya membuat Fatma kini tak punya lagi sumber penghasilan.
Untuk itu ia berharap DPRD dapat membantu meringankan beban kebutuhan mereka sehari-hari. “Saya sudah tidak punya tabungan lain, aset saya sudah habis. Sehingga kami meminta kepada DPRD untuk membantu ekonomi kita. Saya juga ingin ada akses untuk mendapatkan bantuan modal agar bisa kembali membangun usaha kami. Karena sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk kami melanjutkan usaha kami lagi. Kami juga berharap ketika dipindah ke pasar darurat agar jangan sampai ditarik biaya lagi,” ujarnya.

Harapan sama disampaikam pedagang lainnya, Ali Munif. Pedagang batik tersebut berharap agar ada bantuan dari Pemkot maupun DPRD kepada para pedagang, karena akibat peristiwa kebakaran itu pedagang sudah tidak memiliki sumber penghasilan. “Kami tidak punya pekerjaan lagi, barang juga habis semuanya. Padahal kami juga masih punya banyak tanggungan baik untuk makan sehari-hari, kebutuhan anak sekolah, belum lagi setoran atau hutang yang harus dibayar. Untuk itu kami juga berharap jika ada hutang bank agar kami diberi keringanan,” keluhnya.

Selain meminta bantuan, para pedagang juga menyesalkan lambatnya penanganan. Mereka mempertanyakan kenapa pemadaman api membutuhkan waktu yang sangat lama yakni hampir 30 jam. “Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat dan pedagang. Katanya ada 17 armada damkar, tapi kenapa penangannya terkesan lambat. Padahal kalau dilihat sumber api tidak begitu luas,” tutur koordinator pedagang, Saefudin.

Pedagang lain juga mempertanyakan hal serupa. Termasuk pihak keamanan dan petugas yang kerap kali menghalangi para pedagang yang ingin berupaya menyelamatkan aset yang masih bisa diselamatkan. “Padahal kondisi saat itu pukul 18.30, api masih jauh di atas. Tapi kenapa kami yang ingin menyelamatkan barang justru dihalangi,” keluh Alfami, pedagang pakaian.

Setelah ini ia juga mengaku bingung harus berbuat apa. Harus melanjutkan hidup dengan apa, dan memulai kembali usahanya dengan modal dari mana. “Besok harus bagaimana, jangankan menunggu tiga minggu atau sebulan, tiga hari saja entah kami harus mencari penghasilan dari mana. Untuk itu kami harapkan fasilitasi dan bantuan secepatnya,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD, Balgis Diab menyatakan bahwa harus ada beberapa langkah dan rekomendasi yang akan disampaikan ke Pemkot Pekalongan berdasarkan keluhan dari para pedagang. Pertama, DPRD meminta agar didirikan pusat informasi terkait peristiwa kebakaran, karena banyak pedagang kebingungan jika ingin melaporkan maupun mencari informasi.

“Supaya tidak ada kesimpang siuran informasi, penyebab kejadian, data pedagang, jumlah kerugian dan bagaimana rencana penanganan selanjutnya, itu harus diinformasikan secara jelas. Yang kedua juga kami harapkan ada pendampingan kepada para pedagang agar mereka tidak bingung dengan rencana pemerintah ataupun cara mengakses fasilitasi atau bantuan yang akan diberikan kepada mereka,” kata Balgis.

Kemudian Balgis juga meminta agar Pemkot mempercepat proses pembangunan pasar darurat agar para pedagang dapat kembali melakukan aktivitas dan mendapat sumber penghasilan.
“Usulannya tadi juga perlu diperhatikam agar dibuat klaster yakni dipisahkan antara pasar darurat untuk pakaian dan tekstil dengan pasar untuk berjualan biasa,” kata Balgis.

Kemudian untuk permintaan bantuan akses permodalan maupun keringanan bagi mereka yang memiliki tanggungan utang, Balgis menyatakan akan mencoba berkomunikasi dengan instansi terkait agar dapat mencoba membicarakan hal tersebut kepada perbankan. “Rabu, kami akan mengadakan rapat kerja dengan eksekutif, walikota dan OPD terkait untuk membahas percepatan penanganan,” jawabnya. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments