Metro Pekalongan

Percepat Pembangunan Pasar Darurat

Alternatif Pembuatan Pasar Darurat

LUDES – Seluruh bagian Pasar Banjarsari dan Mal Borobuder ludes terbakar. Pemkot akan segera menyiapkan pasar darurat untuk menampung para pedagang agar tetap dapat beraktivitas.
M AINUL ATHO / RADAR PEKALONGAN

PEKALONGAN – Pasca kebakaran yang terjadi di Pasar Banjarsari dan Mal Borobudur, Pemkot Pekalongan diminta bergerak cepat untuk mencarikan solusi bagi lebih dari 4.000 pedagang di pasar terbesar itu. Salah satunya dengan mempercepat pembangunan pasar darurat guna menampung para pedagang untuk sementara waktu.

“Yang harus cepat dilakukan yakni penanganan dan solusi bagi para pedagang. Pemkot harus bergerak cepat untuk membangun pasar darurat agar pedagang cepat kembali beraktivitas,” kata Ketua DPRD Kota Pekalongan, Balgis Diab yang ditemui saat meninjau langsung lokasi kebakaran, Minggu (25/2).

Menurut Balgis, musibah kebakaran tidak diinginkan oleh siapapun dan bisa saja terjadi kepada siapapun. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah bisa hadir memberikan solusi agar korban tetap tenang dan mendapat jaminan bisa mencari penghasilan. “Kami lihat penanganan terhadap peristiwa sudah dilakukan dengan baik dan maksimal baik oleh pemerintah kota dan relawan. Tinggal bagaimana saat ini penanganan pasca peristiwa yang harus segera dipikirkan,” tambahnya.

DPRD Kota Pekalongan, dikatakannya siap mengawal agar proses pengadaan pasar darurat bisa dipercepat. “Kami akan kawal dan memastikan ini cepat direalisasikan sebagai penanganan jangka pendek. Sebagai upaya memberikan jaminan dan ketenangan kepada para pedagang yang sudah mengalami kerugian yang luar biasa. Jika dibutuhkan anggaran, kami juga siap mendorong dan mengalokasikan anggaran yang cukup,” katanya.

Tak hanya solusi jangka pendek, ia juga memastikan bahwa DPRD bersama pemerintah kota juga akan mengupayakan agar Pasar Banjarsari kembali dapat dibangun. “Ini solusi jangka panjang. Kami akan berupaya mengakses anggaran dari pemerintah pusat melalui kementrian terkait agar bisa mendapatkan pembiayaan guna pembangunan kembali Pasar Banjarsari,” tegas Balgis.

Harapan yang sama disampaikan oleh Paguyuban Pedagang Pasar Banjarsari (P2PB). Pengurus P2PB, Mahmud Masykur menyatakan, peristiwa yang terjadi tidak bisa dihindari dan tidak bisa diprediksi. Sehingga yang terpenting bagaimana agar pedagang dapat kembali menjalankan aktivitasnya.

“Apalagi dalam beberapa bulan kedepan sudah masuk bulan puasa dan hari raya. Kami berharap agar dilakukan relokasi dengan mencarikan tempat yang baru sebagai pasar darurat. Sehingga para pedagang ini bisa menjalankan aktivitas kembali serta melupakan peristiwa besar ini,” harapnya.

Ia menyatakan, P2PB dan pedagang tidak menuntut banyak terkait pasar darurat. Yang paling penting adalah lokasinya tidak berjauhan dengan pasar sebelumnya. “Kami siap dimana saja tapi akan lebih baik jika lokasinya tidak jauh dari sini. Misalnya di jalan depan pasar ini bisa dibuka sebagian untuk berdagang atau di Taman Parkir Patiunus,” usulnya.

Berdasarkan catatan P2PB, di Pasar Banjarsari terdapat 3.351 pedagang mulai dari lantai I hingga lantai III. Namun dalam prakteknya, Masykur menyebut ada lebih dari 4.000 pedagang yang berjualan di Pasar Banjarsari. “Kalau yang memiliki KIP, itu 3.351 pedagang. Tapi ketika pembangunan kios dan lapak, jumlahnya 4.000an,” tambah pria yang memiliki kios sembako di lantai II itu.

Ia bersama pedagang yang lain, sudah sekitar 12 tahun menempati pasar tersebut. Dikatakan Masykur, Pasar Banjarsari mulai beroperasi pada Mei tahun 2005. “Sudah 12 tahun kami menempati pasar ini satu atap dengan mal. Pasti banyak pedagang yang merasa kehilangan atas peristiwa ini, apalagi kerugian yang terjadi kami taksir mencapai miliaran rupiah,” katanya.

*Siapkan Beberapa Alternatif

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Sri Ruminingsih saat dikonfirmasi menyatakan bahwa Pemkot sudah langsung berkoordinasi untuk menyiapkan pasar darurat. Karena kebakaran yang terjadi, berdampak pada sekitar 4.000 pedagang yang beraktivitas di Pasar Banjarsari. Namun besarnya jumlah pedagang, membuat Pemkot sedikit kesulitan mencarikan lokasi pasar darurat.

Sekda menyebut, ada beberapa alternatif yang bisa ditempuh terkait pasar darurat yakni membuat sentralisasi di satu lokasi atau memecah ke beberapa lokasi. Jumlah pedagang yang besar, dikatakan Sekda membuat alternatif sentralisasi penempatan pedagang sulit untuk dilakukan. Sebab, tidak ada lahan atau lokasi yang memiliki luas yang cukup untuk ditempati 4.000 pedagang.

“Sehingga kemungkinan akan dipecah kalau memang tidak ada lokasi dengan luas lahan yang cukup. Tapi saat ini kami masih terus mencoba mencari solusi apakah ada lahan yang bisa menampung jumlah itu. Kalau tidak bisa, kemungkinan akan dipecah ke beberapa lokasi,” jelas Sekda yang sudah sejak Sabtu (24/2) dan Minggu (25/2) selalu meninjau lokasi kebakaran.

Saat ini, Pemkot sudah memiliki gambaran beberapa lokasi yang dapat digunakan diantaranya Lapangan Setono, Taman Parkir Patiunus, di belakang pasar darurat Kraton. Pemkot juga melihat kemungkinan menggunakan sepanjang Jalan Mangga hingga Jalan Jeruk sebagai lokasi berdagang yang baru.

Pada Minggu (25/2), ratusan pedagang terpantau masih tetap beraktivitas. Selain di Jalan Mangga hingga Jalan Jeruk, mereka juga menggunakan sebagian Jalan Blimbing untuk membuka dagangannya.

“Kemungkinan kami bisa tutup Jalan Mangga ini khusus untuk pedagang. Berbagai alternatif dan kemungkinan itu masih terus kami kaji dan kami pertimbangkan bagaimana jika diterapkan dan bagaimana dampaknya. Hari ini kami juga langsung berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membicarakan masalah tersebut,” tandasnya.(nul)

Penulis: M Ainul Atho | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments