Radar Batang

Jadilah Muslim yang Kuat agar Kian Manfaat

Pingpong Tazakka

BERI CONTOH – Duo Pimpinan Tazakka, Kiai Anang dan Gus Anizar, beradu pingpong untuk mengisi Jumat pagi kemarin. Para santri Tazakka juga dilatih kuat fisik dengan rutin berolahraga.

BATANG – Menjadi baik saja seringkali tak cukup, sehingga setiap Muslim juga dituntut kuat dalam segala hal. Sebab, jika kebaikan berkelindan dengan kekuatan, hasilnya adalah kemanfaatan yang optimal untuk orang lain.

Pesan itulah yang sering dan berulang disepongangkan Pimpinan Pondok Modern (PM) Tazakka terhadap para santrinya. Tidak hanya dengan ucapan (bil lisan), tetapi juga ketauladanan langsung (bil hal).

Seperti ditunjukkan Jumat (23/2) pagi kemarin, duo Pimpinan Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi MA dan KH Anizar Masyhadi, asyik bermain tenis meja (pingpong) dengan disaksikan beberapa santrinya. Meja pingpong itu telah berusia 1,5 tahun, hasil wakaf Dr Marlinda.

Dua kiai muda yang pernah lama menimba ilmu di Al Azhar Mesir itu ingin menyampaikan pentingnya pola hidup sehat, terlebih jika tuntutan aktivitasnya tinggi.

“Ada ungkapan, akal yang sehat beriringan dengan jasmani yang sehat. Jadi, penting untuk menjadi muslim yang kuat, jadi santri yang sehat dan kuat, jadi guru yang sehat dan kuat,” pesan Kiai Anang.

Kata dia, santri Tazakka tidak cukup hanya dididik untuk menjadi baik, melainkan juga kuat. Sebab dengan kuat itulah kebaikannya tidak hanya untuk diri, tetapi juga memperbaiki orang lain. “Kata Nabi Saw, seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah,” tukas kiai muda itu.

Pun makna kuat kata Kiai Anang memuat segala, baik agama, kesalehan, fisik, intelektual, ekonomi, dan lainnya. Dengan cara itu, maka seorang Muslim akan menjadi sebaik-baik manusia karena kemanfaatannya dirasakan banyak orang. “Kkhoirun naas, anfa’uhum lin naas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain, begitu sabda Nabi Saw,” ucapnya.

Pagi kemarin, usai bermain pingpong, Gus Anizar juga menyempatkan diri bergabung bersama para santri untuk bermain futsal. Pola interaksi Pimpinan Tazakka itu terbilang unik, yakni dengan ketauladanan. Bagaimana mereka berperan di hadapan santrinya pun menyesuaikan situasi, terkadang menjadi sosok guru, tetapi ada saatnya berfungsi sebagai teman bermain dan bahkan menjadi pendengar yang baik atas curahan hati para santri. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo

Facebook Comments