Metro Pekalongan

Korban Terjatuh, Pelaku Injak-injak Dada dan Perut Korban

Korban Terjatuh, Pelaku Injak-injak Dada dan Perut Korban

REKONSTRUKSI – Tersangka memperagakan adegan saat menganiaya Sutomo, warga Binagriya, pada rekonstruksi kasus pembunuhan yang digelar di rumah korban, kemarin (13/2).
WAHYU HIDAYAT / RADAR PEKALONGAN

*Pelaku Pembunuhan Peragakan 25 Adegan
*Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Warga Binagriya

PEKALONGAN – Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Pekalongan Kota menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap Sutomo (84), warga Jalan Karet 707 Perumahan Binagriya, Medono, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Selasa (13/2) siang.

Rekonstruksi ini dilaksanakan di TKP asli, yakni di rumah korban. Pada rekonstruksi ini, ada 25 adegan yang diperagakan tersangka dan sejumlah saksi. Proses rekonstruksi disaksikan pula Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan serta pengacara yang ditunjuk untuk mendampingi tersangka.

Adegan diawali saat korban tiba di rumahnya dengan menumpang sebuah becak. Di belakang korban, tampak tersangka, Muhammad Faruq (33), warga Jenggot, Pekalongan Selatan yang menaiki sepeda motor.

Terungkap bahwa korban kebetulan berpapasan dengan tersangka, tak jauh dari komplek perumahan yang dihuni korban. Kemudian korban mengajak tersangka mampir ke rumahnya. Sebagai informasi, antara tersangka dengan korban sudah saling kenal. Perkenalan terjadi beberapa hari sebelum kejadian. Ketika itu, korban yang menumpang becak milik Sanuri (70), ditabrak seorang pengendara sepeda motor. Tersangka ketika itu menolong korban, dengan membawa korban ke tukang pijat.

Adegan dilanjutkan di teras depan rumah korban. Diperagakan, saat itu korban duduk di kursi yang ada di teras rumah. Demikian pula tersangka. Sedangkan si tukang becak, Sanuri, dimintai tolong korban untuk mengambil galon kosong di dalam rumah korban untuk diisi ulang. Kemudian Sanuri meninggalkan korban dan tersangka.

Berikutnya, diperagakan adegan perbincangan antara korban dengan tersangka. Tersangka menceritakan, pada dialog tersebut, korban mengaku kecewa dengan tukang pijat yang saat itu memijat korban usai korban kecelakaan. “Dia (korban, red) menyalahkan saya. Katanya pijatan tukang pijatnya tidak enak, tapi minta tarif mahal. Dia memarahi saya,” kata tersangka.

Berikutnya, di sela dialog itu, menurut penuturan tersangka, baik korban maupun tersangka mendengar ada suara kucing dari ruang belakang rumah korban. Korban lalu masuk mengecek dan meminta tersangka untuk mengusir kucing tersebut.

Tersangka kemudian masuk ke ruang tengah dan ruang belakang. Di dalam ruangan itu, menurut keterangan tersangka, korban kembali mengungkit-ungkit tukang pijat tadi dan kembali memarahi tersangka. Korban juga memarahi korban karena tidak berhasil menemukan kucing yang dikatakan ada di dalam rumah korban.

Sampai akhirnya, adegan berikutnya, tersangka merasa tiba-tiba dipukul bagian tengkuknya oleh korban. “Dia memukul dua kali. Nggak tahu memukulnya pakai tangan atau pakai apa,” ungkap tersangka.

Atas perlakuan yang diterimanya, tersangka mengaku tersinggung dan emosi. Dia spontan membalikkan badan dan langsung mendorong korban sampai korban terjatuh ke lantai (adegan 13). Tak cukup sampai di situ, tersangka melanjutkan aksinya dengan memukul wajah korban sampai beberapa kali.

Meski korban sudah tidak berdaya, tersangka tak menghentikan aksinya. Tersangka bahkan menginjak-injak bagian perut dan dada korban (adegan 16). Sebelum meninggalkan korban, tersangka mengambil ponsel milik korban yang ada di sisi kanan tubuh korban. Diceritakan bahwa ponsel korban itu jatuh berbarengan ketika korban didorong jatuh ke lantai oleh tersangka. Selanjutnya, tersangka kabur meninggalkan korban menggunakan sepeda motornya.

Adegan rekonstruksi berlanjut dengan kedatangan kembali si tukang becak langganan korban, Sanuri ke rumah korban. Ketika itu korban sudah berhasil bangkit dan terduduk tak berdaya di kursi teras rumah.

Melihat korban bersimbah darah tak berdaya, saksi Sanuri bergegas meninggalkan korban, menuju ke rumah putri korban di daerah Ponolawen, atau sekitar dua kilometer dari rumah korban. “Saat itu pak Tomo (korban, red) minta saya untuk segera ke rumah mbak Wiwin (putri korban, red),” ungkap saksi Sanuri.

Tak lama kemudian putri korban sampai di rumah korban. Melihat sang ayah bersimbah darah dengan beberapa luka, putri korban menjerit minta tolong. Putri korban pun memberitahu para tetangga tentang kondisi korban. Berikutnya, sejumlah tetangga langsung membawa korban ke RSUD Bendan. Sayangnya, setelah beberapa saat menjalani perawatan, nyawa korban tak berhasil diselamatkan.

Proses rekonstruksi ini mendapat penjagaan dari sejumlah anggota Dalmas Polres Pekalongan Kota bersenjata laras panjang. Sejumlah tetangga maupun warga sekitar juga turut menyaksikan jalannya rekonstruksi ini dari depan rumah korban.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu menjelaskan bahwa rekonstruksi dilakukan untuk mengetahui secara detail kronologis sebelum kejadian, saat kejadian, sampai setelah kejadian. “Mulai ketika korban datang naik becak, tersangka juga datang di belakang korban dengan naik motor. Lalu mereka masuk ke rumah korban, terjadi dialog, korban memarahi tersangka, kemudian tersangka dimintai tolong mengusir kucing yang masuk ke dalam rumah korban, sampai kemudian terjadi penganiayaan tersebut,” kata Kapolres.

Kapolres menambahkan, dari rekosntruksi yang telah dilakukan, tidak ada hal-hal baru yang ditemukan. Semua yang diperagakan sama dengan proses pemeriksaan dan BAP yang telah dilakukan penyidik terhadap tersangka maupun saksi.

“Sejauh ini Satreskrim Polres Pekalongan Kota cukup bagus. Semua kronologis yang diceritakan tidak menyimpang dari yang telah direkonstruksikan,” ungkap Kapolres.

Sebagaimana telah diberitakan, Sutomo (84), warga Jalan Karet No 707, Perumahan Binagriya, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan ditemukan oleh sejumlah tetangganya dalam kondisi bersimbah darah di teras depan rumahnya, Rabu (7/2) sekira pukul 15.30 WIB.

Saat ditemukan, kondisi korban cukup mengenaskan dengan sejumlah luka di kepala dan beberapa luka lain di sekujur tubuhnya. Korban kemudian dilarikan ke IGD RSUD Bendan oleh para tetangga untuk mendapat perawatan. Sayangnya, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.

Dari penyelidikan yang dilakukan, akhirnya pada hari Sabtu (10/2), atau tiga hari setelah kejadian, Satreskrim Polres Pekalongan Kota berhasil mengungkap siapa pelaku dibalik tewasnya Sutomo. Pelaku diketahui bernama M Faruq (33), warga Jalan Pelita III, Jenggot, Pekalongan Selatan. Pelaku ditangkap di daerah Warungpring, Pemalang. Selain menangkap tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti antara lain ponsel milik korban, kaos dan sandal milik tersangka yang ada bercak darah korban, serta sepeda motor tersangka. Saat ini tersangka sudah diamankan di sel tahanan mapolres setempat. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 365 ayat (2) KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan dan Pasal 354 ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (way)

Penulis: Wahyu Hidayat | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments