Lain-lain

Bukan Mencintai dalam Diam akan tetapi Mencintai Dalam Doa

Kau bilang, mencintai dalam diam itu menyenangkan. Dari mana? Bagiku tidak sama sekali. Tidak, tidak ada yang menyenangkan mencintai dalam diam. Andai kau tau, dengan cara seperti itu, rasa itu justru tumbuh semakin lebat, memenuhi setiap cabang di hati. Menumbuhkan getar-getar dan gejolak rindu yang tiada henti.

Lalu, bagaimana bisa menyenangkan? Jika setiap menatap rembulan, kesenyapan menjadi gemuruh, malam menjadi badai, dingin memanasi setiap inci hati? Hujan menyanyi-nyanyi luka. Dimana menyenangkannya? Tidak, tidak ada yang menyenangkan mencintai dalam diam. Jujur, dengan seperti itu. Mungkin ada nama-nama yang terus kau pahat di mana-mana. Wajah yang terus kau ceritakan ke siapa-siapa. Kau celotehkan di setiap kata. Ah bukan, itu bukan mencintai dalam diam. Itu adalah cinta yang tak pernah bisa diam. Diam berarti hanya kau yang tau, hanya kau dan Dia yang paham. Ya, itu justru menyiksamu perlahan-lahan. Ia hanya gemuruh yang sendiri, rasa yang menyepi. Sebab ia hanya diam dan tak pernah kau gerakkan. Tak kau kembangkan, tak kau tumbuhkan. Belajarlah untuk melambungkan, agar cintamu tinggi mengepak terbang. Jika cinta adalah doa-doa, maka ku senyapkan segala kata. Kupanjangkan dengan tengadah pinta. Meski diam dan doa hampir sama, hakikatnya ia berbeda.

Mencintaimu dalam diam berarti tak pernah kau gerakkan lisan untuk selalu merapal, tangan untuk menengadah. Maka beda jika kau mencintai dalam doa. Doa berarti kau harus senyap dan khusyu’, tidak diam lalu jatuh menunduk.

Cintailah siapapun dalam doa-doa yang terus menggelora, yang berisiknya mampu menembus langit-langit sana. Diam berarti senyap, maka doa haruslah senyap, dengan getaran lisan hingga kelelahan. Yang senyapnya di dunia tak di indra, tapi di menara-menara surga berisiknya menjelma.

Sumber: hipwee

Editor: Khofifah ( SMK ISTHIFAIYYAH NAHDLIYYAH KOTA PEKALONGAN )

Facebook Comments