Metro Pekalongan

Hapus Batasan Terhadap Anak dengan Pendidikan yang Ceria

“Saat ini banyak anak-anak yang sudah terframing. Mereka dididik tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Cara mendidik anak, dilakukan dengan berbagai batasan, berbagai larangan, anak-anak jadi seperti terkungkung,” tutur Koordinator Sekolah Alam Mahad Islam, Ahmad Ilyas saat membuka perbincangan tentang konsep pendirian sekolah alam, termasuk TK Alam, yang berada di bawah Perguruan Mahad Islam. Ia didampingi Kepala TK Alam, Noor Alimah SPd Aud.

Kondisi itu dikatakan Ilyas yang kemudian menjadi dasar untuk memilih konsep saat mendirikan TK Alam. Proses pendidikan untuk anak, menurutnya tak melulu tentang pembelajaran akademik, tapi juga harus disertai pengembangan fisik, emosi dan kecerdasan. Termasuk adanya proses interaksi dengan lingkungan sekitar juga dinilai menjadi bagian penting dari perkembangan anak.

Konsep itulah yang kemudian diambil dan diterapkan di TK Alam Mahad Islam. Materi ajar yang disampaikan di sekolah tersebut, mungkin tak berbeda dengan TK lain. Namun cara yang diambil TK Alam yang membedakannya. Konsep belajar sambil bermain benar-benar diterapkan setiap hari.

Diawali dengan berdoa pada pukul 08.00, kegiatan akan dilanjutkan dengan memainkan permainan-permainan tradisional sebelum masuk kepada kegiatan inti belajar mengajar. Melalui permainan tradisional, kemampuan berkomunikasi anak dengan sesamanya benar-benar dilatih. Begitu juga jiwa sportifitas dan sosial yang akan ikut terasah. Setidaknya, satu jenis permainan tradisional akan dimainkan selama dua hari. Kali pertama, mereka akan didampingi oleh para guru. Jika sudah terbiasa dengan sistem permainan, mereka akan dilepas. Disanalah akan tercipta komunikasi, diskusi dan adu argumentasi.

“Jadi seringkali disini terjadi komunikasi antar anak-anak sendiri. Karena terkadang aturan atau sebutan dalam permainan ini berbeda di satu kampung dengan kampung lainnya. Disitu anak-anak kemudian berdiskusi, mengusulkan aturan yang biasa diterapkan saat bermain di rumah. Kemudian dari sana para pengajar akan mengarahkan untuk disepakati melalui musyawarah, akan menggunakan aturan yang mana, atau sebutan-sebutan yang mana,” beber Noor Alimah.

Usai bermain dengan permainan tradisional, siswa siswi TK Alam akan dibawa untuk kegiatan belajar mengajar. Namun lagi-lagi, mereka tak harus belajar di dalam kelas. Lokasi belajar, dipilih oleh siswa. Bisa di dalam kelas, di halaman, di gazebo, atau di kebun mini. Dari situ, Noor Alimah mengaku juga mendapatkan banyak pengalaman dan melihat langsung bagaimana anak-anak berinteraksi. Bagaimana rasa ingin tahu anak tumbuh.

“Salah satu contohnya saat belajar di halaman, anak-anak menemukan cacing. Mereka kemudian banyak bertanya, cacing ini tidak punya kaki ya, atau cacing makannya lewat mana, dan pertanyaan lain yang memancing rasa keingintahuan mereka. Disinilah benar-benar tergali keinginan anak, rasa penasaran mereka dan hal lain yang diungkapkan secara alami oleh mereka sendiri,” katanya lagi.

Tepat pukul 11.00, jadwal makan siang tiba. Kegiatan makan siang pun tak dilepaskan dari pendidikan bagi anak-anak. “Makan siang sambil belajar mandiri,” tambahnya. Memang setelah makan siang usai, anak-anak diarahkan untuk menempatkan kembali peralatan makan. Setelahnya, mereka langsung menggosok gigi yang kemudian dilanjutkan sholat dhuhur berjamaah. Kegiatan belajar mengajar dengan konsep itulah yang setiap hari diterapkan di TK Alam. “Kami tidak membuat imej belajar, tapi bermain setiap hari,” ucap Noor Alimah.

Konsep itu juga yang kemudian membuat anak-anak ‘kerasan’. Bahkan tak jarang, mereka meminta pulang lebih lama atau bahkan meminta berangkat pada hari libur. “Sering hari Sabtu ada orang tua anak kesini mengantar anak karena meminta berangkat. Atau anak-anak yang seharusnya pulang jam 11 tapi minta dijemput jam 1 atau jam 2,” tambahnya. Saat ini, kegiatan TK Alam juga ditambah dengan adanya jadwal ‘Home Visit’. Per kelas, secara bergantian akan diajak akan mengunjungi rumah siswa.

Konsep yang diterapkan di TK Alam yang sudah dua tahun menjalankan kegiatan pembelajaran, terbukti memiliki pengaruh besar. Sebagai koordinator sekolah alam, Ahmad Ilyas mendapatkan berbagai hasil pemeriksaan terhadap perkembangan anak. Hasilnya, perkembangan emosi, psikologis dan kecerdasan anak berkembang lebih pesat. Kecerdasan intelektual dan sosial mereka berkembang jauh.

“Sebenarnya pembelajaran disini sama saja. Anak-anak dikenalkan huruf, angka, diberi dan pembelajaran akademis. Tapi caranya memang berbeda. Seluruh kegiatan belajar disini, diajarkan sesuai kurikulum mulai dari kecakapan kasar, kecakapan halus, kognitif, motorik, bahas sosial, emosional dan hubungan personal, sesuai kurikulum semua dapat. Tapi metodologinya saja berbeda, belajar disini tidak harus selalu di dalam kelas,” jelasnya. Ia mengatakan, dengan konsep demikian maka anak-anak akan ‘matang’ ketika lulus dan siap masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Karena menurutnya, semua keinginan dan hasrat untuk bermain sudah sebagian tersalurkan selama di TK.

Setiap tahun, TK Alam membuka tiga kelas pembelajar. Satu untuk Kelompok Belajar (KB), dan dua kelas untuk TK. Jumlah siswanya, total hanya sebanyak 35, yakni 11 siswa KB, 15 siswa TK A dan sembilan siswa TK B. Dikatakan Ilyas, jumlah siswa yang diterima memang tidak banyak agar pembelajaran dapat berlangsung efektif. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments