Metro Pekalongan

‘Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi yang Peduli?’

Maiyang Resmanti

Maiyang Resmanti Siswa SMA 1

Berjuang Wujudkan Hak-hak Anak

Saat ditemui di sekolah tempatnya belajar, SMAN 1 Pekalongan, Maiyang Resmanti (16) masih berseragam lengkap. Tas punggung juga masih dipanggulnya.

Perawakan Maiyang tak jauh berbeda dengan siswa tingkat SMA pada umumnya. Namun siapa sangka gadis yang kini duduk di kelas XI tersebut merupakan salah satu pejuang hak-hak anak dari Kota Pekalongan. Tak main-main, Maiyang yang merupakan Ketua Forum Anak Kota Pekalongan itu, bahkan pernah menjabat sebagai Koordinator Forum Anak Nasional wilayah Jawa Tengah pada 2015 lalu. Di tahun yang sama, Maiyang juga menjabat sebagai Duta Anak Jawa Tengah bidang Pendidikan.

Setelah sedikit berbincang, barulah terlihat kelayakannya mendapatkan kepercayaan tersebut. Cita-citanya tentang pemenuhan hak anak, sangat tinggi. Begitupun segala upaya yang sudah dan ingin ditempuhnya untuk mewujudkan terpenuhinya hak-hak anak di Kota Pekalongan juga layak diacungi jempol.

Menyampaikan aspirasinya di depan Gubernur hingga membacakan suara anak di depan Presiden, sudah pernah dilakukannya. Terakhir, gadis yang hobi melukis itu juga turut menyumbangkan usulan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat kota.

“Anak-anak harus diperjuangkan hak-haknya. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli,” tuturnya saat ditanya motivasi utamanya terjun dalam organisasi perjuangan hak anak.

Maiyang melihat, di Kota Pekalongan saja masih banyak hak anak yang belum terpenuhi. Bahkan, ia juga melihat masih terjadi praktik eksploitasi anak. “Angka eksploitasi anak masih tinggi. Yakni mempekerjakan anak-anak. Termasuk di Kota Pekalongan, yang juga masih ada walaupun tidak begitu banyak,” ungkapnya.

Mengenai hak-hak anak di Kota Pekalongan, ia melihat baru ada satu dua wilayah kelurahan yang sudah ramah anak. Sudah memiliki fasilitas untuk menjamin kegiatan anak. “Targetnya harus seluruh kelurahan menjadi kelurahan ramah anak. Fasilitas kegiatan anak terpenuhi dan seluruh kelurahan harus aman dan nyaman bagi anak,” jelasnya.

Kemudian, Maiyang juga masih ingin mengejar target terbangunnya rumah singgah di Kota Pekalongan. Rumah singgah yang berfungsi untuk merawat, melindungi, memberdayakan dan memberikan wadah bagi anak-anak telantar, diperlukan agar ada satu tempat bagi anak-anak yang kurang beruntung sehingga mereka tetap mendapatkan hak-haknya seperti anak yang lain. Usulan didirikannya rumah singgah, sudah disampaikan Maiyang saat hadir langsung dalam Musrenbang Kota Pekalongan.

“Sudah disampaikan langsung kepada Walikota. Nanti rumah singgah bisa untuk pemberdayaan anak-anak punk misalnya, atau anak-anak lain korban kekerasan. Sehingga mereka ada yang memperhatikan, tidak harus terus di jalanan. Di rumah singgah mereka akan dilindungi, diberdayakan dan dipenuhi hak-haknya sebagai anak. Sejauh ini di Kota Pekalongan belum ada rumah singgah. Hanya ada shelter perlindungan anak yang ada di LP-PAR bagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan atau korban ketidakadilan lainnya,” terang putri pasangan Khaerun dan Alfiah tersebut.

Sosok Pendiam

Menjadi aktifis dan getol memperjuangkan hak-hak anak, sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh Maiyang. Ia bergabung dengan Forum Anak pada tahun 2014 atau saat masih duduk di kelas VIII di SMPN 6. Itupun, setelah Maiyang mendapat dorongan terus-menerus dari guru BP di sekolahnya. Ia mengaku sebelumnya tak pernah mengikuti organisasi apapun.

“Dulu saya gak suka ngomong, anaknya pendiam. Kemudian saya sering konsultasi ke Guru BP di sekolah. Guru BP biasanya kan tahu potensi anak. Nah dari guru BP saya didorong untuk ikut organisasi karena dianggap mempunyai potensi. Akhirnya saya gabung ke Forum Anak dan walaupun baru pertama bergabung saya langsung dipercaya menjadi bendahara,” kisahnya tentang awal bergabung dengan organisasi Forum Anak.

Apa yang disampaikan oleh sang guru BP ternyata terbukti. Sejak bergabung dengan Forum Anak, Maiyang menjadi lebih aktif. Anak pertama dari dua bersaudara itu banyak belajar dari organisasi, termasuk untuk berbicara di depan umum. Ia aktif mensosialisasikan hak anak dalam setiap kesempatan, mengikuti aksi damai stop kekerasan anak hingga bertemu dengan pemegang kebijakan untuk mengusulkan pemenuhan hak-hak anak. Baginya, berjuang mewujudkan hak anak adalah satu tugas dan kewajiban.

“Anak adalah generasi emas bangsa. Sudah selayaknya kita menghargai anak, memberikan fasilitas yang layak bagi anak dan menjaga anak-anak dari berbagai ancaman kekerasan. Karena merekalah yang kelak akan membangun bangsa di masa depan,” tegas Maiyang tentang alasan pentingnya menjaga dan memenuhi hak-hak anak. (*)

Facebook Comments