Nasional

Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Oleh : Dahlan Iskan

SAYA sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) keskala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan disbanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan. Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. TerutamaAzrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istriAzrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

Tatang, suamiIsna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umrah mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bias cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umrah. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.

Sakit saya masih dating pergi. Pergi datang. Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit. “Tidak mungkin kalau malam ini,” jawabsaya. “Tidak kuat.”

Isna kembali utak-atik handphone. “Besok malam ada?” tanyasaya. “Ada juga,” jawab Isna. “Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bias pulang dengan kondisi seperti ini? Berulang-ulang saya yakin kan bahwa saya akan bias sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

Isna mencobang otot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedangsaya, seberapasakit pun, adalah”anakbesar”.

Malam itu, Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombon gandok terdari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus ParamaBambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra PuteraLubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umr 9 hitu: Prof Rowena G. Hoesin, dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebisdan dr Irfani Prajna Paramita.

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokte rseadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman. Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baiksaya di Singapura. Robertlah yang paling tahu riwayat kesehatansaya. Robertlah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robertlah yang merawat saya hamper dua tahun saat saya sakitkan kerhatidulu. Robertlah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Tohini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan. Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (bersambung)

Facebook Comments