Metro Pekalongan

Sebulan Ada 20 rumah Roboh

Rumah Roboh

ROBOH LAGI – Sebuah rumah di Kandang Panjang mengalami roboh, karena diterjang hujan dan angin kencang. Selain itu, kondisi rob yang menggenang di lingkungan sekitar juga membuat rumah menjadi rapuh.
M. AINUL ATHO’

Januari-Februari

Peristiwa rumah roboh bukan lagi menjadi hal baru di Kota Pekalongan. Dalam beberapa hari terakhir, sudah terjadi sejumlah kasus rumah roboh yang disebabkan karena cuaca ekstrim.

Menurut data BPBD dan Kecamatan Utara, selama awal tahun atau Januari sampai Februari ini sudah ada 20 rumah roboh dengan kerusakan, dan penyebab yang beragam. Delapan rumah diantaranya, ada di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara yang sebagian rusak karena kondisi lingkungan yang terus menerus digenangi banjir rob.

Terakhir, sebuah rumah di RT 4 RW 10, Kandang Panjang roboh Senin (12/2) pagi. Seluruh tembok sisi barat rumah milik pasangan Wiwik Sugiyati, dan Muhammad Safari ambruk secara tiba-tiba.

Hujan angin yang hampir setiap hari terjadi ditambah kondisi lingkungan yang terus digenangi rob, membuat tembok rumah menjadi rapuh, hingga akhirnya ambruk sekitar pukul 05.30.

Saat kejadian, hanya Wiwik dan satu anaknya yang berada di dalam rumah. Beruntung, tembok yang roboh hanya di sisi barat saja. Sedangkan kamar tidur seluruhnya berada di sisi timur. “Alhamdulillah anak saya baik-baik saja. Saya hanya terkena batu bata di bagian tangan dan kaki,” tutur Wiwik.

Rumah tersebut sudah lima tahun terakhir dihuni bersama satu anak dan suaminya. Akibat robohnya tembok bagian barat, hampir seluruh peralatan yang digunakan untuk memproduksi usahanya rusak. “Kompor, piring dan peralatan hampir semuanya rusak. Tidak tahu nanti harus bagaimana berjualan,” ujarnya.

Sang suami, Muhammad Safari, bahkan tidak mengetahui rumah miliknya ambruk. Saat kejadian, ia sedang berada di pasar. Berangkat selepas subuh, Safari berbelanja kebutuhan rutin setiap hari untuk berjualan cilok. “Disana ketemu tetangga dan ditanya, kok rumahnya ambruk malah sibuk di pasar,” katanya.

Setelah kejadian itu, untuk sementara ia mengungsikan seluruh keluarga di kediaman orang tuanya. Ia juga belum tahu bagaimana kelanjutan usahanya. “Sementaran ngungsi di rumah ibu. Ya belum tahu sampai kapan, karena untuk jualanpun susah. Kami berharap mendapat bantuan untuk membantu mendirikan kembali rumah ini,” harapnya.

Akibat Rob

Camat Pekalongan Utara, Yos Rosyidi yang ditemui saat meninjau lokasi mengatakan, khusus di Pekalongan Utara mengaku sejak awal tahun lalu sudah ada delapan kejadian rumah roboh. Dua terjadi di Bandengan, empat di Kandang Panjang dan dua lainnya di Krapyak.

Yos menyebut, sebagian besar rumah roboh diakibatkan terendam banjir dan rob dalam jangka waktu yang lama.

Selain itu, ia juga melihat ada beberapa rumah dengan konstruksi yang tidak tepat karena dibangun dengan dana yang minim sehingga tidak memiliki kekuatan. Ketika diterjang cuaca ekstrim maka rumah mudah sekali roboh. “Sebagian besar diakibatkan banjir rob. Karena lama direndam rob tembok menjadi rapuh ditambah hujan lebat, dan angin yang sering terjadi akhir-akhir ini membuat rumah-rumah yang sudah rapuh ini gampang roboh baik sebagian atau seluruhnya,” jelas Yos.

Mantan Camat Pekalongan Timur itu menyatakan, potensi rumah roboh di wilayahnya masih cukup besar. Mengingat sebagian rumah masih berada di kawasan banjir dan rob. Sebagian dari rumah tersebut, juga masuk dalam data Rumah Tak Layak Huni (RTLH). Yos mengungkapkan, di Pekalongan Utara terdapat sebanyak 2009 RTLH yang kemudian dilakukan rehab pada tahun 2017 sebanyak 410 rumah, dan rencana pada 2018 akan dilakukan rehab sebanyak 545 rumah.

Untuk itu, Yos berharap kepada masyarakat yang merasa rumahnya sudah rawan agar segera melaporkannya ke kelurahan. Selain itu, sebagai antisipasi mereka juga diharapkan untuk tidak menghuni rumah pada malam hari. “Untuk yang benar-benar sudah dalam kondisi parah agar lebih baik mengungsi saat tidur,” pesannya. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments