Nasional

Wabup Ngamuk di Depan Bupati

Wabup Ngamuk di Depan Bupati

EMOSIONAL – Wakil Bupati (Wabup) Morowali Utara, Moh Asrar Abd Samad diamankan sejumlah orang saat mengamuk di acara pelantikan sejumlah pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Morowali, Jumat (9/2/2018).
ILHAM NUSI/ RADAR SULTENG

*Sobek Lampiran Nama-nama Pejabat yang Dilantik
*Tak Dilibatkan Soal Mutasi dan Mobil Istri Ditarik

MORUT – Kisruh internal antara pasangan kepala daerah kembali terkuak. Wakil Bupati Morowali Utara Moh Asrar Abd Samad mendadak menghentikan prosesi pelantikan di Ruang Pola Kantor Bupati, Jumat (9/2) sore.

Semula, acara pelantikan 133 pejabat Eselon III dan IV lingkup Pemerintah Kabupaten Morowali Utara berjalan lancar.

Bupati Morut Aptripel Tumimomor dan Wabup Morut Moh Asrar Abd Samad duduk berdampingan. Sejajar mereka ada Pelaksana Sekab Morut Jamaludin Sudin dan Perwira Penghubung Kodim 1311 Morowali Mayor Inf Rais.

Mereka kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama seluruh hadirin di ruangan tersebut.

Sesaat kemudian, petugas Humas dan Protokol Pemkab Morut membacakan nama-nama calon Pengawas dan Admisitrator yang akan dilantik.

Belum sempat mengurai 133 nama terlampir, petugas itu dikejutkan dengan teriakan dari Wabup Asrar.

“Hentikan pelantikan ini,” hardik Wabup sembari menunjuk-nunjuk kearah barisan calon pejabat itu.

Wabup sangat emosi. Ia terus saja berteriak. Sesaat kemudian, Ia turun dan merebut surat lampiran nama-nama calon pejabat dari tangan protokol. Setelah berhasil, Ia langsung menyobeknya. Ia juga menendang meja di ruangan itu hingga terlempar beberapa jauh.

Seorang aparat kepolisian berpakaian preman segera saja merangkul Wabup. Beberapa orang tampak berusaha mendekati Wabup. Beberapa orang lainnya berusaha melindungi Wabup.

Meski terus berontak, Wabup perlahan dapat digiring meninggalkan ruang Pola. Danramil 1311-03 Petasia Kapten Hamzah tampak ikut mengamankan situasi yang kian memanas.

Dibantu aparat kepolisian berseragam dan beberapa orang anggota TNI, Wabup dibawa ke ruang kerjanya. Beberapa orang yang tidak diketahui tampak terus mengikuti.

Belasan menit selanjutnya, Wabup keluar dan melempar foto Bupati yang terpajang dalam ruang kerjannya. Foto terbingkai itu pecah di lantai satu gedung tersebut.

Masih dalam pengawalan petugas keamanan, Wabup kemudian meninggalkan kantor Bupati. Saat tiba di pintu utama, Wabup langsung menuju mobil dinas Bupati, kemudian menendang pintu tengah bagian kiri.

“Hanya di Morut fee proyek 15 persen, minggir-minggir,” sebelum menedang mobil itu dan pergi menuju rumah jabatannya tak jauh dari kantor Bupati.

Beranjak ke ruang Pola, Bupati Aptripel nampaknya tetap tenang. Ratusan calon pejabat itu juga tidak sampai terpengaruh. Bahkan barisan mereka tetap rapi.

Prosesi pelantikan kemudian dilanjutkan. Diwakili tiga pejabat baru dari Islam, Kristen dan Hindu, Bupati kemudian mengambil sumpah jabatan mereka. Usai prosesi itu, Bupati didampingi para kepala OPD setempat disalami 133 pejabat baru.

PEMICU KISRUH

Wabup Morut Moh Asrar Abd Samad, kepada awak media di rujabnya membeberkan inti persoalan. Menurutnya, kemarahan di prosesi pelantikan itu adalah akumulasi persoalan yang dipendamnya sejak dua tahun terakhir.

Wabup menuturkan, ada tiga hal yang membuat emosinya memuncak. Pertama soal pelantikan tanpa pelibatan dirinya. Kedua soal biaya rumah tangganya sebagai pejabat daerah tidak dipenuhi. Ketiga karena mobil dinas istrinya diambil tanpa sepengetahuan Asrar. Selebihnya masih banyak pemicu lainnya.

“Saya baru terima undangan jam sembilan pagi tadi. Tidak pernah sekalipun saya dilibatkan dalam hal penetuan kebijakan pelantikan ini. Sudah tiga kali pelantikan ini tanpa saya ketahui,” jelasnya.

Wabup lantas mengeluh biaya listrik dan air bersih yang ditanggunya sendiri. Padahal biaya itu sudah dianggarkan melalui APBD.

“Bahkan saat saya minta air malah dimintai biaya Rp150 ribu. Belum lagi beli token listrik Rp2 juta. Saat mengambil dana itu saya malah dipersulit,” bebernya.

Terkait mobil dinas yang dimaksudnya, Wabup mengatakan mobil itu sudah dimohonkan untuk operasional di Kecamatan Mamosalato atau daerah asalnya. Sebelumnya, istri Wabup telah menerima pengadaan mobil baru. Otomatis mobil lama yang dimaksudnya ditarik ke bagian asset.

“Epi ambil mobil dinas saya. Itu saya kejar siapa yang menyuruhnya. Saya sudah minta mobil itu untuk operasional di Mamosalato, karena kalau pulang saya tidak bisa bawa mobil kesana,” katanya.

Asrar kemudian menyingkap masalah utama yang membuat hubungannya dengan Aptripel renggang. Menurutnya, orang-orangnya tidak lagi mendapat pekerjaan.

“Siapapun orangnya saya (Wabup) tidak boleh dapat proyek. Ini sudah tidak benar,” imbuhnya.

Meski telah menyebabkan kisruh, Wabup mengaku menyesal atas kejadian itu. Ia pun berharap kejadian itu sebagai pembelajaran di kemudian hari.

“Sesungguhnya saya menyesali kejadian tadi. Tapi itu karena mereka tidak menghargai saya. Walau bagaimanpun saya adalah partner Bupati,” sebut Asrar.

BANTAHAN BUPATI

Bupati Morut Aptripel Tumimomor membantah tudingan soal pengaturan proyek. Ia menegaskan bahwa selama ini hanya mengurus apa yang menjadi tugas dan kewenangnya sebagai kepala daerah.

“Kalian juga tau kalau saya tidak mengurus proyek. Saya hanya bekerja sesuai kewenangan saya,” kata Aptripel kepada awak media sebelum meninggalkan kantor Bupati, Jumat malam.

Bupati kemudian mengapresiasi upaya Kapolres Morowali AKBP Edward Indharmawan EC yang langsung turun tangan. Mediasi yang diinisasi kepolisian itu juga diterimanya.

“Demi kebaikan daerah, saya terima soal mediasi itu. Saya juga mengapresiasi Kapolres yang tanggap dengan situasi tadi,” tandasnya.

Disinggung soal pelantikan, Aptripel kemudian mengarahkan wartawan kepada BKD dan Sekab Morut. Sebab menurutnya, Ia tidak pernah melaksanakan sesuatu tanpa melalui prosedur yang benar.

“Saya tidak berani melanggar prosedur. Saya juga tidak pernah berbuat yang tidak sesuai aturan di sini,” tegasnya.

Terkait tudingan Wabup soal pengangkan hak pengawasan yang diatur oleh Bupati, Ia justru menyebut baru bertemu Asrar kurun waktu setahun ini.

“Dia baru datang hari ini. Inspektorat juga cari-cari dia. Selama ini Inspektorat melapor ke saya bahwa Wabup tidak pernah ada,” jelas Aptripel.

Hingga pukul 21:52 waktu setempat, wartawan Radar Sulteng belum menrima informasi terbaru kapan upaya negosiasi tersebut akan dilakukan. Namun kondisi keamanan berjalan kondusif. (ham)

Facebook Comments